Bukan maksud saya mengurangi rasa hormat
kepada yang telah membantu mengajarkan ajaran-ajaran agama yang Mulia.
Bukan maksud saya untuk menghambat
pengabdian mereka yang telah membantu mengajarkan ajaran-ajaran agama yang
Mulia.
Bukan maksud saya untuk merendahkan derajat
mereka yang telah membantu mengajarkan ajaran-ajaran agama yang Mulia.
Bukan maksud saya untuk menyinggung perasaan
mereka yang telah membantu mengajarkan ajaran-ajaran agama yang Mulia.
Tetapi saya ingin membantu memberikan
sedikit gambaran tentang alamiah keadaan spiritual di Indonesia, sehingga
tugas mulia mereka dapat berjalan lebih lancar.
Para pengajar, Guru Besar, dan Master
Spiritual dari luar negeri, kiranya untuk lebih memahami perjalanan hidup
bangsa Indonesia. Dimana Bangsa Indonesia memiliki latar belakang yang sangat
unik dan jauh berbeda dengan perjalan hidup bangsa lainnya, terutama dalam
perjalanan kehidupan spiritual beragama.
Perbedaan kebudayaan dan perjalanan
kehidupan spiritual beragama di negeri asal para pengajar agama, kadang tidak
disadari oleh mereka. Para pengajar dari luar negeri berhak untuk membanggakan
ajarannya, tetapi sangat disayangkan cenderung berlebihan dengan membandingkan
ajarannya untuk merendahkan ajaran agama atau aliran lain, terlebih-lebih akan
ajaran yang telah berakar di bumi nusantara ini. Para pengajar juga banyak
memberikan kesaksian yang bersifat pribadi, tanpa melihat dampak yang
menyinggung perasaan umat aliran dan agama lainnya. Masih banyak lagi ketidak
tahuan mereka, yang dapat berakibat fatal bagi seluruh mahluk. Semua ini dapat
terjadi, karena ketidak tahuan mereka akan alamiah keadaan spiritual beragama
di Indonesia.
Walaupun semua itu adalah hak dan kewajiban
mereka, tetapi saya hanya dapat menyarankan para pengajar dari luar negeri
yang mengajar di bumi nusantara. Sebaiknya mereka harus dapat lebih bijaksana
dalam mengajarkan ajarannya. Saya mengharapkan untuk lebihn menekankan ajaran
yang mengarah pada Cinta Kasih dan pembinaan spiritual bagi diri sendiri,
dibanding dengan ajaran yang mengarah pada masalah perbandingan dan
perbedaannya ajaran.
Saya secara pribadi melihat dan memahami
bahwa terjadinya zaman keemasan dan kebesaran suatu agama di Indonesia, bukan
karena penderitaan yang dialami oleh agama lainnya seperti terjadi
dinegara-negara lainnya. Tetapi kebesaran suatu agama di Indonesia terjadi
karena memang ajaran agama itu sangat sesuai kebutuhan pada keadaan masyarakat
Indonesia pada waktu dan zaman tersebut. Dan saya mencoba memahami hal ini
dengan melihat sekilas perkembangan kehidupan spiritual beragama bangsa
Indonesia, sebagai berikut:
Kehidupan spiritual beragama di Indonesia,
dimulai sejak berabad-abad sebelumnya. Dalam perjalanan kehidupan
spiritualnya, bangsa Indonesia telah mengalami berbagai zaman keemasan dari
bermacam-macam agama. Kita mengenal adanya zaman keemasan bagi agama Hindu,
zaman keemasan agama Buddha, zaman keemasan agama Buddha Shiva, zama keemasan
Islam oleh para Walinya, zaman agama Kristiani di zaman kolonial belanda,
hingga zaman toleransi beragama sekarang.
Proses perubahan dan peralihan zaman-zaman
keemasan ini merupakan suatu keunikan yang tidak dimiliki oleh bangsa lainnya,
sehingga perjalanan kehidupan spiritual bangsa Indonesia menjadi sangat sulit
dipahami oleh bangsa lainnya.
Perubahan kehidupan beragama yang dialami
bangsa Indonesia, tidak seperti perjalanan kehidupan beragama negara-negara
lain. Dimana di negara lain banyak terjadi perang antar agama yang satu dengan
yang lain, keributan aliran yang satu dengan alirannya. Di negara-negara lain,
permasalahan kadang mengarah pada pemaksaan untuk menganut agama tertertu,
hingga pembantaian massal pada umat aliran tertentu.
Saya menyatakan bahwa kehidupan spiritual
bangsa Indonesia yang telah mengalami berbagai perubahan, karena memang
keadaan alamiah dari keadaan dan kondisi bangsa Indonesia yang demikian.
