|



| | Pembinaan Kesadaran Sejati Vs. Pembinaan Spiritual lainnya. (dikutip dari buku "Kisah-Kasih Spiritual Bagian
9 - oleh: Wisnu Prakasa")
Walau pembinaan spiritual memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mencapai
Kesempurnaan Agung Sejati. Tetapi dalam menjalankan pembinaan spiritual, para
mahluk masing-masing memiliki cara pembinaan yang berbeda. Puja Bhakti dan Pemberkatan, Mantra, Mudra, Ajaran,
Meditasi, Pembayangan, Bodhicitta, dsb. Kadang digunakan sebagai alat bantu,
juga untuk mendapat berkah dan manfaat dari luar. Tetapi kadang juga menjadi
satu penghalang dalam tahap awal pembinaan spiritual.
Dengan melakukan Puja Bhakti, para umat cenderung
mengharapkan adanya berkah dari para mahluk suci dan guru.
Dengan membaca Mantra dan melakukan mudra, para umat
cenderung pada keinginan akan berkah kekuatan sakti atau lainnya.
Dengan mendapatkan silsilah Ajaran, para mahluk
cenderung akan memiliki kemelekatan pada pengetahuan Ajarannya.
Dengan melatih meditasi, para umat cenderung untuk
memfokus pada satu objek, baik objek luar dan objek.
Dengan melatih pembayangan, para umat cenderung
menggunakan gambaran pikirannya untuk membentuk gambaran para mahluk suci.
Dengan melatih Bodhicitta, para umat cenderung terikat
dengan motivasi dan tujuannya.
Walaupun pembinaan-pembinaan spiritual yang demikian juga
merupakan pembinaan yang baik dan benar. Beraneka ragam pembinaan spiritual,
diciptakan oleh para Guru Besar untuk membantu para mahluk, karena tingkat
pencapaian spiritual para mahluk masing-masing berbeda. Satu cara pembinaan
mungkin sesuai dengan si A, tetapi tidak sesuai dengan keadaan dan kondisi si
B. Pembinaan-pembinaan spiritual yang demikian, biasanya akan
memiliki berbagai tingkat yang disesuaikan dengan pencapaian para umat.
Sehingga kita mengenal adanya berbagai Puja-Bhakti yang
umum, singkat, panjang, hingga yang rahasia.
Sehingga kita mengenal ajaran, mantra dan mudra yang
umum, khusus, cinta kasih, murka, hingga mantra rahasia.
Sehingga kita juga mengenal banyaknya cara dan objek
meditasi dan pembayangan yang tidak terhitung jumlahnya.
Sehingga kita mengenal pentingnya untuk mengembang dan
membangkitkan rasa Bodhicitta.
Walaupun memiliki beraneka ragam tingkat, tetapi pada tahap
dan tingkat terakhir pembinaan. Saya pastikan bahwa semua pembinaan ini
akhirnya akan menyatu kembali pada kesatuan tunggal, yaitu Kekosongan
(Kesunyataan). Ditahap akhir ini, segala hal yang didapatkan
dan dicapai, akhirnya akan melebur kedalam jati diri kita yang sebenarnya.
Semua yang didapatkan dan dicapai, sebenarnya bersumber pada jati diri kita
yang sebenarnya. Dan segalanya dan jati diri adalah tanpa beda, inilah sifat
alamiah kekosongan (kesunyataan). Walau pengalaman dan pembinaan spiritual saya
masih sangat minim tetapi saya dapat mengatakan bahwa pencapaian kekosongan
yang sebenarnya, adalah tidak berbeda dengan apa yang dinamakan pecapaian
Kesadaran Yang Jernih dari pembinaan Kesadaran Sejari. Dimana pembinaan Kesadaran Sejati merupakan
pembinaan yang melepaskan ikatan-ikatan gambaran pikiran yang selalu timbul
dan memperdaya Kesadaran. Dengan melepas segala ikatan dan kemelekatan
gambaran pikiran, maka Kesadaran akan terjenihkan. Walau dalam pelaksanaan pembinaan kehidupan
spiritual, para mahluk spiritual pembina Kesadaran Sejati melakukan pembinaan
yang terbebaskan dari segala puja dan puji dari Puja Bhakti, terbebaskan dari
segala berkah dan pemberkatan dari para guru dan mahluk suci, terbebaskan dari
segala berkah dan kekuatan ekstra dari mantra dan mudra, terbebaskan dari
segala kemelekatan akan pengetahuan Ajarannya, terbebaskan dari segala fokus
akan objek meditasi dan gambaran pembayangan apapun, dan terbebaskan dari
segala motivasi dan tujuan dari segala pembinaan Bodhicitta. Para pembina Kesadaran Sejati akan memahami
sifat alamiah keterikatan pikiran dan Kesadaran. Mereka telah selalu berusaha
untuk terbebaskan dari segala keterikatan dan keterperdayaan pikiran, merupakan
suatu dasar alamiah dari Kesempurnaan Agung Sejati.— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta
Thien Cun —
|