Dibulan januari tahun ular, sepasang suami istri yang
cukup berada dari luar kota jakarta, datang beserta anak perempuan yang masih
remaja mengunjungi saya di rumah. Kedatangannya untuk meminta petunjuk dari
Bunda Mulia, atas permasalahan keluarga dan usaha.
Keluarga ini benar-benar takjub akan cara Bunda Mulia membantu para mahluk.
Segala awal permasalah, dapat dijelaskan oleh Bunda Mulia dengan detail. Dan
yang terpenting Bunda Mulia melimpahkan berkah kemulian untuk menyelesaikannya.
Beberapa bulan kemudian, keluarga ini mendatangi saya lagi. Ternyata
kedatangannya, kali ini untuk mengucapkan rasa syukur dan terima kasih atas
bantuan dan petunjuk Bunda Mulia.
Mereka juga membawa beberapa persembahan buah dan bunga, untuk ditaruh di meja altra Bunda Mulia,
sebagai rasa terima kasih. Mereka kemudian menjelaskan bahwa petunjuk yang
didapat sebelumnya, ternyata menjadi kenyataan semua. Begitu banyak bantuan yang
datang, dan tidak diperkirakan. Mereka bahkan mengatakan bahwa kalau tidak
mengalaminya sendiri, rasanya sulit mempercayai.
Saya mengingatkan bahwa semua ini atas berkah Yang Maha Kuasa. Terlebih-lebih
bagi mereka yang mempunyai keyakin, jodoh dan karma baik. Saya hanya sebagai
mahluk perantara, semuanya adalah berkah dari Yang Maha Kuasa.
Setelah berbincang-bincang, tiba-tiba mengeluarkan amplop merah, dan meminta
saya untuk menerima sekedar persembahan mereka ini. Dengan berat hati, saya
menolak persembahan mereka. Mereka tampak sekali sangat kecewa, atas penolakan
saya.
Saya menjelaskan bahwa saya menolak persembahan mereka, karena saya mempunyai
alasan khusus. Saya menjelaskan bahwa rasa terima kasih yang telah mereka
haturkan kepada saya, merupakan persembahan yang tidak ternilai harganya bagi
saya.
Mereka mengatakan sangat berhutang budi kepada saya, dan memaksa agar saya tetap
menerima persembahannya.
Terpaksa saya
menjelaskan, saya tidak melihat persembahan materinya. Jika mereka merasa
berhutang budi, saya meminta mereka mentraktir saya makan saja kali ini.
Mendengar penawaran saya, dengan cepat disetujuinya. Tampak wajah mereka kembali
berseri. Lalu mereka menanyakan makanan apa yang saya sukai, dan dimana. Saya
meminta mereka untuk mentraktir saya makan mie ayam di kelapa gading dekat rumah
saya. Mereka kembali terkejut, tetapi saya cepat-cepat menjelaskan bahwa hari
ini saya hanya ingin makan mie ayam.
Mau tidak mau mereka menuruti kemauan saya, yang mungkin sangat aneh. Saya
kemudian ikut dengan mobil mereka, pergi ke restoran mie ayam. Ketika sampai di
ruko yang menjual mie ayam, tampak mereka agak ragu untuk memasuki ruko kecil ,
walau tampak dengan jelas adanya spanduk penutup matahari yang bertulis 'Mie
Ayam'.
Melihat kecanggungan mereka, saya langsung berinisitif memasuki rumah makan
kecil ini. Di rumah makan ini, saya menghabiskan dua mangkok mie ayam, dan
keluarga itu masing-masing 2 mangkok juga. Setelah selesai makan, suaminya
meminta bonnya. Tertera dengan jelas sebanyak 8 mie ayam dan 4 es teh, dan
jumlah yang harus dibayar tepat seharga Rp. 50.000,-.
Setelah selesai makan saya, mereka mengantarkan saya kembali kerumah. Mereka
juga memohon pamit agar tidak mengganggu saya. Saya mengucapkan terima kasih
atas perhatian dan makan siangnya.
Tiba-tiba sang ibu menangis terisak-isak, saya menjadi kaget melihat sang ibu
menangis terisak-isak. Sang ibu dengan terisak-isak, mencoba menjelaskan bahwa
dirinya sangat terharu terhadap saya. Ternyata seumur hidup, baru kali ini dia
bertemu dengan orang seperti saya. Dan baru kali ini dia benar-benar menyadari
bahwa uang sebesar Rp. 50.000,- sangat berharga dan bermakna bagi dirinya dan
keluarganya. Disaat mereka mengalami kesusahan, banyak teman dan saudara
menjauhinya. Mereka yang mendekatinya, banyak yang hanya memperalatnya belaka.
Mendengar perkataan hati sang ibu, anak perempuannya ikut menangis. Ternyata
bapaknya juga tidak tahan menahan air matanya. Melihat keadaan menjadi penuh air
mata, saya menjadi sedikit ricuh dan kagok menyaksikan dramatis ini.
Saya hanya dapat mengatakan bahwa manusia memiliki jodoh dan karma
masing-masing. Kita yang memiliki karma baik, justru yang harus menunjukan
kebaikan kepada para mahluk lainnya. Sudah menjadi tugas saya, untuk membantu
para mahluk tanpa pamrih.
Saya hanya mengharapkan, benih karma baik yang saya tanam. Dapat dipelihara dan
dilanjuti oleh para mereka yang pernah mendapatkan benih karma baik ini.
Sehingga dari satu benih yang saya tanam, akan tumbuh
dan berkembang menjadi benih-benih lainnya di hati para mahluk.