Telah menjadi banyak tradisi dari beberapa
aliran, dimana para mahluk yang mulai memasuki kehidupan spiritual akan
mendapatkan nama dharma. Dimana salah satu maksud dari tradisi pemberian nama
dharma agar umat tersebut benar-benar dapat merasakan dan memahami arti
kelahiran kembali sebagai mahluk spiritual.
Salah satu cara pemberian nama dapat
mengambil nama-nama para mahluk suci atau istilah dan nama religius yang
bermakna yang positif, sehingga mereka yang memiliki nama tersebut dapat
mencontoh dan memahami kehidupan dari nama dharmanya sebagai pedoman dan
pegangan dalam kehidupan spiritualnya. Pemberian nama dharma dapat juga
diberikan berdasarkan pandangan spiritual dari sang guru terhadap murid
tersebut, atau dari pencapaian kehidupan spiritualnya.
Para umat masing-masing dapat saling
menggunakan panggilan nama dharma, sehingga secara tidak langsung mereka telah
saling menghargai, menjaga dan mengingatkan akan kedudukannya sebagai mahluk
spiritual. Dengan demikian para umat dapat saling membina kehidupan
spiritualnya bersama-sama, tidak hanya disaat berpuja-bakti tetapi juga dalam
kehidupan sehari-harinya di masyarakat.
Bagi umat yang telah mendapatkan dan
menggunakan nama dharma, tentunya harus terus menjaga agar nama dharma yang
disandingnya tetap mempunyai arti yang positif. Segala perbuatan dan ucapan
para umat harus sesuai dengan nama yang disandingnya, karena sangat janggal
sekali bilamana perbuatan umat tersebut bertentangan dengan nama dharmanya.
Bilamana hal ini terjadi, maka secara tidak langsung umat tersebut telah
mencemarkan sakralitas nama dharma dan sakralitas nama para mahluk suci.
Perwujudan nama dharma dapat juga terjadi
secara alamiah. Mereka yang sebelumnya mungkin dijuluki dengan nama "Mr.A yang
pemarah", "Mr. B si pemabok", "Mr. C penipu", dsb. Setelah mereka menjalankan
ajaran dharma, orang lain akan melihat perubahan dalam perbuatan dan
ucapannya. Sehingga tidaklah mengherankan bilamana orang lain mulai mengganti
nama julukan menjadi "Mr.A yang sabar", "Mr. B si alim", "Mr. C yang jujur",
dsb.
Inilah suatu tanda adanya kualitas yang
terkandung didalam nama yang terbentuk dari kehidupan spiritual. Dimana
perubahan ini sebenarnya juga merupakan pemberian nama yang alamiah bagi para
mahluk yang terlahir kembali didalam kehidupan spiritual.
Contoh lain yang dapat saya berikan adalah
tentang guru saya, Wanita Berjubah Biru. Saya menyebut guru saya dengan
sebutan "Ama", tetapi beliau mempunyai banyak nama julukan yang aneh-aneh.
Yang paling umum digunakan sebagai panggilan nama Dharma beliau adalah "Wanita
Berjubah Biru",dan "Putri Bunda Mulia". Masih banyak nama-nama panggilan
lainnya seperti: Se-Ku, Guru Para Guru Besar, Ratu Alam Im, Wanita yang
melihat Sorga dan Neraka, dsb.
Nama "Wanita Berjubah Biru" lebih banyak
dikenal secara umum karena beliau selalu mengenakan Jubah Mulia Biru sebagai
tanda pengikut aliran Bunda Mulia. Nama panggilan "Wanita Berjubah Biru",
merupakan nama yang sangat sederhana dan tidak terlalu membesar-besarkan.
Sungguh suatu bukti nyata yang pantas diikuti akan kerendahan hati beliau yang
sudah sangat jarang dijumpai. Dimana di zaman sekarang ini, para mahluk saling
telah terbiasa untuk berlomba-lomba dipanggil dengan sebutan bermacam-macam
gelar dan panggilan kehormatan.
