Jangan membunuh,
Jangan mencuri,
Jangan berbohong,
..........
............
dan masih banyak larangan dan aturan lainnya
yang harus dipatuhi.
Walaupun semua manusia selalu berusaha untuk
tidak berbuat demikian, tetapi tidak semua manusia mempunyai dasar dan motifasi
yang sama.
Banyak manusia yang mematuhi larangan tersebut
hanya demi mencapai suatu tujuan tertentu, mereka tidak melakukan perbuatan
tersebut hanya untuk kepentingan pribadi. Semua aturan dan larangan dipatuhi
mereka, demi mengejar dan menjaga status sosial agar selalu dinilai sebagai
orang baik.
Larangan ini sebagai standar untuk membedakan
antara baik dan buruk. Akhirnya tanpa disadari semakin banyak manusia yang
selalu berusaha untuk menutupi keburukannya dan saling menonjolkan kebaikan demi
kepentingan pribadi.
Banyak manusia yang mematuhi larangan tersebut
hanya karena berdasarkan unsur luar. Mereka terpaksa melakukannya karena merasa
takut dan malu. Ketika mereka telah melanggar apa yang telah dilarang, mereka
akan merasakan suatu perasaan menyesal, ketakutan, malu, bersalah. Adapula
yang merasa ketakutan hanya karena khawatir perbuatannya diketahui oleh yang
lain, sehingga takut mendapatkan hukuman, denda, nama yang tercemar, dan
sebagainya. Masih banyak tujuan-tujuan lainnya yang tidak dapat disebutkan satu
persatu.
Mereka berlaku bagaikan seorang anak kecil.
Dimana seorang anak kecil takut melakukan perbuatan buruk karena merasa takut
akan hukuman dari orang tua. Seorang anak kecil memang tidak melakukan perbuatan
buruk, tetapi niat mereka bukan berawal dari kesadarannya sendiri. Dimana
seorang anak kecil akan mentaati aturan karena rasa takut akan mendapatkan
hukuman dari orang tuanya.
Demikian pula dengan mereka yang tidak
melakukan perbuatan yang tidak baik kadang juga mempunyai tujuan
untuk kepentingan pribadinya, sebagai contoh: dimana mereka memberikan sedekah
kepada fakir miskin agar mendapatkan balasan berkah dan rejeki dari Yang Maha
Kuasa. Adapula yang memberikan sedekah agar dikenal sebagai seorang yang
derwaman, dan adapula yang mengharapkan predikat dan posisi tertentu dalam
menyumbang.
Perbuatan mereka bagaikan perbuatan seorang
anak kecil. Dimana anak kecil akan belajar lebih giat, karena mengharapkan
hadiah yang telah dijanjikan oleh orang tuanya bila mendapatkan hasil ulangan
yang baik. Anak kecil ini tidak menyadari bahwa belajar yang baik akan lebih
bermanfaat bagi dirinya dibandingkan hadiah yang dijanjikan orang tuanya.
Inilah adalah kesalah-pahaman terbesar
sepanjang sejarah manusia, dimana apa yang diperbuat manusia selalu diikuti
dengan kepentingan untuk kepentingan dirinya. Keinginan yang timbul ini sebenarnya
merupakan salah satu bentuk perwujudan dari gambaran keinginan yang timbul dari
pikiran.
Bilamana kita telah mengetahui sumber dari
pada keinginan, maka segala perbuatan kita tidak lagi terpengaruh oleh segala
gambaran keinginan. Sehingga apa yang kita perbuat akan berjalan sebagaimana
mestinya tanpa didasari lagi dengan tujuan tertentu yang mengharapkan hasil demi
kepentingan diri sendiri.
"Bilamana kita memberi dengan tangan kanan,
sebaiknya tangan kiri tidak mengetahuinya.". Sungguh suatu ungkapan yang sangat
besar sekali maknanya, dimana hal ini mengajarkan manusia untuk selalu berbuat
tanpa harus mempunyai tujuan tertentu sebatas kepentingan diri sendiri saja.
Semua orang telah mengetahui norma-norma
kehidupan, dimana manusia harus berbuat baik dan menghindari perbuatan buruk.
Bila kita pahami lebih lanjut, betapa pandainya kita dalam mengenal segala
pengetahuan tentang norma-norma kehidupan tersebut. Setiap saat kita selalu
membaca tentang ajaran untuk berbuat kebaikan dan menghindari perbuatan buruk.
Tetapi jujurlah untuk menjawab, berapa besar yang telah kita lakukan dan perbuat
tanpa didasari oleh tujuan pribadi ?
Ajaran tentang norma-norma kehidupan dibuat
karena manusia tidak lagi dapat menjaga dan memegang teguh akan norma-norma
kehidupan. Ajaran ini dibuat untuk membantu manusia dalam menjaga keharmonisan
didalam kehidupan bermasyarakat dan membina kehidupan spiritual. Semakin banyak
norma-norma kehidupan yang diabaikan oleh manusia, semakin banyak aturan
larangan yang harus dibuat untuk menjaga norma-norma kehidupan manusia.
Selanjutnya, ajaran tentang norma-norma
kehidupan hanya dianggap sebagai ilmu pengetahuan umum yang biasa didalam
masyarakat. Manusia tidak lagi giat belajar dan berlatih untuk memahami ajaran
tersebut, tetapi mereka terjerat untuk saling menbandingkan pengetahuannya
masing-masing. Sehingga waktu mereka banyak terbuang dengan percuma tanpa dapat
memetik manfaatnya dari ajaran-ajaran tersebut.
Bilamana kita telah memahaminya, maka kita
akan menyadari bahwa sesungguhnya petunjuk larangan itu memang sudah sepantasnya
kita patuhi. Demikian pula dengan ajaran tentang norma-norma kehidupan, sudah
sepantasnya kita laksanakan. Semua ini kita lakukan bukan berdasarkan untuk
kepentingan pribadi, tetapi semua yang kita lakukan karena memang telah menjadi
bagian yang tidak dapat terpisahkan dari kesadaran alamiah dan kehidupan sebagai
mahluk spiritual.
Berbuatlah seperti matahari yang menyinari bumi tanpa
mempunyai tujuan atau mengharapkan apapun, semua ini berlangsung karena
memang sifat alamiah dari matahari yang mempunyai cahaya untuk menyinari.
Bagaikan matahari yang memberikan cahaya kepada pohon apel, tetapi matahari
tidak pernah meminta dan mengharapkan pamrih disaat pohon apel tersebut telah
berbuah.