Permohonan Sang Ular
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih
SpiritualBagian 14
- Wisnu Prakasa")
Kisah ini saya angkat dari cerita guru saya, Wanita Berjubah Biru, di bulan
nopember 1995. Saat kedatangan beliau ke Indonesia untuk memberikan ajaran dan
bimbingan kehidupan spiritual saya, selain itu beliau juga banyak membantu para
mahluk dari segala penderitaan.
Di saat Wanita Berjubah Biru mengadakan ziarah ke negeri China, beliau
beristirahat di suatu lembah yang sunyi jauh dari keramaian penduduk (tempat dan
wilayah tidak dituliskan untuk menghindari hal-hal tertentu).
Beliau mendapat kunjungan seekor ular yang telah lama bertapa di gunung
tersebut. Ular ini bersembah sujud untuk memohon bimbingan spiritual tentang
cita-citanya menjadi naga yang hingga kini belum dapat tercapai.
Sang ular merasa telah menjalankan segala aturan dan petunjuk yang telah
diwarisinya turun-temurun dari nenek moyangnya. Walaupun telah belatih dan
bermeditasi selama beratus-ratus tahun, namun hingga saat ini masih belum
menampakkan tanda-tanda akan keberhasilan dari pembinaannya dalam mencapai
tingkat naga.
Begitu tulusnya permohonan ular ini, sehingga Wanita Berjubah Biru merasa
tersentuh juga hatinya terhadap permohonan sang ular. Beliau kemudian memohon
izin dan petunjuk kepada Bunda Mulia agar dapat membantu sang ular ini. Ternyata
Bunda Mulia mengizinkan Wanita Berjubah Biru untuk menolong sang ular.
Kemudian Wanita Berjubah Biru melihat dengan Penglihatan dan Kebijaksanaan
beliau yang telah mencapai tingkat tanpa batas. Sehingga tampak olehnya dengan
jelas segala latihan dan pembinaan yang telah dijalani oleh ular ini selama
beratus-ratus tahun hingga kehidupan-kehidupan lampaunya. Beliau mengetahui
bahwa seharusnya seluruh berkah dan hasil pembinaannya sudah dapat mencapai
tahap awal yang dicita-citakannya.
Wanita Berjubah Biru memahami kendala yang menghambat latihan spiritual sang
ular. Kemudian, Beliau tanpa basa-basi langsung menyuruh sang ular untuk
langsung membuka mulutnya lebar-lebar. Sang ular langsung menuruti permintaan
Wanita Berjubah Biru untuk membuka mulutnya lebar-lebar. Seketiak itu juga,
tampak sinar kemilauan yang berasal dari dalam mulut sang ular. Lalu Wanita Berjubah Biru, meminta sang ular untuk memberikan mustika yang terdapat di dalam
mulutnya.
Sang Ular sangat terkejut atas permintaan yang tidak terduga-duga dari Wanita Berjubah Biru. Dirinya merasa sangat keberatan untuk memenuhi permintaan beliau
yang ini.
Mustika ini sangat berharga bagi dirinya. Mustika ini hasil satu-satunya yang
didapat selama bermeditasi beratus-ratus tahun, dan sekarang Wanita Berjubah Biru menyuruhnya untuk melepaskan mustika kebanggaannya.
Sang ular langsung bersembah sujud kembali dihadap beliau, dan memohon maaf
karena tidak dapat memenuhi permintaan beliau untuk melepaskan mustika
kebanggaannya. Sang ular memohon agar mustika ini jangan diminta, dan dirinya
berjanji untuk memenuhi apapun permintaan-permintaan lainnya dari beliau asalkan
dirinya tidak disuruh untuk melepaskan mustika kebanggaannya ini.
Dengan wajah yang sangat memelas, sang ular menjelaskan betapa berharganya
mustika ini bagi dirinya. Selain memiliki bentuk dan sinar yang luar biasa
indahnya, mustika ini memberikan banyak bantuan dan kekuatan mistis lainnya.
Dengan adanya mustika ini, dirinya sangat dihormati bahkan disegani oleh
pengikut-pengikutnya dan manusia (masyarakat sekitarnya).
Dirinya sangat khawatir bilamana mustika ini harus lepas darinya. Sang ular
memahami bahwa tanpa mustika ini, dirinya pasti tidak lagi dihormati maupun
disegani oleh yang lainnya. Mustika ini telah menyatu dan identik pribadinya.
Dan merupakan satu-satunya sumber kebanggaan utama bagi dirinya.
