Home
Back
Info Dharma
Galleria

Sudah Tua, Tahu Sendiri
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih Spiritual Bagian XI : Wisnu Prakasa")

Banyak sekali para umat yang datang kepada saya, dan memohon kepada saya untuk mencoba menjadi penengah diantara para kelompok umat. Permintaan para umat ini, memang demikian mulia, dan demi kesatuan dan persatuan umat bersama. Tetapi sangat disayangkan, permohonan dan permintaan yang demikian, tidak dapat saya penuhi. Dimana dalam membantu para mahluk, saya telah menarik garis pemisah, antara urusan pembinaan spiritual dan urusan pribadi para mahluk.

Sesuai dengan petunjuk dan tugas yang saya dapatkan dari Bunda Mulia, bagi para umat yang membutuhkan bantuan pembinaan spiritual, saya akan berusaha membantu para umat dengan sepenuh hati dan sesuai dengan kemampuan saya. Tetapi, bila menyangkut masalah pribadi dari umat tersebut. Saya tidak mempunyai tanggung jawab dan kewajiban harus membantunya. Terlebih-lebih bila urusan pribadinya, menyangkut hal-hal duniawi, seperti: keributan, harta, uang, jabatan, nama, gelar, kedudukan, iri, dengki, kebohongan, kemunafikan, dsb.

Dengan dasar ini, maka dengan tegas saya tidak akan menanggapi masalah keributan pribadi antara orang maupun kelompok, walau dengan alasan persatuan umat atau sangha sekalipun. Saya yakin, sebagai pembina spiritual yang telah memiliki banyak Guru pembimbing dan mendapatkan berbagai macam Ajaran Dharma, seharusnya mereka sadar dengan sendirinya akan pikiran, ucapan, dan perbuatan yang mereka lakukan.

Timbulnya pertengkaran dan keributan antar kelompok umat di Vihara,  sebenarnya merupakan masalah pertengkaran pribadi dan ego masing-masing. Dan bila diakui sejujurnya, sumber pertengkaran mereka tidak akan jauh sumbernya dari rasa iri hati dan saling dengki yang memperdaya mereka.  Tetapi yang sungguh-sungguh aneh dan luar biasa bagi saya, mereka yang saling ribut itu, adalah umat yang umurnya jauh lebih tua saya. Jika dipikir-pikir, mereka telah memegang dupa jauh lebih lama dan lebih banyak dari saya, bahkan sebelum saya lahir, mereka sudah mencium harumnya dupa.

Bukankah seharusnya mereka lebih memiliki pengalaman yang lebih luas untuk membedakan salah dan benar, baik dan buruk, jujur dan dusta. Dan bukankah seharusnya, mereka sudah jauh lebih banyak merasakan asam-garam, dan pahit-manisnya kehidupan di dunia ini. Jadi sumber pertengkaran yang terjadi, seharusnya dapat disadari. Umur sudah tua, salah dan benar seharusnya masing-masing tahu diri dan saling mengalah. Rambut sudah memutih dan rontok, seharusnya mereka malu dengan yang lebih muda.

“Semua pertengkaran adalah salah, karena pertengkaran adalah pikiran yang tidak lagi dapat membedakan baik dan benar, pikiran yang tidak lagi dapat membedakan jujur dan dusta, dan pikiran yang dipenuhi oleh emosi dan amarah.”

— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta Thien Cun —

 


  Dharma Center 'BUNDA MULIA' 
Jakarta, INDONESIA

  Vihara 'Yauw Ce Cin-Mu'  
Hua Lien, TAIWAN.

Copyright © 2001 Yayasan Dharma Mulia Persada Indonesia. All rights reserved.