Penjabaran Singkat Avalokiteshvara
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih
Spiritual- Wisnu Prakasa")
Sembah Sujud kepada Bunda Avalokiteshvara.
Penjelmaan Sinar Cinta Kasih dan Suara Welas Asih tanpa Batas.
Dihadapanmu aku bersujud, untuk terus membina Kesadaran Sejati.
Laksana Permata dikedua tanganmu.
Dihadapanmu aku bersujud, untuk terus membina Kebijaksanaan Sejati.
Laksana Teratai Putih ditangan
kirimu.
Dihadapanmu aku bersujud, untuk terus menolong para mahluk.
Laksana Mala Kristal ditangan
kananmu.
Dihadapanmu aku bersujud, untuk terus membina Welas Asih.
Laksana Jubah Kulit Rusa dijantung
hatimu.
Dengan Kesadaran Jernih dan Kebijaksaan Tinggi,
memohon bimbingan untuk seluruh
mahluk,
hingga mencapai tingkat Pencapaian
Sang Arya.
( Hua Lien, 2001 )
Avalokiteshvara merupakan salah satu
jelmaan Welas Asih dan Kemuliaan Tanpa Batas dari para Budha di Sepuluh Penjuru
Alam, sehingga secara alamiahnya Avalokiteshvara merupakan Mahluk Suci Tanpa
Batas, yang telah mencapai Awal Kesadaran Sejati dan Kebijaksanaan Sejati dari
alamiah Kekosongan yang sesungguhnya. Jelmaan Welas Asih dan Kemulian Tanpa
Batas, menimbulkan alamiah dari Avalokithesvara untuk terus membantu para mahluk
dari segala penderitaan dan kemelekatan Pikiran di 6 alam samsara.
Dalam membantu para mahluk, Avalokiteshvara
akan menjelma dalam berbagai bentuk tubuh, dan secara alamiah akan mengikuti
keadaan dan kondisi dari tingkat karma baik dan jodoh masing-masing para mahluk
di setiap zaman. Penjelmaan Avalokiteshvara sangat tidak terbatas, kadang dapat
berupa sebagai pria, wanita, guru spiritual, mahluk suci, bodhisattva, pertapa,
pelindung Dharma, biksu, raja, petani, pengemis, dsb. Dalam menolong para
mahluk, Avalokiteshvara kadang menjelmakan dirinya berupa binatang, atau bahkan
dalam berwujud benda.
Welas Asih yang tidak terhingga dari
Avalokiteshvara sejak lampau hingga sekarang, Beliau banyak dikenal dengan
berbagai nama seperti ‘Supreme Noble Being’, ‘Great Compassion’, ‘Pemegang
Permata dan Lotus’, ‘Welas Asih Tanpa Batas’, ‘Permata Lotus’, ‘Mustika Welas
Asih’, ‘Dewi Putih’, ‘Dewi Tangan Seribu, ‘Dewi Tangan Empat’, ‘Dewi Bermuka
Gajah’, ‘Dia Yang Mendengar Jeritan para mahluk’, ‘Dia Yang Melihat Penderitaan
Para Mahluk Tanpa Berkedip’, dsb.
Dia Yang Melihat Penderitaan Para Mahluk
Tanpa Berkedip, merupaka salah satu nama dari Avalokiteshvara yang sangat
terkenal dalam dunia spiritual. Dimana Avalokiteshvara bagaikan seorang ibu yang
selau merawat bayi tunggalnya dengan penuh perhatian yang luar biasa. Sang ibu
yang selalu berusaha melimpahkan kasih sayang dan perlindungan, dan menjaga
bayinya dari segala kendala dan marabahaya. Demikianlah Avalokiteshvara sebagai
Bunda dari para mahluk di segala penjuru alam dan sepanjang masa yang tanpa
batas. Dengaan tanpa berkedip sekejabpun, mata cinta kasih Avalokiteshvara
selalu berusaha membebaskan para mahluk dari segala halangan dan penderitaan,
dan menggantinya dengan berkah dan kebahagiaan.
Selain itu, Penjelmaan Avalokiteshvara
Bertangan Empat juga sangat terkenal di masyarakat Buddhist. Tangan kiri
memegang teratai putih, dan tangan kanan memegang mala kristal, dan kedua tangan
lainnya mudra sujud dengan menggemgang permata di depan dadanya.
Tangan kiri memegang teratai putih
merupakan lambang dari pencapaian Beliau akan Kebijaksanaan Sejati
Tanpa Batas dari Kekosongan yang sebenarnya.
Tangan kanan memegang mala kristal,
yang merupakan lambang pembebasan akan seluruh mahluk dari alam samsara.
Kedua tangan lainnya yang bermudra
sujud didepan dada, merupakan lambang perwujudan akan Berkah tanpa batas
dari seluruh Budha dan Bodhisattva di seluruh penjuru alam, yang
dilimpahkan kepada seluruh mahluk di alam samsara.
Permata yang tergemgang di kedua
tangannya, merupakan lambang Pencapaian Buddha dan Bodhisattva akan
Kesadaran Sejati yang jernih.
Selain itu, Avalokiteshvara berjubah kulit
Rusa Gunung, yang melilit dari pundak hingga menutupi jantung hatinya. Jubah
kulit rusah gunung ini merupakan lambang dari Avalokithesvara yang memiliki hati
yang penuh Welas Asih tanpa batas kepada seluruh mahluk. Dipercaya bahwa barang
siapa yang menyentuh kulit Rusa Gunung ini, dalam sekejab Kesadaran mereka akan
penuh dengan berkah Welas Asih. Sehingga banyak para yogi dan Master Spiritual
di waktu lampau, menggunakan kulit Rusa Gunung sebagai alas tempat duduk
meditasinya.
Mantra Avalokishvara dikenal dengan Mantra
6 Suku kata. Walau merupakan salah satu mantra yang sangat singkat, tetapi
mantra ‘Om Mani Padme Hum’ merupakan mantra yang sangat luar biasa dan besar
manfaatnya.
Secara singkat, demikianlah makna mantra “Om Mani Padme Hum”:
OM melambangkan Ketunggalan
Alam Mahluk Suci Tanpa Batas, yang berarti merupakan jelmaan Tubuh dari
seluruh penjuru Budha.
MANI melambangkan Permata,
yang berarti Kebijaksanaan yang telah memahami Kekosongan Sejati.
PADME melambang Lotus, yang
juga juga mengandung makna Suci dan Tidak Ternoda.
HUM melambangkan Tubuh Yang Sebenarnya, yang juga bearti Jelmaan
Nyata.
Para Bodhisattva dan MahlukSuci yang penuh
dengan cintas kasih dan welas asih,
selalu membantu para mahluk dari segala penderitaannya,
sesuai dengan kondisi, tempat, dan keadaan sepanjang masa.
Demikianlah Sang Arya Avalokiteshvara timbul,
karena adanya Bodhicitta untuk menyelamatkan para mahluk
dari segala penderitaan dan sumber penderitaan.
(Hua Lien, 2001 )
— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta
Thien Cun —