Menjalankan Kehidupan Spiritual
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih Spiritual Bagian
7 - oleh: Wisnu Prakasa")
Seorang umat bertanya mengapa saya memutuskan untuk
menjalankan kehidupan spiritual. Alasan saya berawal dari logika yang sangat
sederhana, dimana saya banyak melihat segala macam kepalsuan dan ketidak
abadian.
Setiap mahluk mengejar apa yang mereka anggap sebagai
kebahagiaan, tetapi setelah tercapai apa yang dianggapnya sebagai kebahagiaan
akan perlahan-lahan hilang dan berganti dengan yang lainnya. Inilah yang saya
anggap sebagai kepalsuan, dimana kebahagiaan yang kita usahakan selama ini
hanya kebahagian yang palsu.
Saya melihat seorang anak perempuan yang memainkan boneka
bayinya, dirinya menganggap sebagai ibu dari boneka bayinya. Segala kelakuan,
ucapan, dan ekpresinya benar-benar menyatu dalam permainannya, kadang tampak
anak perempuan ini menyayangi bonekanya kemudian memarahinya dan tampak
kesedihan diwajahnya, lalu mendadak menjadi ekpresi kegembiraan, semuanya yang
datang saling berganti-gantian. Anak perempuan ini menganggap permainannya
sangat menyenangkan.
Semua orang dewasa mengetahui bahwa anak kecil akan tumbuh
menjadi dewasa, dan setelah anak perempuan ini tumbuh dewasa maka boneka
bayinya tidak lagi dapat memberikan kepuasan kebahagiaan seperti sebelumnya.
Sebagai orang yang telah tumbuh dewasa, kita dapat memahami bahwa kebahagiaan
anak perempuan ini bukan suatu kebahagiaan yang abadi. Tetapi sang anak
perempuan selalu menganggap bahwa kebahagiaan dalam permainannya adalah
kebahagiaan yang sebenarnya.
Demikian pula saya melihat para orang dewasa yang sedang
bermain-main dengan nama, karier, jabatan, kedudukan, uang, dsb. Mereka sedang
sibuk bermain dengan mainannya masing-masing. Mereka akan senang bilamana
mendapatkannya, dan merasakan kesedihan bilamana gagal dalam mendapatkannya.
Semua kegembiraan dan kesedihan datang silih berganti tiada hentinya. Mereka
selalu menganggap bahwa mainannya mereka dapatkan adalah sumber utama
kebahagiaannya.
Saya menyadari dengan sebenarnya bahwa setelah menginjak
usia lanjut dan menyadari bahwa kematian telah hampir datang, semua mainan
yang telah mereka dapatkan tidak ada yang dapat membantunya menghadapi
kematiannya. Kebahagiaan yang selalu mereka usahakan dengan berbagai cara
akhirnya akan hilang dalam sekejab, walaupun mereka telah mendapatkannya.
Kebahagiaan yang mereka capai merupakan kebahagiaan yang tidak abadi.