Seorang umat menceritakan bahwa tempat dupa
di meja sembahyangnya setiap kali mengalami keanehan. Dimana bekas hio
ditempat dupa tersebut selalu tampak berantakan seperti ada yang memainkannya.
Bekas batang hio yang tersisa banyak yang terputus menjadi tiga bagian, dan
batang-batang hio lainnya banyak pula yang tertanam hingga kedalam abu.
Pada awalnya umat ini berpikir adanya
kemungkinan keponakannya kecilnya yang melakukan. Pada suatu kesempatan dimana
dirinya baru saja bersembayang kejadian ini terulang kembali, sedangkan
keponakan kecilnya tidak lagi tinggal bersamanya.
Lalu umat ini menanyakan kepada pembantu
rumah-tangganya apakah ada yang memberantakan tempat dupanya. Pembantunya juga
memberitahukan bahwa dirinya juga merasa heran bahwa bekas hio yang tersisa
selalu terputus menjadi tiga bagian dan tampak ada yang menekannya hingga
banyak yang berantakan hingga masuk kedalam bekas abu-abunya. Pembantunya juga
mengatakan bahwa keponakan kecil tidak pernah mengganggu meja sembahyangnya,
apalagi memainkan bekas-bekas hio.
Kejadian saat ini merupakan bukti yang
nyata, karena keponakannya tidak lagi tinggal bersamanya. Pembantunya
mengatakan bahwa setelah umat ini bersembahyang, satu jam kemudian pembantunya
melihat bahwa bekas hionya telah menjadi berantakan kembali. Sungguh suatu hal
yang sulit untuk dapat dimengerti secara logika dan ilmiah.
Setelah mendengar ceritanya, saya
menjelaskan kepadanya bahwa hio yang dipasang merupakan salah satu bagian dari
persembahan seperti persembahan 8 Persembahan, persembahan buah, persembahan
bunga, persembahan suara, dsb. Persembahan ini kita berikan sebagai tanda
syukur kita terhadap para Pencapaian Agung dan para mahluk suci, sehingga para
mahluk suci dapat menyalurkannya kepada mahluk lainnya yang membutuhkan.
Mahluk lain yang telah mendapatkan izin kemudian dapat menikmati persembahan
yang ada tersebut. Inilah salah satu makna dari persembahan yang kita taruh di
meja altar.
Para mahluk yang menerima persembahan ini
mempunyai keinginan yang berlainan. Dimana ada mahluk yang merasa terpuaskan
bilamana dapat mendengar bunyi-bunyian, adapula mahluk halus yang menyukai
sari makanan, ada pula yang menyukai wangi-wangian. Semuanya tergantung dari
tingkat pencapaian masing-masing para mahluk. Semakin rendah tingkat
pencapaiannya, maka semakin besar dan banyak keinginan yang harus dipenuhinya.
Saya lalu memohon pentunjuk Bunda Mulia
untuk memberikan bimbingan agar dapat mengerti tentang misteri bekas hio di
altar umat ini. Bunda Mulia lalu menjelaskan bahwa kejadian tersebut merupakan
tanda-tanda yang dibuat oleh para mahluk halus agar umat ini dapat memberikan
tambahan persembahan lainnya yang mereka inginkan.
Para mahluk ini memberikan tanda-tanda
isyarat agar umat ini dapat mencari saya, sehingga keinginan para mahluk halus
dapat diketahui. Ternyata mereka mengharapkan umat ini memberikan persembahan
tambahan berupa wangi-wangian.
Setelah mengetahui permohonan para mahluk
tersebut, Saya lalu menanyakan kepada umat ini apakah dirinya memiliki satu
botol parfum/minyak wangi. Ternyata pemuda ini memiliki banyak macam parfum yang berasal
dari para kliennya di luar negeri. Saya lalu menyarankan kepada umat ini untuk
menambah satu persembahan parfum.
Walaupun dirinya agak bingung dengan apa
yang saya sarankan, karena tidak melihat hubungannya antara batang dupa yang
patah dan parfum. Tetapi karena patahnya batang dupa, juga tidak masuk akal
pikirannya. Maka beliau mencoba untuk menuruti petunjuk dan saran saya.
Ditaruhnya sebotol parfum sebagai persembahan kepada para mahluk suci agar
dapat diberikan kepada para mahluk di alam lain yang membutuhkan
wangi-wangian.
Sejak menaruh persembahan parfum, dirinya
tidak lagi mengalami kejadian aneh yang menimpa tempat dupanya. Sungguh suatu
hal yang sulit dimengerti bagi umat awam yang tidak memahami para mahluk di
alam lainnya.
Walaupun saya dapat memastikan bahwa
kemungkinan besar kejadian ini akan kembali terulang dalam beberapa bulan
kemudian. Para mahluk halus yang menerima persembahan, akan mulai memberikan
tanda-tanda lagi bilamana mereka mulai menginginkan persembahan jenis lainnya.
Sesungguhnya adalah hal yang mudah untuk
mengatasi kejadian-kejadian aneh yang sering terjadi seperti diatas, tetapi
saya lebih menyukai agar para umat yang mengalami kejadian ini dapat mengambil
segi positifnya.
Saya banyak membantu beberapa umat yang
mulai giat bersembahyang, kemudian mereka mengalami kejadian yang serupa
bahkan berulang-ulang. Dengan mengalami kejadian seperti ini, sebenarnya
mereka dapat belajar dan memahami sendiri secara langsung tentang keadaan
dunia spiritual.
Janganlah kaget ataupun takut, walaupun
merasa telah memberikan persembahan selengkap mungkin tetapi masih mengalami
kejadian yang aneh juga. Inilah suatu cara komunikasi yang sangat unik dalam
dunia spiritual. Bersyukur dengan kejadian yang ini, karena kejadian ini
benar-benar membuktikan bahwa dunia spiritual memang nyata dan terlibat
langsung dengan kehidupan kita.
Bagi mereka yang memang tidak menginginkan
atau mengalami kejadian seperti ini, saya memberikan sedikit saran untuk
melakukan pembacaan doa atau mantra "Persembahan Semesta Alam", atau
setidaknya membayangkan bahwa persembahan yang ada dialtar kita menjadi
persembahan yang jumlahnya tidak terhingga banyaknya.
Dengan memberkati segala bersembahan
dialtar, kita telah melipat-gandakan persembahan yang ada, sehingga menjadi
berlipat ganda dan dapat membahagiakan seluruh mahluk di seluruh alam.
Berderma dan
Menyumbang,
menolong para
manusia miskin dan kelaparan.
Melepas binatang
kembali habitatnya,
menolong para
hewan dari kematian.
Membakar kertas
persembahan,
menolong para
mahluk halus yang sengsara.
Memberikan
persembahan buah, bunga, music,
menolong para mahluk halus yang
kelaparan.