Dengan adanya mustika ini, bila sang ular keluar dari tempat pertapaannya pada
malam hari. Maka cahaya kemilauan yang terpancar dari mustikanya akan bersinar
hingga sekitarnya, bahkan cahaya mustika ini kadang dapat terlihat hingga ke
penduduk desa disekitarnya. Sehingga kadang kala para penduduk menyaksikan
adanya sinar yang bergerak keluar dan masuk kembali ke gua.
Kejadian misterius ini membuat penduduk setempat mengannggap gua tersebut
sebagai gua yang kramat dan misterius. Bahkan kadang kala, banyak pula penduduk
yang secara rutin memberikan penghormatan dan persembahan.
Wanita Berjubah Biru merasa benar-benar sangat kasihan terhadap sang ular ini.
Walaupun telah beratus-ratus tahun membina Ajaran, tetapi masih saja belum dapat
memahami kebenaran intisari Ajaran yang dijalankannya. Beliau kemudian
mengajaknya untuk bermeditasi bersama. Sang ular tampak cerah kembali
kegembiraannya karena merasa bahwa Wanita Berjubah Biru tidak lagi memintanya
melepaskan mustika kebanggaannya.
Sang ular bersembah sujud kembali dan mengucapkan banyak berterima kasih atas
kebaikan Wanita Berjubah Biru yang begitu mengerti tentang dirinya, dan mau
membimbingnya dengan cara lain.
Kemudian sang ular melakukan meditasi dengan mengikuti petunjuk yang diberikan
oleh beliau. Sang ular yang memang telah memiliki dasar latihan Roh Sejati yang
baik, maka dirinya dengan mudah dapat memahami dan mengerti ajaran yang
diberikan beliau. Mereka lalu bermeditasi bersama. Dalam meditasi ini Roh Sejati
dari Wanita Berjubah Biru membimbing langsung Roh Sejati sang ular agar dapat
mencapai Alam Dharma Mulia.
Setelah selesai bermeditasi, ular ini langsung bersembah sujud kembali dan terus
mengucapkan terima-kasih atas kebaikan Wanita Berjubah Biru yang telah bersedia
langsung membimbing dan mengajarkan Dharma Mulia Tanpa Batas. Sang ular memohon
maaf atas ketidak tahuan dan kebodohannya karena sebelumnya telah menolak untuk
melepaskan mustika kebanggaannya.
Sang ular kemudian membuka mulutnya lebar-lebar tanpa disuruh. Lalu dirinya
memohon agar Wanita Berjubah Biru bersedia membantu untuk menbantu mengeluarkan
mustika ini dengan bantuan energi chi. Dengan petunjuk yang diberikan oleh
Wanita Berjubah Biru, lalu sang ular akhirnya dapat menghembuskan nafas
kuat-kuat sehingga tampak cahaya bola kristal yang keluar dari mulutnya.
Sebutir mustika keluar dari mulutnya, Mustika ini bersinar putih terang dan
memancar hingga menerangi tubuh ular tersebut. Lalu secara perlahan tubuh ular
itu berubah warna menjadi biru ke-emasan, dan tubuh sang ular akhirnya sempurna
menjadi tahap awal tubuh naga.
Sang naga lalu mengucapkan terima kasih atas pelajaran dan bimbingan Wanita Berjubah Biru. Wanita Berjubah Biru juga berpesan agar ia tidak puas diri akan
hasil yang dicapainya sekarang, dan selalu giat berlatih untuk mencapai
Kesempurnaan Sejati.
Wanita Berjubah Biru dalam membantu para mahluk sangat jarang menggunakan ajaran
langsung seperti membimbing Roh Sejati para mahluk untuk menerima ajaran
langsung dari Bunda Mulia atau para Pencapaian Agung lainnya. Hal ini bukan
karena beliau sangat pelit dalam menurunkan ajaran, tetapi beliau hanya
memberikan bimbingan hanya kepada mereka yang memang telah siap untuk menerima
ajaran. Mereka yang memang telah siap secara lahir maupun batin, maka akan
sangat mudah untuk memahami ajaran Dharma Mulia.
Selama puluhan tahun berkelana, membantu para mahluk dari segala penderitaan.
Wanita Berjubah Biru sangat jarang sekali menerima murid. Beliau hanya ingin
menerima murid, bila mereka benar-benar mempunyai hubungan jodoh yang kuat
dengan Bunda Mulia.
