Percakapan ini terjadi pada akhir bulan
september 2001, di Jakarta. Dan saya diceritakan langsung oleh Wanita Berjubah
Biru pada malam hari, setelah perjumpaan saya dan Wanita Berjubah Biru dengan
Lama ‘AY’.
(note: Lama berarti Guru dalam bahasa Tibet).
Wanita Berjubah Biru menjelaskan kepada saya,
bahwa Lama AY itu banyak bertanya kepadanya, tetapi pertanyaannya selalu
mempunyai maksud yang tersembunyi dan bertujuan lain.
Salah satu pertanyaan Lama AY kepada Wanita Berjubah Biru, seperti yang diceritakan oleh Wanita Berjubah Biru: "Ama sudah
tua. Apakah Ama tidak khawatir akan penerusnya. Bukankah sangat sayang sekali
bila segala pencapaian dan kemampuan ilmu spiritual Ama, yang sangat langkah dan
luar biasa ini, tidak dapat diwariskan dan diteruskan."
Mendengar pertanyaan Lama AY ini, Wanita Berjubah Biru langsung menjawab, "Apa lagi yang harus di
khawatirkan oleh saya ? Kemampuan saya sudah diturunkan kepada 3 penerus saya.
Yang pertama adalah Master XXX, walau sekarang Master XXX hanya memfokuskan
mengajar Dharma, tetapi Master XXX juga telah menguasai kemampuan saya. Kedua
Master YYY dan ada di Taiwan, Master YYY memang tidak menguasai kemampuan untuk
membantu mahluk lain, tetapi Master YYY sangat luar biasa dalam Tata Cara
Persembahan Altar dan Puja-Bhakti. Murid saya yang terakhir, adalah WWW di
Indonesia. WWW
juga telah menguasai seluruh kemampuan saya, hingga Ajaran-Ajaran Rahasia Yauw
Ce Cin Mu. Selanjutnya adalah tugas mereka untuk meneruskannya, apalagi yang
harus saya khawatirkan."
Setelah Wanita Berjubah Biru menceritakan
jawabannya kepada saya, Beliau dengan raut wajah sedih, menjelaskan kepada saya
bahwa semakin hari, semakin banyak orang-orang yang memohon kepadanya untuk
diwarisi kemampuan supernaturalnya saja. Sehingga, banyak sekali dari mereka yang sangat kecewa karena
permintaannya tidak terkabulkan. Sungguh kasihan, bagi para pembina spiritual
yang mempunyai pandangan sempit ini. Sungguh kasihan, mereka mengukur Ajaran
Dharma Mulia, hanya sebatas segi mistis dan supernaturalnya.
Mereka yang hanya melihat kehebatan Ajaran
Dharma Mulia sebatas segi mistis dan supernatural saja, tentunya tidak akan
pernah dapat memahami dan mengungkapkan Berkah utama dari Ajaran Dharma Mulia
yang sebenarnya. Dimana Berkah dan Manfaat utama dari Ajaran Dharma Mulia,
adalah sebagai Jalan Pembinaan menuju Ke-Buddha-an atau Pencapaian Agung Tanpa
Batas. Ajaran Dharma Mulia, tidak akan menciptakan mahluk sakti, mahluk super,
mahluk gaib, mahluk mistis, dsb. Tetapi, Ajaran Dharma Mulia, dapat membimbing
para mahluk memahami Jati Diri Sejatinya, sehingga dapat mencapai Kesempurnaan
Agung Sejati dan Ke-Buddha-an.
Wanita Berjubah Biru lalu menjelaskan kepada
saya, bahwa sebagai murid Beliau yang terakhir dan termuda. Saya yang akan
merasakan akibat yang paling banyak. Dimana dikemudian hari, saya akan semakin dibenci
dan mendapatkan banyak masalah dari mereka yang demikian, karena hati mereka
selalu dipenuhi oleh rasa dengki dan iri-hati.
Wanita berubah biru juga menjelaskan bahwa
saya harus selalu tabah dalam menghadapi tantangan ini. Mereka
yang demikian, memang tidak pantas untuk menjadi murid Bunda Mulia. Mereka bukannya
membantu memutar Roda Dharma dan membantu mahluk dari segala penderitaan. Tetapi
justru menghambat dan mempersulit tugas saya. Saya tidak boleh menghabiskan
waktu dengan percuma, hanya untuk mengurusi kebodohan dan kemelekatan pikiran
mereka.
Wanita Berjubah Biru, lalu menjelaskan kepada
saya. Walau demikian, Saya harus tetap mengasihani mereka, karena mereka yang
berbuat demikian kepada saya. Sebenarnya mereka telah mencelakakan dan
menjerumuskan diri sendiri. Dan, saya tidak boleh berputus-asa dalam membantu
para mahluk lainnya, karena masih banyak mahluk lain yang benar-benar sangat membutuhkan
bantuan dan bimbingan saya.
Mendengar nasehat yang tidak terduga-duga dari
Wanita Berjubah Biru, membuat saya sangat surprise sekali. Inilah untuk pertama
kalinya, Wanita Berjubah Biru menahan saya dalam membantu para mahluk.
