Home
Back
Info Dharma
Galleria

Sumbangan Yang Disalah Gunakan
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih SpiritualBagian 5 -  Wisnu Prakasa")

Pada suatu kesempatan, seorang umat datang menanyakan tentang masalah berderma kepada saya.

"Saya telah banyak menyumbang di suatu vihara, tetapi sekarang saya mengetahui bahwa dana sumbangan dari umat di vihara tersebut banyak disalah gunakan oleh pengurusnya. Bagaimanakah amal saya ?" tanyanya dengan nada yang tampak sangat kecewa.

"Anda sungguh mahluk yang mulia, telah banyak membantu vihara. Jangan khawatir dengan amal anda, semuanya tidak akan berkurang sedikitpun." Jelas saya.

"Tetapi… bukankah akan menjadi sia-sia karena disalah gunakan." Ungkapnya lagi dengan nada kekesalan.

"Ketika anda memberikan sumbangan diwaktu lampau, disaat itu hati anda akan merasakan suatu kegembiraan karena anda merasa telah berbuat suatu kebajikan. Mungkin dimalam harinya, anda merasakan suatu kegembiraan yang luar biasa sehingga anda dapat tidur dengan lebih nyenyak. Apakah anda menyadarinya ?" tanya saya.

"Benar sekali, bilamana saya menyumbang. Saya merasakan perasaan yang lebih lega dan senang karena merasa dapat menolong mahluk lain dan membantu vihara." Jawabnya dengan wajah tampak lebih ceria.

"Itulah salah satu bukti adanya berkah dari perbuatan amal anda. Sebelumnya anda tidak memperdulikan tentang dana yang anda berikan, dengan demikian anda benar-benar iklas dalam beramal. Tetapi sekarang anda mengetahui bahwa dana tersebut disalah gunakan, hal ini menjadikan suatu penghalang dalam diri anda sehingga anda tidak dapat iklas lagi dalam beramal." Jelas saya.

"Semua orang pasti tidak rela bilamana sumbangannya disalah gunakan." protesnya.

"Beramal adalah suatu pembinaan diri yang bersifat pribadi, dimana rasa keiklasan dalam beramal melebihi jumlah, nilai dan tujuan amal tersebut. Disaat anda beramal sebelumnya, anda mengakui akan berkah yang anda rasakan. Setelah anda mengetahui dana-dana tersebut disalah gunakan, apa yang anda rasakan berkah sebelumnya tersebut dalam sekejab hilang karena tertutup oleh perasaan kecewa yang timbul. Akhirnya anda tidak dapat merasakan berkah dari amal anda, bahkan menjadi suatu halangan baru bagi diri anda untuk beramal lagi."

"……" sang umat hanya berdiam diri.

"Lihatlah matahari yang selalu memberikan sinarnya setiap hari kepada para mahluk. Tetapi para mahluk tidak pernah bersyukur ataupun mengucapkan rasa terima kasih kepada matahari yang selalu memberi. Walaupun demikian, matahari tidak pernah berhenti seharipun untuk memberikan sinarnya kepada para mahluk. Contohlah matahari yang hanya memberi, matahari tidak mengharapkan apapun dari para mahluk. Matahari tidak pernah memperdulikan dengan apa yang telah diberikannya. Jadikanlah diri anda seperti matahari, apa yang telah anda berikan jangan anda pikirkan lagi. Bersyukurlah dengan para pengurus vihara tersebut, mereka sebenarnya telah memberikan ajaran yang luar biasa, agar anda dapat beramal dengan lebih iklas dan tanpa tujuan." jelas saya.

"Terima kasih, saya benar-benar memahaminya sekarang." ungkapnya dengan tersenyum.

"Apakah anda masih akan tetap menyumbang ?" lanjut saya mendadak.

"Selama matahari masih bersinar setiap hari, saya tidak akan pernah berhenti." jawabnya dengan raut muka gembira dan tampak wajahnya cerah berseri-seri.

Dalam hati saya bersyukur, ternyata masih banyak mahluk yang ingin belajar dari alam. Dalam pembinaan kehidupan spiritual, saya dibimbing oleh guru saya Wanita Berjubah Biru. Dengan bimbingan beliau, saya mempelajari bagaimana alam selalu memberikan contoh yang nyata dalam pembinaan kehidupan spiritual. Inilah yang dimaksud dengan kembali ke alam (back to nature). Para guru besar Tao juga selalu menekankan para muridnya untuk selaras dengan alam, karena mereka mengetahui bahwa alam adalah salah satu guru sejati para mahluk.

 

— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta Thien Cun —

 


  Dharma Center 'BUNDA MULIA' 
Jakarta, INDONESIA

  Vihara 'Yauw Ce Cin-Mu'  
Hua Lien, TAIWAN.

Copyright © 2001 Yayasan Dharma Mulia Persada Indonesia. All rights reserved.