Sejak awal beliau bertemu dengan saya, disalah satu vihara Bunda Mulia. Beliau
selalu mengatakan bahwa beliau telah mengenal saya sejak lampau. Hingga
sekarang, Beliau tidak menganggap saya sebagai muridnya, tetapi beliau
menganggap saya sebagai anak spiritualnya yang diutus oleh Bunda Mulia.
Salah satu keunikan dari Wanita Berjubah Biru dalam membimbing anak-didiknya.
Beliau selalu membimbing dan membina roh sejati anak didiknya, agar roh sejati
anak didiknya dapat terbangkit dengan penuh. Dengan terbangkitnya roh sejati
para anak-didiknya, mereka mempunyai dasar pembinaan spiritual yang kuat dan
baik.
Bilamana roh sejati dan kesadaran sejati anak-didiknya telah terbina dengan
baik, maka roh sejati Wanita Berjubah Biru dapat membimbing dan membawa langsung
roh sejati anak-didiknya untuk mencapai segala tingkat alam dharma. Sehingga
bagi anak-didik Wanita Berjubah Biru, bukan suatu hal yang aneh untuk
mendapatkan dan menerima penurunan ajaran dharma langsung dari para mahluk suci
dan para Pencapaian Agung di segala alam. Pencapaian spiritual ini merupakan
suatu berkah yang luar biasa bagi mahluk yang dapat di bimbing oleh Wanita Berjubah Biru.
Wanita Berjubah Biru juga menegaskan kepada saya bahwa Ajaran-Ajaran Mulia yang
saya dapatkan dari Bunda Mulia hanya dapat di turunkan bagi mereka yang memang
telah siap untuk membina kehidupan spiritualnya. Ajaran Dharma dari Bunda Mulia
tidak akan bermanfaat banyak bilamana hanya digunakan sebagai suatu teori dan
pengetahuan seperti ajaran-ajaran lainnya.
Tanpa pembinaan yang serius maka Ajaran Bunda Mulia hanya dianggap sebagai
kata-kata yang hampa. Janganlah para mahluk hanya menerima sebanyak-banyaknya
penurunan ajaran, tetapi tidak ada satu ajaran yang di dibinanya. Lebih baik
menerima satu penurunan ajaran, dan kemudian melakukan pembinaan.
Moral dari kisah Wanita Berjubah Biru ini:
Walaupun sang ular telah ratusan tahun berlatih meditasi, dan latihan meditasi
sang ular telah menampakkan hasilnya yaitu sebuah mustika dan kekuatan
supernatural lainnya. Tetapi pencapaian sang ular masih belum sempurna dalam
memahami penyatuan kesadaran sejati yang sebenarnya.
Sehingga tanpa disadari oleh sang ular ternyata kesadaran sejatinya masih
tertutup oleh keterikatan yang kuat akan pengalaman dan hasil meditasinya. Hal
ini dikarenakan Kesadaran Sejatinya belum benar-benar terbebaskan dari
keterikatan-keterikatan pikiran, dan kesadaran sejati sang ular belum berpadu
dengan kesadaran semesta yang tanpa batas (Pencapaian Agung, Kesempurnaan
Sejati).
Pikiran sang ular selalu dibayangi akan kemelekatan rasa kepemilikan yang kuat
terhadap mustika hasil meditasinya beratus-ratus tahun. Tanpa disadari secara
tidak langsung menimbulkan penghalang baru lainnya yaitu rasa bangga dan puas
yang berlebihan karena memiliki mustika yang hebat. Sehingga dirinya semakin
terikat dan selalu merasa sebagai mahluk yang lebih hebat dari mahluk lainnya.
Setelah mendapatkan ajaran dan penglihatan spiritual melalui meditasi dari
Wanita Berjubah Biru, akhirnya jendela Kesadaran Sejati sang ular seketika
terbuka. Sang ular dengan rela melepaskan mustikanya tanpa paksaan dan
keterikatan. Dia telah sadar bahwa keterikatan pikiran itu sebenarnya yang
selalu menghambat pembinaan dan latihan spiritualnya.
Walaupun kesadaran sejati telah terbuka dan roh sejati telah terbangkitkan, sang
ular yang menjadi naga masih memerlukan pembinaan yang lebih lanjut lagi untuk
mencapai tingkat berpadu dengan kesadaran semesta yang tanpa batas dan akhirnya
mencapai kesempurnaan sejati.
Mereka yang rutin membina meditasi, dalam suatu tahap tertentu dalam pembinaan.
