|



| |
Natal 2Kelabu (Natal 2000 Yang Kelabu) (dikutip dari buku
"Kisah-Kasih Spiritual Bagian XI - oleh: Wisnu Prakasa")
Pertikaian antar saudara, akan
berlangsung selama 1 generasi saudara. Pertikaian antar keluarga, akan
menimbulkan kebencian selama 2 generasi keluarga.
Pertikaian antar suku, akan
mewariskan dendam selama 3 generasi suku. Pertikaian antar negara, akan
berakibat penderitaan bagi 4 generasi penduduk negara. Tetapi pertikaian antar agama, tidak akan
pernah berhenti hingga 5 generasi umat di dunia.
Inilah Neraka yang yang diciptakan
sendiri oleh manusia.
Sekali lagi saya menyaksikan bagaimana agama
dijadikan sebagai alat permainan politik. Dan saya secara pribadi mengetuk
seluruh mahluk, agar kiranya tidak mempergunakan agama sebagai alat permainan
untuk mencapai kepentingannya. Terlalu besar, akibat dan dampak yang harus
ditanggung oleh seluruh mahluk. Sungguh suatu ironis di negara yang menjunjung
tinggi KeTuhanan Yang Maha Esa, terjadi banyak pengeboman beberapa gereja tepat
ketika para umat kristiani merayakan malam Natal yang kudus di tahun 2000.
Dimana seharusnya kebaktian dan perayaan malam Natal merupakan perayaan yang
sakral dan suci. Pada malam kudus ini, para para umat kristiani sangat
bergembira untuk mengenang akan kelahiran Sang Juru Selamat Yesus Kristus di
dunia. Musibah Natal 2Kelabu bukan hanya dirasakan
oleh umat kristiani, tetapi juga dirasakan oleh umat-umat beragama lainnya. Para
umat lainnya merasa dijadikan kambing hitam dan difitnah, dan seluruh dunia
memandang kita sebagai bangsa keji dan kejam. Hal ini membenarkan pribahasa yang
ada bahwa "Fitnah memang lebih kejam dari pembunuhan.". Walau demikianh saya masih mempunyai
keyakinan, bahwa Musibah Natal 2Kelabu ini tidak akan dapat mengadu dombakan
antar umat beragama di Indonesia yang telah berlangsung sejak nenek moyang.
Ketika bom-bom meledak disekitar gereja, saya menyaksikan sendiri bagaimana para
umat beragama lainnya (khususnya umat Muslim), langsung turun tangan menjaga
berlangsungnya perayaan malam Natal yang kudus ini. Inilah bukti akan
nilai-nilai luhur yang sejak zaman nenek moyang, masih dimiliki oleh generasi
sekarang, dan akan terus diwarisi kepada generasi-generasi berikutnya. Saya menghimbau kepada para pemimpin,
guru-guru besar, dan umat muslim yang memiliki umat dengan mayoritas terbesar
untuk terus membantu umat beragama minoritas lainnya. Para umat mayoritas yang
memiliki berkah kekuatan yang lebih besar dari Yang Maha Kuasa, benar-benar
sangat diharapkan oleh para minoritas untuk memberikan bantuan dan perlindungan.
Dan, saya menghimbau kepada para umat minoritas lainnya, untuk tidak terpancing
oleh oknum-oknum yang ingin mengadu-domba. Berabad-abad sebelumnya, nenek moyang bangsa
Indonesia sudah menjunjung tinggi pentingnya toleransi beragama yang tinggi.
Sementara dibelahan bumi lainnya, berbagai keributan dan peperangan terjadi
diantara para umat satu dengan yang lainnya. Disini saya melihat dengan jelas
akan nilai-nilai luhur yang sudah dimiliki oleh nenek moyang bangsa Indonesia.
Dan saya juga melihat nilai-nilai luhur ini juga diwarisi turun temurun kepada
generasi berikutnya. Dari peningalan candi-candi Buddha dan
candi-candi Hindu yang letaknya saling berdekatan, kita dapat melihat akan
bukti-bukti nilai-nilai luhur akan toleransi beragama yang kuat di zaman nenek
moyang. Dan nilai-nilai luhur ini terus dimiliki oleh generasi sekarang,
terbukti saya melihat sendiri beberapa gereja dan mesjid yang letaknya tidak
berjauhan bahkan ada yang saling bersebelahan. Walaupun tampak sangat sederhana,
tetapi kenyataan ini merupakan suatu bukti akan bangsa Indonesia yang menjunjung
nilai-nilai luhur toleransi beragama, dan ini yang tidak dimiliki oleh
bangsa-bangsa lainnya. Walau pada malam Natal ditahun 2000, Toleransi
antar umat agama telah dinodai oleh oknum-oknum keji yang tidak bertanggung
jawab. Saya masih mempercayai bahwa di bumi nusantara Indonesia ini, kerukunan
umat beragama yang telah berabad-abad dijunjung tinggi oleh nenek moyang bangsa
Indonesia, tidak akan hilang hanya karena perbuatan oknum-oknum yang mengadu
domba demi kepentingan pribadinya. Mereka tidak mengetahui apa yang telah mereka perbuat, mereka
tidak menyadari apa yang telah mereka lakukan. Semoga Yang Maha Esa, mengampuni
ketidak tahuan mereka. Dan Semoga para korban dari kejadian pengeboman ini,
diterima oleh Yang Maha Kuasa. — Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta
Thien Cun —
|