Seekor Semut
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih
SpiritualBagian 16 - Wisnu Prakasa")
Dalam perjamuan makan malam, yang dihadiri oleh seorang
Guru Besar Spiritual dan para umatnya. Tiba-tiba seekor semut merayap keatas
meja, dan mengarah pada sebuah piring yang berisi beberapa potong kue.
Seorang umat yang paling dekat dengan semut tersebut secara
alamiah, tampak langsung berinisiatif untuk berbuat sesuatu terhadap semut
tersebut.
Sang Guru langsung berkata kepada umatnya, “Jangan dibunuh,
tapi pindahkan saja kebawah meja. Kita juga harus menghindari perbuatan
membunuh, walau terhadap seekor semut kecil sekalipun.”
Mendengar peringatan Gurunya, murid tersebut dengan
perlahan-lahan sekali berusaha memindahkan semut tersebut kebawah meja.
Melihat kejadian yang demikian, para murid lainnya merasa
bangga akan perbuatan mulia dari Guru mereka yang telah memberikan contoh yang
luar biasa. Terlebih-lebih murid yang memindahkan semut tersebut, karena telah
terselamatkan dari perbuatan yang buruk, menjadi perbuatan yang Mulia.
Tampak diseberang meja, ada seorang anak kecil yang sejak
awal memperhatikan apa yang terjadi dari awal hingga akhir akan kejadian semut
tersebut.
Tiba-tiba sang anak berkata kepada Ibunya, “Mama, Orang ini
kok pelit sekali. Seekor semut yang ingin memakan secuil kue saja engga dikasih.
Padahal kue mereka banyak sekali.”
Mendengar komentar anaknya yang sangat tidak terduga, muka
sang ibu langsung sangat merah karena malu. Sang ibu langsung berkata kepada
anaknya, “Bukannya pelit, tapi bila semut tersebut menyentuh makanan kita. Nanti
makanan itu akan menjadi kotor dan mengandung bibit penyakit. Dan, kita semua
tentu akan menjadi sakit…….. Sudah, kamu habiskan saja makanan kamu. Jangan
mengganggu orang lain.”
Rupanya Guru tersebut mendengar juga apa yang dikatakan
oleh sang anak, dan apa yang dijelaskan sang ibu.
Dalam hati dirinya mengakui, bahwa ketika dirinya melarang
umatnya untuk membunuh semut tersebut. Dirinya memang merasa kasihan terhadap
sang semut, dan juga untuk mencegah umatnya melakukan perbuatan membunuh.
Kemudian, dirinya langsung terbayang bahwa betapa susahnya
perjuangan sang semut. Semut tersebut berani mengambil resiko dan bersusah
payah untuk naik keatas meja, hanya untuk mendapatkan sisa-sisa makanan yang
sangat tidak berarti bagi manusia. Tetapi apa yang diperbuat manusia, mereka
kadang langsung membunuhnya. Dan walau memindahkannya semut ketempat lain,
mereka tidak perduli betapa besar resiko dan susah perjuangan semut tersebut,
hanya demi sisa makanan yang tidak berarti.
Seketika itu juga, dengan mendadak sang Guru berkata,
“Tolong cari kembali semut tersebut !”. Serentak para muridnya langsung
berjongkok dan mencari-cari dibawah meja.
Melihat para muridnya, yang langsung menghilang kebawah
meja. Sang Guru langsung terbahak-bahak dan berkata,”Ha..ha..ha..ha, anak kecil
dan seekor semut kecil ternyata dapat menjadi Guru yang terbaik.”
Mendengar tertawaan dan perkataan Guru mereka yang
demikian, semua muridnya saling memandang satu dengan lainnya, sambil
kebingungan.
Tampak diseberang meja, terdengar lagi suara seorang anak
kecil yang tertawa sambil berkata, “ha..ha..ha… Mama lucu deh. Sekarang semuanya lagi
pada sembunyi dibawah meja, kaya si Benji.”
Moral dari kisah ini, tidak saya jelaskan secara
terperinci. Kiranya saya serahkan masing-masing kepada para pembaca.
— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta
Thien Cun —