Kadangkala akan merasakan adanya suatu respon yang berupa gambaran spiritual
atau merasakan adanya suatu energi supernatural yang timbul. Kejadian yang
dialami pada tahap ini merupakan proses yang alamiah dan wajar, dan mereka
sebaiknya jangan terikat dengan apapun yang timbul dan dapat dirasakan, karena
semua ini merupakan suatu halangan spiritual sebelum mereka dapat mencapai tahap
selanjutnya. Waspada selalu dengan segala macam penghalang yang selalu timbul
didalam latihan meditasi.
Kadangkala mereka merasakan adanya suatu kedipan sinar yang cepat seperti kilat,
kadang merasakan sesuatu energi, hingga adapula yang dapat merasakan penampakan
para mahluk suci dihadapan kita. Semua penampakan dan perasaan yang timbul
jangan ditolak ataupun dilawan, dan jangan pula terikat dengannya. Pahami
segalanya dengan kesadaran sejati, maka pintu kebenaran sejati akan terbuka.
Bila kita menolaknya, maka tanpa disadari akhirnya kita akan menjadi lelah.
Kelelahan yang tidak disadari membuat diri kita menjadi bosan akan latihan
meditasi. Dimana kebosanan yang terus berlangsung akhirnya menjadikan diri kita
malas untuk berlatih lebih lanjut lagi.
Bilamana kita terikat akan gambaran spiritual dan kekuatan supernatural, maka
akhirnya kita secara tidak sadar telah keluar dari tujuan semula dari latihan
meditasi yaitu mencapai Kesempurnaan Sejati. Keterikatan yang berlebihan dapat
menimbulkan ego dalam diri, sehingga selalu menganggap dirinya lebih dari
mahluk lainnya.
Ego yang timbul menjadikan kita selalu bangga akan hasil yang telah dicapai, dan
tanpa disadari kita telah merasa puas. Selanjutnya tanpa kita sadari keterikatan
akan kekuatan supernatural menjadi sangat berlebihan sehingga kita lalai dan
malas untuk berlatih lebih giat lagi.
Banyak pelaku meditasi yang merasa telah mendapatkan gambaran spiritual seperti
melihat: Bodhisatva, para Budha, cahaya yang luar biasa, dsb. Mereka merasa puas
dan bangga akan keberhasilannya. Sehingga pada latihan meditasi selanjutnya,
mereka terjerat untuk berusaha mendapatkan gambaran seperti sebelumnya. Akhirnya
pikiran mereka hanya mencari-cari gambaran tersebut dan tanpa disadari telah
memaksakan pikirannya untuk menciptakan sendiri gambaran yang seperti
sebelumnya.
Apapun yang kita dapati dalam meditasi, baik itu berupa mustika, gambaran
supernatural maupun kekuatan supernatural. Jangan berhenti dan merasa puas
dengan hasil yang telah didapat dari meditasi, tetapi terus membina roh sejati
dan kesadaran sejati karena perjalanan kehidupan spiritual masih jauh untuk
mencapai tingkat Pencapaian Sejati.
Menerima ataupun menolak adalah tindakan yang sama. Bilamana tanpa didasari
dengan kesadaran sejati, menerima dan menolak hanya akan menjadi penghalang
dalam proses berlatih meditai. Semua yang kita alami dalam latihan hanya sebagai
bunga-bunga dari latihan meditasi, karena itu jangan kita berhenti sebelum
memetik buah meditasi yaitu Pencapaian Sejati.
Bagi mereka yang telah mencapai tahap dapat mempergunakan kekuatan roh sejati
maupun energi supernatural lainnya, Janganlah merasa mempunyai kelebihan
dibanding mahluk lain. Sehingga timbul rasa sombong dan merendahkan mahluk
lainnya, dimana akhirnya mereka lupa akan tujuan awal berlatih meditasi yaitu
mencapai Pencapaian Sejati (dan menolong para mahluk lainnya dari lingkaran
samsara).
Dalam membina dan menjalankan kehidupan sebagai mahluk spiritual, sebaiknya kita
selalu merendah dan menjauhkan segala kesombongan. Jangan memandang rendah
terhadap pencapaian spiritual mahluk lain. Jangan memandang rendah latihan
spiritual mahluk lain. Jangan pula kita merasa telah mencapai tingkat yang lebih
tinggi dari mahluk lain. Rasa kebanggaan yang timbul akan membuat diri kita
menjadi sombong dan angkuh, sehingga akhirnya kita telah menciptakan penghalang
baru dalam pembinaan kehidupan spiritual kita.
— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta
Thien Cun —