Beliau juga sangat terkenal di alam halus
hingga alam roh suci lainnya, dimana banyak pula mahluk suci yang memberikan
julukan kepada beliau sebagai "Guru Spiritual Maha Hebat", "Guru Wanita Maha
Mulia", "Guru Tanpa Batas", dsb. Saya sebagai murid beliau sendiri, pada
awalnya selalu merasa bingung ketika para mahluk suci menyebut beliau dengan
sebutan yang beraneka-ragam. Ternyata pencapaian dan kerja keras beliau dalam
menolong para mahluk sampai terdengar hingga ke alam para mahluk suci lainnya.
Sungguh suatu misteri spiritual yang sulit dimengerti oleh umat awam.
Panggilan nama yang sangat luar biasa banyak
digunakan oleh para mahluk disegala alam untuk menyebut nama beliau. Tetapi
beliau tetap tidak terikat dengan segala macam julukan dan kehormatan
tersebut. Beliau tetap sangat rendah hati dan tidak bersombong diri dalam
menjalankan tugasnya. Saya sendiri memanggil beliau dengan sebutan Ama,
sebutan ini atas permintaan beliau karena beliau memang menjadikan saya
sebagai cucu spiritualnya didalam kehidupan ini.
Beliau juga menjelaskan bahwa sebagai cucu,
bukan suatu hal yang menyenangkan karena akan memikul tugas yang sama seperti
beliau dikemudian hari. Beliau menanyakan apakah saya menyesal ? Dengan
sejujurnya, saya tidak dapat menjawab beliau, karena saya telah mengetahui,
melihat dan merasakan sendiri suatu tugas yang sangat sulit dijalankan. Saya
tidak berani membayangkan sedikitpun apakah saya mampu atau tidak mengemban
tugas dari beliau dan Bunda Mulia.
Kesulitan menjawab pertanyaan dari beliau,
karena saya telah benar-benar menyadari akan sifat-sifat dari pikiran para
mahluk yang sangat luar biasa dan selalu memperdaya kesadaran para mahluk.
Keterikatan dan kemelekatan pikiran para mahluk, merupakan suatu hal yang
sulit diatasi. Para mahluk tidak menyadari bahwa dirinya semakin lama semakin
terperdaya oleh pikirannya sendiri.
Bilamana mereka sendiri tidak memperdulikan
kehidupannya, bagaimana mungkin saya dapat menyadari dan menolong mereka ?
Para mahluk tidak lagi menyadari bahwa keinginan mereka sungguh tidak
terbatas. Tanpa terbebaskan dari segala sumber keinginan yang selalu timbul,
bagaimana mungkin para mahluk dapat terbebaskan dari penderitaan. Sungguh
suatu tugas yang sulit dijalankan dan dijelaskan.
Selanjutnya, bilamana para mahluk telah
mengetahui suka-duka yang sebenarnya dalam menjalankan tugas dari Bunda Mulia
untuk membantu meringankan segala penderitaan para mahluk, saya dapat
memastikan bahwa mereka semua akan menjauhi dan menghindarinya. Tetapi tugas
ini telah menjadi tanggung jawab dari anak-anak Bunda Mulia, mereka diutus
oleh Bunda Mulia untuk menjalankan tugasnya membantu para mahluk.
Dalam menjalankan tugas dari Bunda Mulia,
mereka mendapatkan julukan sebagai Anak Bunda Mulia, Utusan Bunda Mulia, dsb.
Bagi mahluk lain tentu merasa julukan tersebut merupakan suatu yang
menyenangkan. Dimana sebenarnya bagi para pengemban tugas Bunda Mulia,
mendapatkan julukan tersebut merupakan panggilan agar selalu ingat akan tugas
yang harus dijalankan.
Sungguh suatu hal yang sulit dibayangkan bila melihat
sulitnya tugas yang dipikul, tetapi dengan keyakinan dan kesabaran yang penuh
semua tugas pasti dapat diselesaikan. Bunda Mulia selalu membimbingnya, dalam
menjalan tugas mulia untuk membantu meringankan penderitaan para mahluk.