Sakit Tetapi Tidak Menderita
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih
Spiritual Bagian
7 - oleh: Wisnu Prakasa")
Sakit atau tidak sakit adalah sama.
Menderita dan tidak menderita adalah berbeda.
Bila para mahluk telah memahaminya,
maka dirinya baru dapat mengatakan bahwa:
"Saya sakit tetapi tidak menderita.".
Banyak mahluk yang mengatakan bahwa dirinya sakit tetapi tidak
menderita. Tetapi sangat disayangkan hanya sedikit yang memahami apa yang
dikatakannya.
Sakit adalah suatu bagian dari alamiah kehidupan, seperti
yang diingatkan oleh Budha Shakyamuni bahwa para mahluk akan mengalami sakit,
usia tua, dan kematian. Inilah Kebenaran alamiah kehidupan yang harus dipahami
para mahluk.
Ketika pikiran para mahluk mulai membayangi dan tidak lagi
dapat menerima keadaan yang sesungguhnya, maka penderitaan mulai timbul.
Sehingga mereka yang telah sakit ini akan menjadi lebih sakit lagi, yaitu
menderita akibat pikiran yang tidak dapat menerima keadaannya.
Banyak mahluk terus melawan penderitaannya, mereka
memaksakan seolah-olah tidak menderita. Walau pada awalnya mereka dapat
merasakan bahwa mereka benar-benar tidak menderita, tetapi mereka tidak
memahami dampak lainnya. Ingatlah bahwa penjelmaan gambaran pikiran sangat
luar biasa dan tidak terbatas.
Mereka memang dapat merasakan sakit tetapi tidak menderita,
tetapi mereka tidak mengetahui bahwa gambaran pikirannya telah berdampak lain
pada mereka. Saya kembali mengingatkan kepada para mahluk akan dampak lain
dari pikiran yang biasa akan menjelma menjadi unsur-unsur negatif pada hal
lainnya.
Penjelmaan pikiran ini kadang mudah dipahami, dan kadang
sulit dipahami. Untuk ini saya mengajak kembali seluruh mahluk yang
menjalankan pembinaan kehidupan spiritual untuk merenungkan kembali. Janganlah
kita dengan gampangnya berkata dan menganggap bahwa telah berhasil mengalahkan
segala penderitaan, mengalahkan semua keinginan, mengalahkan gambaran-gambaran
pikiran yang timbul, mengalahkan keterikatan pikiran yang melekat, dsb.
Mungkin kita merasa telah berhasil mengalahkan penderitaan
atau mengalahkan keterikatan pikiran. Dengan menerima keadaan tubuh yang
sedang sakit maka kita dapat terbebaskan dari penderitaan. Kita memahami
penyakit yang kita alami, maka penyakit ini tidak dapat menjadikan diri kita
harus menderita.
Pencapaian ini memang sangat benar, Kita memang tidak lagi
menderita oleh keadaan tubuh yang sakit. Kita telah memahami bahwa sakit,
adalah alamiah yang pasti dihadapi oleh setiap mahluk. Bahkan Buddha Sidharta
juga mengalami sakit, sebelum meninggalkan dunia ini.
Saya hanya ingin bertanya: Apakah kita merasa bahwa
sekarang lebih mudah terbawa emosi sehingga cepat marah, tersinggung, dsb ?
Berhati-hatilah, jika masih demikian. Dimana kita
sebenarnya belum mencapai apa yang dinamakan "Sakit tetapi tidak
menderita" yang sebenarnya. Kita hanya baru mencapai tahap menahan
penderitaan, tetapi pikiran masih tetap memperdaya. Pahamilah bahwa penjelmaan
pikiran yang tidak terhingga, juga merupakan alamiah dalam kehidupan ini.
Pencapaian yang sesungguhnya, bukan dengan menahan atau
melawan penderitaan.
Bila kesadaran selalu jernih,
maka keterikatan pikiran tidak
akan timbul.
Jika pikiran tidak lagi timbul,
maka penderitaan tidak mungkin
ada.
Bila penderitaan tidak ada,
maka tidak ada yang ditahan atau
dilawan.
Jika tidak ada yang ditahan dan dilawan,
maka sakit dan tidak sakit adalah
sama.
Sakit atau tidak sakit adalah sama.
Menderita dan tidak menderita adalah berbeda.
Semua mahluk
sakit,
semua mahluk tua,
semua mahluk meninggal.
Yang tersisa hanya Kesadaran yang jernih.