Melepas Alas Kaki
(dikutip dari buku "Tata Cara Ibadah - oleh: Wisnu Prakasa")
Di dalam pembinaan Spiritual, para
umat diwajibkan untuk melepaskan alas kakinya sebelum memasuki tempat
ibadah, altar suci, atau bertemu para Master. Kebiasaan melepas alas kaki,
sebenarnya mengandung makna perlambangan spiritual yang sangat tinggi,
tetapi sangat disayangkan makna spiritual ini tidak lagi banyak diketahui
oleh para Master dan umat pembina spiritual di zaman sekarang.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia mengenakan alas kaki untuk melindungi
kakinya dan menghindari kekotoran yang akan melekat. Sehingga alas kaki
merupakan barang yang penuh dengan kekotoran, karena menjaga kaki kita untuk
selalu bersih. Ketika para umat akan memasuki vihara, para umat di haruskan
untuk melepaskan alas kakinya, juga untuk menjaga kebersihan tempat ibadah,
dari kotoran yang melekat di alas kaki. Sehingga dengan memiliki tempat
ibadah yang bersih, para umat dapat beribadah dan membina kehidupan
spiritual lebih baik lagi.
Selain manfaat umum yang sangat baik ini, melepas alas kaki mempunyai makna
spiritual yang lebih dalam lagi. Menanggalkan alas kaki di luar ruangan
ibadah, merupakan perlambangan agar para umat dapat meninggalkan segala
kekotoran dalam diri dari perbuatan, ucapan dan pikiran. Sehingga para umat
harus mempunyai perbuatan, ucapan, dan pikiran yang bersih dan benar,
sebelum memasuki tempat ibadah, yang memiliki sakralitas untuk beribadah
atau bersujud kepada Yang Maha Suci dan para mahluk suci.
Dengan memahami pentingnya menanggalkan segala kekotoran yang ada baik di
tubuh, perbuatan, ucapan, dan pikiran. Para umat harus dapat menjaga
sakralitas tempat ibadah dengan sebenarnya. Janganlah kita hanya
menanggalkan alas kaki yang terkotorkan oleh unsur dari luar seperti debu
dan tanah saja; tetapi perbuatan, ucapan, dan pikiran kita masih diliputi
oleh kekotoran oleh unsur dari dalam diri sendiri. Untuk itu, ketika
menanggalkan alas kaki sebelum memasuki ruangan ibadah, kita harus memahami
dan menyadari pentingnya untuk turut menanggalkan segala kekotoran tubuh,
perbuatan, ucapan, dan pikiran yang masih melekat di dalam diri.
Jika para umat telah melepaskan segala kekotoran di luar ruang ibadah, maka
para umat yang berada di dalam ruang ibadah tidak akan lagi berbuat,
berkata, dan berpikir yang tidak baik. Sehingga berkelahi, mencuri,
memburukan orang lain, menggosip, berkata kotor atau kasar, benci, iri-hati,
marah, emosi, dsb; tidak lagi dapat melekat di dalam diri. Tetapi sangat
disayangkan, dalam kenyataannya. Saya melihat sendiri para pengurus vihara
yang melepas alas kakinya sebelum memasuki altar suci, tetapi lupa untuk
melepaskan segala kekotoran lainnya. Mereka tidak lagi perduli, sehingga
tetap mengotori perbuatan, ucapan, dan pikirannya, walau berada di dalam
tempat ibadah atau di depan altar suci.
Saya banyak menyaksikan sendiri, para pengurus vihara yang justru di dalam
vihara lebih banyak bergosip, lebih banyak memaki, lebih banyak memiliki
rasa iri, lebih banyak ribut, dan lebih emosi dan terperdaya oleh
pikiran-pikirannya. Para pengurus vihara ini tidak lagi memahami pentingnya
menjaga sakralitas vihara, mereka tidak lagi menyadari telah mengakibatkan
sakralitas vihara tersebut semakin berkurang. Semua dapat terjadi, karena
para pengurus vihara tersebut, tidak lagi memahami makna spiritual dari
melepas alas kaki yang sesungguhnya.
Walaupun sebenarnya, saya sangat berat untuk membuka rahasia ajaran yang
sangat sederhana dari kebiasaan melepas alas kaki sebelum memasuki tempat
ibadah. Maksud saya mengungkapkan ajaran ini, bukan untuk mencela para
pengurus vihara yang demikian. Tetapi saya berusaha mengingatkan para
pengurus vihara untuk dapat lebih memahami ajaran yang sangat sederhana dari
tradisi yang sangat sederhana ini.
Saya mengatakan yang sebenarnya, karena didasarkan rasa ke-Mulia-an yang
tanpa batas terhadap para mahluk, dan demi kebaikan seluruh mahluk. Dimana
Bodhisattva Danau Biru banyak memberikan petunjuk kepada saya secara
langsung, untuk selalu tabah dalam membina diri dan membimbing para mahluk.
Dan juga atas pesan dari Wanita Berjubah Biru bahwa salah satu tugas saya
dalam kehidupan ini, saya harus mengungkapkan dan meluruskan tradisi dan
kebiasaan pembinaan spiritual sehari-hari yang telah kehilangan makna dan
sakralitas spiritualnya.
Dengan mengungkap kembali tradisi dan kebiasaan sehari-hari spiritual para
Master di masa lampau, yang telah kehilangan makna dan sakralitasnya. Saya
siap untuk menerima segala ketidak senangan para pengurus dan umat yang
merasa tersinggung atas kelancangan saya. Walaupun kuping mereka sekarang
panas mendengar ajaran Dharma ini, tetapi saya tetap percaya bahwa setiap
mahluk pada dasarnya memiliki kesadaran yang jernih dan hati nurani yang
mulia. Saya sangat yakin, walau hari ini mereka tidak dapat menerima ajaran
Dharma ini, tetapi dikemudian hari mereka pasti akan terbuka hati nuraninya.
Sebagai pelengkap, saya akan mengungkap satu ajaran rahasia dari melepas
alas kaki sebelum memasuki altar suci. Ajaran ini saya dapatkan langsung
dari Bodhisattva Danau Biru di Vihara Yauw Ce Cin Mu, di Hua-Lian pada tahun
1998.
Ketika bersujud, manusia berarti bersatu
dengan Yang Maha Suci di Langit.
Disini terjadi hubungan spiritual
antara Manusia dan Langit. (Jen-Thien).
Dengan melepas alas kaki, manusia dapat kontak langsung dengan unsur tanah.
Inilah yang dinamakan hubungan
Manusia dan Bumi (Jen-Ti).
Maka melepas alas kaki ketika bersujud, akan
membentuk satu kesatuan hubungan alamiah antara
Langit-Manusia-Bumi (Thien-Jen-Ti) yang tidak terpisahkan.
Masih banyak makna-makna rahasia lainnya dari melepas alas
kaki dan bersujud, yang tidak dapat saya sampaikan disaat secara umum. Hanya
dengan izin dan kuasa dari Yang Maha Suci, saya akan memberitahukan kepada
mereka yang berjodoh dilain kesempatan.
Semoga para umat dapat kembali memahami makna spiritual yang sebenarnya dari
para Master di masa lampau, sehingga sakralitas spiritual akan dapat tetap
terjaga dengan sebaik-baiknya. Pentingnya menjaga sakralitas di dalam tempat
ibadah, sangat baik bagi pembinaan kehidupan spiritual seluruh mahluk.