Pelimpahan Kebajikan
(dikutip dari buku
"Kisah-Kasih Spiritual Bagian XIII : Wisnu Prakasa")
Seluruh berkah dan pahala kebajikan ditiga masa,
Kami limpahkan kepada para mahluk,
Hingga mencapai Kesempurnaan Sejati.
Setelah para umat menjalankan puja-bhakti, membaca mantra,
meditasi, pembinaan spiritual dan perbuatan baik, maka secara alamiah, pembinaan
dan perbuatan yang demikian akan menghasilkan suatu berkah dan pahala kebajikan.
Dan sudah menjadi suatu kebiasaan bagi para umat, untuk
melimpahkan kembali segala kebajikan yang didapat kepada seluruh mahluk lainnya.
Pelimpahan Kebajikan ini merupakan suatu pembinaan untuk mengembangkan
Bodhicitta dan welas asih, seperti yang dilakukan oleh para Bodhisattva dalam
pembinaan spiritual mencapai Kesempurnaan Sejati/KeBuddhaan.
Berkah dan pahala kebajikan yang didapat, merupakan suatu
berkah dan pahala yang tidak tampak oleh mata biasa. Bagi mereka yang mempunyai
keyakinan yang kuat, walaupun berkah dan pahala yang didapat tidak tampak
dengan matanya, tetapi mereka dapat merasakannya. Setidaknya, mereka dapat
menjadi lebih tenang dan bahagia setelah melakukan pembinaan spiritual. Inilah
bukti nyata akan adanya berkah dan pahala kebajikan, dari pembinaan
spiritualnya.
Tetapi sangat disayangkan, karena merasa hanya dapat
merasakan ketenangan dan kebahagian yang demikian saja. Mereka merasa berkah dan
pahala kebajikan dari pembinaan spiritualnya, tidak sedemikian berharga.
Sehingga para umat cenderung untuk membaca doa pelimpahan kebajikan dengan
seenaknya, tanpa memahami makna yang sesungguhnya. Para umat cenderung untuk
membaca doa pelimpahan kebajikan dengan segampangnya, karena mereka menganggap
apa yg didapat dan diberikan bukan sesuatu yang sangat berharga.
Dilain pihak, masih banyak umat-umat lainnya yang tidak dapat
melihat dan merasakan adanya berkah dan pahala kebajikan dari pembinaan
spritualnya. Sehingga dalam pelimpahan kebajikan, mereka merasa ‘Nothing to
lose”, yaitu tidak ada ruginya, karena tidak banyak yang didapat, dan tidak
banyak yang dilimpahkan.
Tetapi sejujurnya, Apakah dengan mudahnya para umat
melimpahkan segala Pelimpahan kebajikan, Apakah berarti mereka benar-benar
memahami akan pelimpahan yang mereka lakukan dengan iklas dan tulus ?
Inilah yang menjadi masalah, dalam pelimpahan kebajikan.
Sejujurnya, para umat lebih cenderung dengan mudahnya melakukan pelimpahan
kebajikan, karena mereka menganggap bahwa apa yang didapat tidak demikian
berharga bagi dirinya, sehingga bila diberikan kepada mahluk lainnya, mereka
tidak berapa perduli.
Saya mengajak para umat untuk memahami lebih jauh makna dan
pemahaman Pelimpahan Kebajikan yang sebenarnya. Marilah kita memahami lebih
lanjut, berapa iklasnya kita dalam menjalankan pembinaan spiritual dalam
pelimpahan kebajikan yang sesungguhnya ?
Seumpamanya ketika kita melakukan Puja-Bhakti Avalokitesvara,
dan sebelum pelimpahan Kebajikan ternyata Sang Dewi Avalokitesvara hadir dalam
dan melimpahkan kita 1 kg emas murni. Selanjutnya, tentu kita melanjutkan
Puja-Bhakti kita, hingga mencapai bagian Pelimpahan Kebajikan. Yang menjadi
masalah, apakah kita akan benar-benar membaca pelimpahan kebajikan dan
melakukannya ? Ataukah kita hanya membacakan pelimpahan kebajikan, tetapi tidak
melakukannya ?
Bila kita benar-benar menjalankan pelimpahan kebajikan dengan
setulusnya, tentu kita akan menyumbangkan emas ini seluruhnya bagi seluruh
mahluk. Dimana kita akan merasa bahagia, bahwa pembinaan spiritual kita
benar-benar terbukti dan bermanfaat. Dan kita akan merasa sangat bahagia, karena
dengan mendapatkan berkah dan pahala yang lebih banyak, berarti kita memiliki
kesempatan lebih banyak lagi untuk melimpahkan kebajikan kepada mahluk lainnya.
Dan kita dapat merasakan kebahagian yang sangat luar biasa, karena
Bodhicitta dan welas asih dalam diri kita, akan lebih banyak lagi dirasakan oleh
mahluk-mahluk lainnnya.
Atau apakah yang terjadi sebaliknya ? Kita hanya sebatas
membaca saja, tetapi tetap mengantongi emasi ini buat diri sendiri. Disini dapat
dipahami, bagaimana pembinaan spiritual kita yang sesungguhnya dalam pelimpahan
kebajikan. Ketika kita tidak melihat yang kita dapat, sehingga kita menganggap
berkahnya tidak berharga, tentu dengan mudahnya kita limpahkan kembali kepada
mahlukl lainnya. Tetapi bila kita sudah melihat dan memahami berkah dan pahala
yang sangat luar biasa, apakah kita masih tetap dengan iklas dan tulur
melimpahkan kebajikan dan pahala tersebut ?
Disini, kita akan membuktikan berapa
tinggi tingkat pembinaan spiritual kita yang sesungguhnya.
Disini kita akan menyaksikan, berapa
iklas pelimpahan kebajikan kita yang sesungguhnya.
Dan, disini kita akan mengetahui,
berapa besar rasa Bodhicitta dan welas asih kita yang sesungguhnya.
— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta
Thien Cun —