
Percaya
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih
Spiritual Bagian 7
- oleh: Wisnu Prakasa")
Bukan suatu masalah bila
kita tidak percaya kepada Sang Maha Pencipta.
Tetapi yang menjadi masalah sebenarnya apabila Sang Maha Pencipta
tidak lagi
memberikan kesempatan kepada kita untuk percaya.
( Singapore, 1 March 2000)
Manusia mempunyai akal budi untuk mengetahui kebenaran dari
ketidak tahuan dan terlepas dari kebodohan, tetapi sangat disayangkan apa yang
manusia terima hanya sebatas apa yang dapat dirasakan oleh panca indera tubuh
fisiknya semata. Walaupun tubuh fisik dan panca indera semakin tua akan
semakin melemah dan akhirnya akan mati, tetapi manusia tetap bersikeras untuk
mempercayainya sebagai pedoman hidupnya.
Para manusia mengetahuinya ketidak abadian tubuh dan panca
inderanya, tetapi sangat disayangkan pengetahuan ini tidak dihayati lebih
dalam lagi. Akhirnya kebenaran pengetahuan umum ini hanya menjadi
ketidak-tahuan, dan para manusia hanya percaya kepada panca indera tubuhnya
yang tidak abadi.
Para manusia hanya percaya dengan sebatas apa yang dapat
mereka lihat, cium, dengar, dan rasakan. Sehingga suara batin yang alamiah
dari semesta alam tidak lagi dihayati dan dipercaya. Manusia semakin lama
semakin sedikit yang dapat mendengar suara hati nuraninya, dimana hati nurani
yang sesungguhnya adalah bisikan dari suara alamiah semesta alam yang berasal
Yang Maha Kuasa.
Suara hati nurani manusia pada awalnya selalu yang jernih,
dimana setiap kali manusia ingin berbuat suatu kejahatan maka suara batin akan
berbisik untuk memberitahukan bahwa perbuatan ini adalah perbuatan buruk yang
akan menghasilkan karma buruk, dan Yang Maha Kuasa selalu mengetahuinya.
Tetapi sangat disayangkan bahwa banyak manusia yang dapat mendengar suara
bisikan batinnya tetapi tetap menolak dan tidak mempercayai bisikan suara hati
nuraninya.
Manusia membohongi dirinya dengan memaksa dirinya untuk
percaya dan menerima bahwa tidak ada yang mengetahui perbuatannya hanya karena
dirinya tidak melihat mahluk lainnya, sehingga secara perlahan-lahan mereka
telah menolak suara batinnya akan kepercayaan kepada Yang Maha Mengetahui.
Pikirannya selalu memperdaya manusia untuk hanya mempercayai panca inderanya,
dan menolak suara hati nuraninya.
Sehingga semakin hari, para manusia semakin angkuh dan
sombong hanya karena merasa semakin lebih pandai telah memahami apa yang
dipelajari dan diketahui oleh panca-inderanya. Tetapi manusia tidak lagi
menyadari bahwa semakin hari kesempatan yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa
untuk percaya kepadaNya semakin singkat.
Setiap saat para manusia tidak menyadari bahwa
kesempatannya untuk membina kehidupan spiritualnya agar mencapai kehidupan
abadi dan bersatu kembali kepada Yang Maha Kuasa semakin berkurang. Sehingga
ketika menyadari bahwa tubuh dan panca-inderanya tidak lagi dapat diandalkan
untuk menghadapi kematiannya, para manusia mendadak menyesali kesalahan
pandangan hidupnya. Tetapi sangat disayangkan penyesalan selalu datang
terlambat karena semesta alam tidak lagi dapat memberikan kesempatan
kepadanya.