Tidak Memiliki Keinginan, bukan
berarti Pencapaian Kebahagiaan
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih
SpiritualBagian - Wisnu Prakasa")
Saya adalah
penjual Kebahagian,
Tetapi saya tidak menukarnya dengan apapun.
Saya adalah
penunjuk Kebahagian,
Tetapi saya tidak menunjuk dengan jari.
Saya adalah
penderma Kebahagian,
Tetapi Kebahagian saya tidak berkurang sedikitpun.
Beberapa orang memiliki karma
baik, bagaikan Dewa yang hidup di alam manusia. Dimana segala keinginan
duniawinya dapat dipenuhi. Jangankan masalah uang yang sangat luar biasa
berlimpah, mereka juga memikiki kesehatan yang sangat luar biasa dibanding
orang-orang lainnya.
Rejeki berlimpah dan kesehatan prima, Apalagi yang kurang dalam kehidupan ini ?
Bagi mereka yang tidak mencapai
karma baik yang demikian, mungkin akan berpikir betapa senangnya memiliki karma
baik yang demikian. Hidupnya tentu tidak akan pernah mengalami penderitaan lagi,
karena segala keinginannya dapat dipenuhi, dan terutama sehat lagi.
Saya juga dapat membenarkan,
bahwa mereka yang memiliki karma baik sedemikian luar biasa, seharusnya tidak
lagi banyak merasakan penderitaan, karena segala keinginannya dapat terpenuhi
dengan mudah dan cepatnya.
Hanya saja, banyak pula yang
tidak diketahui oleh para manusia bahwa:
Walau segala Keinginan dapat dipenuhi,
Walau keinginan tidak lagi lama
memperdaya,
Walau
Penderitaan tidak lagi timbul lama.
Tetapi BELUM tentu KEBAHAGIAN yang sebenarnya dapat selalu dicapai.
Walau segala keinginannya dapat
dipenuhi, tetapi tetap saja Kebahagian yang didapat terasa hambar. Walau memang
benar bahwa: "Keinginan" merupakan sumber dari penderitaan, tetapi "Tidak adanya
lagi Penderitaan" bukan merupakan sumber awal dari Kebahagiaan.
Keinginan itu bersumber dari
kemelekatan Pikiran, tetapi Kebahagian yang sebenarnya adalah alamiah dari
keadaan ketidak terikatan Kesadaran dari Pikiran.
Bila dapat memahami Kesadaran
dari kemelekatan Pikiran, maka walau betapa kecil karma baik yang ada, betapa
sedikit materi yang didapati, dan betapa buruk kesehatannya. Semua itu tidak
menjadi penghalang untuk mencapai "Kebahagian", karena Kebahagiaan yang
sebenarnya hanya ada pada Kesadaran itu sendiri.
Bagi mereka yang telah mencapai
Karma Baik yang demikian besar, tetapi tetap merasakan hidupnya tetap hampa dari
Kebahagian. Adalah tidak aneh bila mereka kadang berpikir:
"Kalau bisa, "Kebahagian" akan dibelinya, dengan harga berapapun juga."
— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta
Thien Cun —