Merasakan, Insting atau Ilham ?
(dikutip dari buku
"Kisah-Kasih Spiritual Bagian XIII : Wisnu Prakasa")
Seorang umat wanita menceritakan bahwa dirinya kalau lagi
sendirian sambil tiduran, merasa ada sesuatu muncul mengajak bercakap-cakap,
kadang kalau udah kelamaan dia akan bilang, udah bobo, mandi dulu, belajar dulu
dsb. Yang menjadi kendala dari umat wanita ini, setelah itu dirinya tidak bisa
mengingat seluruhnya, hanya beberapa aja, intinya yang kadang mengajarkan akan
kesambaran dan cinta kasih. Dan yang menjadi pertanyaan umat wanita ini, apakah
ini adalah Kesadaran, Insting, atau Ilham ?
Untuk menjelaskan masalah umat wanita ini, saya mengajaknya
untuk beharti-hati:
Jika Buddha Datang, kedatanganya seperti RAJA SETAN YANG LAGI MARAH, Tetapi
kalau SETAN datang, Kedatangnya seperti BUDDHA.
Setan datang, pasti bicaranya yang baik-baik, mengajar yang
baik, dsb. sebab kalau setan datangnya, langsung berbicara dan mengajar jahat,
semua orang udah tahu itu pasti setan.
Satu hal yang harus dipahami oleh para pembina Ajaran
Kesadaran Sejati, apapun bentuknya gambaran yang timbul dalam kesadaran yang
jernih itu adalah Gambaran Pikiran. Walaupun mengajarkan segala kebaikan,
memberikan ide dan jalan keluar, memberitahukan kejadian yang belum terjadi,
meramal, hingga mengajar yang tidak baik, dsb. Semua yang memperdaya Kesadaran
Sejati, adalah bentuk dari jelmaan Gambaran Pikiran. Berhati-hatilah dengan
jelmaan gambaran Pikiran, yang selalu memperdaya Kesadaran Sejati.
Bila Kesadaran Sejati selalu terjenihkan, apa yang dirasakan
adalah Apa adanya saat ini juga, “Keadaan ini yang seperti ini adanya, TITIK”
Insting dan Kesadaran juga jauh berbeda. Jika dalam kehidupan
binatang, mereka banyak mengandalkan instingnya. Seperti, seekor penyu yang
lahir dipantai, setelah menetas mempunyai insting untuk berenang kelaut. Seekor
anak macan yang baru lahir, tidak takut melihat ibunya. Alamiah dari kekuatan
insting ini yang membuat mereka demikian, dan pengaruh insting ini sebenarnya
bersumber dari ikatan-ikatan karma kehidupannya masa lampaunya. Secara kasarnya,
saya dapat mengatakan bahwa manusia yang meninggal dengan keterikatan pikiran
akan rasa takut, rasa serakah, rasa rakus, dan hawa nafsu, akan memiliki alamiah
dilahirkan menjadi binatang yang memiliki insting-insting yang demikian.
Berbeda dengan kelahiran manusia, yang memiliki kemampuan
lebih dari sekedar insting, alamiah manusia memiliki Akal Budi dan Kesadaran
yang harus dibina dan dikembangkan. Manusia tidak boleh mengandalkan instingnya
saja. Jika kehidupan binatang semakin tua, instingnya semakin kuat dan tajam,
tetapi kehidupan manusia yang memiliki akal budi dan kesadaran, semakin tua
seharusnya semakin welas asih dan bijaksana.
Masalah kata Ilham, mencangkup pengertian yang sangat luas.
Untuk ini, saya membatasi kata Ilham, dalam arti ‘Bisikan dari dalam’. Bisikan
ini bisa berasal dari PIKIRAN sendiri atau yang lainnya.
Satu hal yang harus dipahami oleh para pembina Kesadaran
Sejati, bahwa KESADARAN tidak mungkin menimbulkan Ilham. Bagaimana telinga
dapat mendengar telinga sendiri ? Bagaimana mata dapat melihat mata sendiri ?
Dalam masalah ilham, jika bisikan ini bersumber, timbul atau
diterima oleh Pikiran, maka kemungkinan besar bisikan ini berasal dari
Gambaran Pikiran itu sendiri, atau dari gambaran pikiran lainnya, seperti roh
dan setan gentayangan.
Walau pada pembinaan tahap spiritual tertentu, tidak menutup
kemungkinan alamiah Kesadaran Sejati yang dapat menangkap sesuatu seperti ilham
atau bisikan dari alamiah alam Mahluk Suci. Pencapaian ini hanya bisa dicapai bila Kesadaran Sejati telah
mencapai tingkat kejernihan yang lebih tinggi, sehingga Kesadaran Sejati dapat
mencapai alamiah Kesadaran Mahluk Suci.
Hanya dengan tingkat Kejernihan Kesadaran Sejati, maka
Kesadaran Sejati baru dapat menangkap alamiah Ilham dari Alam Mahluk Suci.
Mengapa ? Karena Tingkat Mahluk Suci itu hanya bisa dicapai dengan Kesadaran
Sejati yang jernih. Mahluk Suci itu adalah mahluk yang memiliki kesadaran sejati
yang telah terbebaskan dari segala gambaran kemelekatan pikiran. Maka dari itu , hanya
dengan kesadaran sejati yang jernih, baru dapat menangkap alamiah dari alam dari
Mahluk Suci.
Pahamilah bahwa alamiah timbulnya roh-roh gentayangan,
setan-setan penasaran, dsb. Itu ada karena kemelekatan gambaran mereka sendiri,
yang tidak memahami kesadaran sejatinya. Sehingga kita mengenal banyak roh-roh
gentayangan dari mereka yang meninggal karena dibunuh, bunuh diri, dsb. Ketidak
wajaran pada proses kematian, dan ketidak terimaan mereka akan kematiannya,
akhirnya menjadikan gambaran pikiran yang demikian menjadi roh-roh gentayangan.
Dengan demikian, saya mengingatkan kembali kepada para pembina
Kesadaran Sejati:
Jika Pikiran masih memperbudak, dan Jika Kesadaran masih
belum terjenihkan selalu. Tidak mengherankan bila kita hanya dapat mendengar
Bisikan-Bisikan roh dan setan yang gentanyangan saja.
Saya pastikan bahwa TIDAK MUNGKIN dapat merasakan,
mendengar, melihat, apalagi memahami alamiah Mahluk Suci Tingkat Tinggi, dengan
PIKIRAN.
Berhati-hatilah dengan mereka yang mengaku-ngaku
memiliki kemampuan spiritual, tetapi mereka sendiri masih diperbudak
oleh Pikiran sendiri.
— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta
Thien Cun —