Pada suatu kesempatan, seorang umat datang
menanyakan tentang masalah berderma kepada saya.
"Saya telah banyak menyumbang di suatu
vihara, tetapi sekarang saya mengetahui bahwa dana sumbangan dari umat di
vihara tersebut banyak disalah gunakan oleh pengurusnya. Bagaimanakah amal
saya ?" tanyanya dengan nada yang tampak sangat kecewa.
"Anda sungguh mahluk yang mulia, telah
banyak membantu vihara. Jangan khawatir dengan amal anda, semuanya tidak akan
berkurang sedikitpun." Jelas saya.
"Tetapi… bukankah akan menjadi sia-sia
karena disalah gunakan." Ungkapnya lagi dengan nada kekesalan.
"Ketika anda memberikan sumbangan diwaktu
lampau, disaat itu hati anda akan merasakan suatu kegembiraan karena anda
merasa telah berbuat suatu kebajikan. Mungkin dimalam harinya, anda merasakan
suatu kegembiraan yang luar biasa sehingga anda dapat tidur dengan lebih
nyenyak. Apakah anda menyadarinya ?" tanya saya.
"Benar sekali, bilamana saya menyumbang.
Saya merasakan perasaan yang lebih lega dan senang karena merasa dapat
menolong mahluk lain dan membantu vihara." Jawabnya dengan wajah tampak lebih
ceria.
"Itulah salah satu bukti adanya berkah dari
perbuatan amal anda. Sebelumnya anda tidak memperdulikan tentang dana yang
anda berikan, dengan demikian anda benar-benar iklas dalam beramal. Tetapi
sekarang anda mengetahui bahwa dana tersebut disalah gunakan, hal ini
menjadikan suatu penghalang dalam diri anda sehingga anda tidak dapat iklas
lagi dalam beramal." Jelas saya.
"Semua orang pasti tidak rela bilamana
sumbangannya disalah gunakan." protesnya.
"Beramal adalah suatu pembinaan diri yang
bersifat pribadi, dimana rasa keiklasan dalam beramal melebihi jumlah, nilai
dan tujuan amal tersebut. Disaat anda beramal sebelumnya, anda mengakui akan
berkah yang anda rasakan. Setelah anda mengetahui dana-dana tersebut disalah
gunakan, apa yang anda rasakan berkah sebelumnya tersebut dalam sekejab hilang
karena tertutup oleh perasaan kecewa yang timbul. Akhirnya anda tidak dapat
merasakan berkah dari amal anda, bahkan menjadi suatu halangan baru bagi diri
anda untuk beramal lagi."
"……" sang umat hanya berdiam diri.
"Lihatlah matahari yang selalu memberikan
sinarnya setiap hari kepada para mahluk. Tetapi para mahluk tidak pernah
bersyukur ataupun mengucapkan rasa terima kasih kepada matahari yang selalu
memberi. Walaupun demikian, matahari tidak pernah berhenti seharipun untuk
memberikan sinarnya kepada para mahluk. Contohlah matahari yang hanya memberi,
matahari tidak mengharapkan apapun dari para mahluk. Matahari tidak pernah
memperdulikan dengan apa yang telah diberikannya. Jadikanlah diri anda seperti
matahari, apa yang telah anda berikan jangan anda pikirkan lagi. Bersyukurlah
dengan para pengurus vihara tersebut, mereka sebenarnya telah memberikan
ajaran yang luar biasa, agar anda dapat beramal dengan lebih iklas dan tanpa
tujuan." jelas saya.
"Terima kasih, saya benar-benar memahaminya
sekarang." ungkapnya dengan tersenyum.
"Apakah anda masih akan tetap menyumbang ?"
lanjut saya mendadak.
"Selama matahari masih bersinar setiap hari,
saya tidak akan pernah berhenti." jawabnya dengan raut muka gembira dan tampak
wajahnya cerah berseri-seri.
Dalam hati saya bersyukur, ternyata masih banyak mahluk yang
ingin belajar dari alam. Dalam pembinaan kehidupan spiritual, saya dibimbing
oleh guru saya Wanita Berjubah Biru. Dengan bimbingan beliau, saya mempelajari
bagaimana alam selalu memberikan contoh yang nyata dalam pembinaan kehidupan
spiritual. Inilah yang dimaksud dengan kembali ke alam (back to nature). Para
guru besar Tao juga selalu menekankan para muridnya untuk selaras dengan alam,
karena mereka mengetahui bahwa alam adalah salah satu guru sejati para mahluk.