Awal Renungan
(dikutip dari buku "Pembinaan Kesadaran Bagian 1 - oleh: Wisnu Prakasa")
Bergerak tetapi
tidak melakukan,
ini adalah Tao.
Di zaman sekarang
ini, dimana umur manusia semakin singkat, dan sebagian besar waktu kehidupannya
banyak tersita dalam kesibukan untuk mempertahankan kehidupan dan memenuhi
kebutuhan materi dan kepuasan duniawi. Dengan situasi dan keadaan yang sangat
tidak menguntungkan bagi manusia di zaman ini, mengakibatkan Roda 5 Bunga (Roda
Dharma Mulia) semakin lambat perputarannya.
Kesulitan untuk mendapatkan guru juga
merupakan suatu keadaan yang tidak menguntung, dan banyak manusia hanya terjebak
dengan penampilan luar dari para guru tanpa mengetahui kwalitas ajaran guru.
Walaupun telah menemukan guru sejati, banyak pula yang hanya membanggakan
kehebatan gurunya tanpa menyadari tingkat pencapainya kehidupan spiritualnya.
Banyak pula mereka yang hanya mendebatkan dan mendiskusikan arti dari ajaran
guru dan kitab-kitab suci tanpa melakukan pembinaan dengan giat.
Banyak pula yang hanya membanggakan segala
macam mantra dan ajaran yang didapat dari guru, tanpa benar-benar memahami
intisari ajaran dan membinanya. Akhirnya ajaran-ajaran Dharma, mantra-mantra,
puja-bakti, meditasi hanya dipelajari sebagai topik ilmu pengetahuan umum yang
biasa. Semua ini merupakan karma penghalang, sehingga dirinya tidak lagi
menyadari untuk giat membina apa yang telah diberikan oleh guru.
Telah cukup banyak kitab-kitab Dharma yang
telah dirangkum hingga sekarang ini, akan tetapi karena keterbatasan makna dari
tulisan yang kadang tidak dapat menerangkan makna sesungguhnya. Akhirnya banyak
mahluk hidup yang terjebak dalam lingkaran makna dari tulisannya saja. Hal ini
akhirnya hanya menjadi bahan perdebatan yang tiada habisnya, khususnya bagi
mereka yang hanya menterjemahkan dan mengartikan tulisan kitab-kitab dharma
sebatas alam pikiran mereka tanpa melakukan latihan dan pembinaan.
Para mahluk tidak lagi menyadari makna
kehidupan spiritual. Bilamana para Guru mereka tidak dapat lagi memberi ajaran
dan membimbingnya. Mereka bagaikan sebuah perahu tanpa nahkoda yang
terombang-ambing di tengah samudra, sehingga pada akhirnya perahu ini tidak
dapat menentu lagi arah dan tujuannya. Habis sudah kebanggaan mereka tentang
Matahari dan Bulan (guru dan ajaran), tanpa dapat pernah menjadi Matahari yang
sinarnya selalu menerangi seluruh mahluk di siang hari dan Bulan di malam hari.
Selain itu timbulnya Karma Penghalang dari
dalam diri, sehingga para mahluk hidup selalu menghendaki bukti yang nyata
terlebih dahulu sebelum sadar untuk berlatih giat agar terbebaskan dari
lingkaran samsara dan mencapai Pencerahan Agung. Pencarian bukti ini banyak
menjebak diri mereka sendiri kedalam lingkaran pencarian yang tiada akhirnya.
Mereka tidak lagi menyadari bahwa mereka telah
menghabiskan seluruh waktu dan tenaganya yang sebenarnya hanya untuk memenuhi
kepuasan ego mereka sendiri, sehingga akhirnya tiada lagi waktu yang tersisa
baginya untuk berlatih secara sungguh-sungguh.
Hal ini telah di ingatkan oleh Buddha
Sakyamuni ibarat seorang raja yang terkena panah racun. Raja tersebut hanya
memikirkan siapakah yang memanahnya dan tidak memikirkan untuk menyembuhkan luka
racunnya terlebih dahulu. Akhirnya raja tersebut meninggal akibat racun yang
menyerang tubuhnya.
Lebih parahnya manusia makin tidak perduli
bilamana mereka meninggal, walaupun mereka tidak dapat mencapai kesempurnaan.
Sekarang manusia tidak mengetahui bagaimana menghadapi dan menghitung hidupnya.
Walaupun kehidupan mereka sangat singkat, mereka tidak tahu bagaimana untuk
membina dan bermeditasi. Mereka tidak pernah lagi membina agar dapat terlepas
dari dari lingkaran samsara yang tanpa akhir.
Bunda Mulia Dewi Yauw Ce Cin Mu sangat
prihatin atas para mahluk, dimana mereka telah jatuh kedalam lautan samsara,
sehingga mereka selalu mengalami kelahiran kembali lalu meninggal tiada
hentinya.
Manusia selalu terjebak dalam pilihan yang
sangat sulit yaitu memperjuangkan kehidupan duniawi atau melatih kehidupan
spiritual. Bunda Mulia dengan Cinta Kasih Mulia menurunkan suatu intisari ajaran
dasar yang kiranya sangat membantu agar manusia tidak lagi terpojok oleh pilihan
yang sulit tersebut.
Bunda Mulia Dewi Yauw Ce Cin Mu menurunkan
kembali Ajaran Dasar "Pembinaan Roh Sejati" di Hua Lien. Setelah beberapa abad
sebelumnya, hampir tidak banyak lagi yang menguasai dan mempergunakannya dengan
baik dan benar. Dimasa sekarang ini, Ajaran "Pembinaan Roh Sejati" berkembang
dengan pesatnya di Taiwan, semua ini atas kesediaan para pemegang silsilah
Ajaran "Pembinaan Roh Sejati" membimbing para mahluk untuk membina kehidupan
spiritual.
Ajaran Dasar "Pembinaan Roh Sejati" bagaikan
suatu perahu yang dapat mengantar mahluk hidup mencapai Sorga Danau Jade (Tempat
Kelahiran Pencerahan Agung). Ajaran Dasar "Pembinaan Roh Sejati" sangat penting
sebagai landasan fondasi kehidupan spiritual untuk memutar roda dharma, dan juga
sebagai bukti nyata akan adanya energi spiritual (Spiritual Movement, Gelombang
Energy Spiritual).
Dengan Kemuliaan dan Cinta Kasih yang tanpa batas dari Bunda
Mulia (Dewi Yauw Ce Cin Mu), Bunda Mulia banyak menurunkan ajaran-ajaran mulia,
seperti: Ajaran Pembinaan Roh Sejati dan Pembinaan Kesadaran Sejati.
Ajaran-ajaran mulia dari Bunda Mulia seluruhnya bertujuan untuk membuka Cinta
Kasih Kemuliaan dan Kebijaksanaan Agung, agar dapat membantu para mahluk untuk
keluar dari segala penderitaan. Inilah muzizat dan keajaiban terbesar dari
ajaran mulia dari Bunda Mulia, yaitu menghancurkan segala penderitaan.
— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta
Thien Cun —