Sebelum-sebelumnya, Wanita Berjubah Biru justru selalu
memberikan wejangan kepada saya, untuk lebih giat memutar Roda Dharma dan
membantu para mahluk dari segala penderitaannya. Beliau mengetahui benar akan
sifat saya. Dimana saya justru selalu berusaha menghindar dari apa yang
diharapkan Beliau.
Saya sendiri juga mengakui bahwa saya baru
akan aktif sepenuhnya membantu para mahluk dari penderitaan, hanya ketika
bersama Wanita Berjubah Biru. Tetapi bila tidak bersama Wanita Berjubah Biru,
saya lebih menyukai ketenangan dan pembinaan diri sendiri.
Setelah mendengar nasehat yang lain daripada
biasanya, saya mulai berusaha untuk intropeksi diri,dan merenungkan lebih dalam
lagi nasehat Beliau.
Sejauh ini, saya cukup lama mengenal Lama AY,
bahkan sebelum dirinya menjadi Lama (guru). Bahkan ketika AY masih merupakan murid dari
Master XXX. Setahu saya, AY telah berguru ke Master XXX lebih dari 5 tahun.
Kemudian, AY berpindah dari satu guru ke guru lainnya. Akhirnya AY lalu berguru
pada salah satu Rinphoce, dan beberapa tahun kemudian diangkat menjadi Lama
(Guru).
Diluaran Lama AY selalu mengaku bahwa saya
adalah Gurunya, walau Lama AY mengetahui bahwa saya tidak pernah mengangkatnya
sebagai murid saya. Kadang pula Lama AY juga berani menyatakan, bahwa dirinya adalah
murid dari Wanita Berjubah Biru. Walau Lama AY juga mengetahui bahwa Wanita
Berjubah Biru tidak pernah mengangkat sebagai muridnya juga.
Memahami akan keadaan Lama AY sepenuhnya, saya
akhirnya dapat lebih memahami akan nasehat Wanita Berjubah Biru. Ternyata begitu
banyak mahluk yang tampaknya ingin menjalankan pembinaan
spiritual, tetapi MOTIVASI pembinaan spiritualnya justru tidak sesuai dengan
pembinaan spiritual yang sebenarnya. Pembinaan Spiritual adalah pembinaan diri,
untuk mencapai Alam Spiritual Tinggi yang terbebaskan dari segala penderitaan.
Saya mengetahui dengan sepenuhnya akan
kehebatan yang sangat luar biasa dalam pembabaran Dharma dari guru-guru Lama AY,
yaitu Master XXX dan Rinpoche YZ. Tetapi tetap saja Lama AY, tidak dapat
memahami Ajaran Dharma Gurunya, sehingga Lama AY masih terus berkeliling dari
satu guru ke guru lainnya. Hal ini terjadi, karena apa yang diajarkan oleh
Master XXX atau Rinpoche YZ, dan apa yang diharapkan oleh Lama AY sangat
berbeda.
Saya teringat akan nasehat dari Bodhisattva
Danau Biru, yang pernah mengatakan kepada saya, "Guru menawarkan Sorga, Murid
mencari Neraka. Sorga yang ditawarkan, akhirnya sia-sia belaka. Walau Buddha
hadir dihadapnya, dan membabarkan Ajaran Dharma. Mereka tetap saja tidak dapat
mengetahui dan memahaminya.".
Mereka yang demikian, justru akan lebih
memberatkan Gurunya. Dan ternyata terbukti nyata. Dimana saya juga melihat
sendiri, betapa kasihannya Rinpoche YZ, mendapatkan perlakuan dari
murid-murid yang demikian. Murid-murid Rinpoche YZ, bukan saja tidak memahami
Ajarannya, tetapi mereka bahkan berani berbuat dan berkata yang menjelekan Guru
mereka sendiri. Bahkan banyak dari mereka, yang mengakui dan merasa lebih suci
dari para Guru-Guru Spiritual mereka.
Jika saja mereka selalu menyadari bahwa dalam
Tantrayana, samaya antara murid dan Guru sangat penting sekali. Dimana ikatan
antara Murid dan Guru, dapat melebihi ikatan antara Anak dan Orang Tua. Mereka
seharusnya menyadari bahwa Karma Buruk dari Anak Durhaka saja sudah sangat
berat, apalagi Karma Buruk dari Murid Durhaka. Neraka yang paling dalampun,
mungkin masih terlalu ringan baginya.
Sungguh kasihan perjalanan hidup para mahluk
pembina yang demikian. Seharusnya mereka dapat menyadari, bahwa karma baik
mereka yang sedemikian besar, sehingga dapat berjumpa dengan berbagai Guru
Spiritual, agar tidak disia-siakan dengan percuma. Seharusnya mereka menyadari,
bahwa: Untuk dapat bertemu dengan Guru Spiritual, merupakan kesempatan yang
sangat langkah. Apalagi dapat mendengar Ajaran Dharma dan diterima menjadi
umat.
Tetapi, setelah menjadi umat. Ternyata,
mereka tidak dapat memanfaatkan kesempatan baiknya. Mereka tidak lagi menyadari bahwa
umur mereka semakin tua, dan kemampuan untuk membina Ajaran Dharma semakin
berkurang. Bila karma baik sudah habis, jangankan bertemu Guru Spritual,
mendengarkan Ajaran Dharma saja sudah tidak memungkinkan lagi.