Bagaikan seorang anak bayi yang terlahir tanpa alas kaki, setelah dapat
berjalan maka akan memakai sandal, ketika akan berlari akan memakai sepatu
sport, ketika pergi kepesta akan memakai sepatu pesta, dan ketika harus
bersujud di hadapan Yang Maha Esa harus menanggalkan segala alas kakinya.
Bangsa Indonesia pada awalnya merupakan
penganut aliran animisme. Kemudian mulai masuk ajaran Hindu dari India. Agama
Hindu kemudian dapat diterima di Bumi Nusantara, karena perubahahan dari
masyarakat yang animisme menjadi penganut Hindu merupakan suatu perubahan yang
tidak drastis total. Perubahan ini berlangsung dengan baik dan aman, inilah
keindahan dari ajaran agama Hindu yang memang pada zaman tersebut sangat
dibutuhkan dan sesuai dengan kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia.
Kemudian masuk agama Buddha juga dari India,
yang kemudian bersinkrenisme dengan agama Hindu yang sudah berkembang di
Indonesia. Sinkrenisme kedua ajaran dari India ini melahirkan aliaran yang
dikenal dengan ajaran Buddha-Shiva. Lahirnya ajaran Buddha-Shiva ini adalah
suatu keindahan alamiah dari bumi nusantara yang tidak dimiliki oleh bangsa
lainnya. Inilah bukti toleransi yang kuat dari nenek moyang bangsa Indonesia,
yang tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lainnya.
Walaupun di negara India, sebagai sumber
awal agama Hindu dan Buddha. Tetapi kerukunan kehidupan antar agama Hindu dan
Buddha, tidak semulus seperti di Indonesia yang memang telah memiliki rasa
saling menghormati satu dengan yang lainya. Bahkan terjadinya keributan kedua
agama besar di India yang cukup lama, tidak pernah terjadi di bumi nusantara.
Pengaruh kebudayaan Indonesia yang sangat
kuat ini, menjadikan sinkrenisme ajaran Buddha-Shiva berbeda dengan tradisi di
India. Kerukunan antar ajaran Hindu dan Buddha, masih dapat kita saksikan di
masyarakat Hindu di Bali. Dimana kita dapat menyaksikan Pura "Bunda" (Temple
"Mother") di Bali, yang memiliki unsur Hindu dan Buddha yang sangat nyata. Dan
hal ini tidak pernah terjadi di India. Bahkan upacara di Bali juga terlihat
adanya sedikit unsur dari aliaran Tao.
Kemudian masuknya agama islam di pinggir
pantai, melengkapi keindahan perjalanan kehidupan spiritual beragama bangsa
Indonesia. Para nelayan di pinggir pantai, masih mendambakan ajaran-ajaran
agama yang sesuai dengan kehidupan sehari-harinya. Kehausan akan kebutuhan
ajaran agama ini, akhirnya dapat dipenuhi dengan masuknya ajaran islam dari
negeri Arab.
Bagaikan telah dipersiapkan dan diatur oleh
semesta alam. Berkembangnya agama Islam di bumi nusantara, juga berbarengan
dengan masuknya bangsa belanda yang menjajah Indonesia selama 350 tahun. Dan
menurut saya pribadi, tidak lepas adanya kemungkin bahwa bangsa Indonesia
tidak akan merdeka atau akan jauh lebih lama lagi untuk mendapatkan
kemerdekaannya, bila penduduknya bukan beragama Islam atau masih beragama
Buddha-Shiva.
Dalam ajaran Buddha-Shiva, sangat
dipentingkan untuk tidak melakukan perbuatan membunuh, walau apapun juga
alasannya. Tetapi dengan masuknya ajaran Islam, makan pandangan yang demikian
dapat diperbaharui sesuai dengan keadaan dan kondisi yang ada. Dengan
demikian, perang melawan penjajah belanda dan jepang dapat lebih diterima oleh
bangsa Indonesia, karena untuk membela hak dan menjunjung tinggi kebenaran
bangsa.
Disini saya melihat kebenaran dan bukti akan
zaman keemasan dan kebesaran agama-agama di Indonesia, yang tidak terbentuk
dari penderitaan yang dialami oleh umat penganut ajaran agama lainnya. Tetapi
perubahan kehidupan beragama bangsa Indonesia terjadi karena memang ajaran
agama itu sangat sesuai kebutuhan pada keadaan waktu dan zaman tersebut.
Dengan pemahaman perjalan kehidupan beragama bangsa
Indonesia, maka bagi para Pengajar, Guru Besar Dan Master Spiritual dari luar
negeri yang ingin mengajarkan ajarannya di bumi nusantara. Harus benar-benar
menghormati nilai luhur yang telah diwarisi oleh nenek moyang bangsa
Indonesia.