Mengetahui Waktu Meninggal
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih
Spiritual Bagian 4
- oleh: Wisnu Prakasa")
Banyak murid yang selalu membicarakan kehebatan gurunya,
karena gurunya telah memberitahukan waktu meninggalnya, bahkan lebih hebat lagi
bila sang guru dapat memberitahukan akan inkarnasi berikutnya.
Sungguh sayang para murid ini tidak memahami bahwa mereka
hanya terikat akan ramalan guru mereka, tetapi mereka tidak menyadari makna
sesungguhnya.
Guru mereka memberitahukan kematiannya, agar para murid
menyadari bahwa kematian akan datang dan harus dihadapi oleh setiap orang.
Tetapi mereka berbangga hati mengetahui bahwa ramalan guru mereka pasti akan menjadi kenyataan, tanpa menyadari bahwa mereka telah kehilangan guru mereka.
Mereka tidak menyadari bahwa jantung hati mereka telah hilang separuh, dengan
kematian gurunya.
Mereka tidak lagi menyadari
bahwa gurunya telah memperingati mereka akan kematian yang sudah pasti akan
datang, dan para muridnya seharusnya dapat membina kehidupan spiritual lebih
giat lagi. Sang guru menunjukan bahwa dengan menjalankan ajarannya, maka
kematian bukan lagi suatu hal yang harus ditakuti tetapi kematian adalah proses
alamiah yang harus dihadapi.
Bilamana mereka menyadarinya, mereka seharusnya memohon
lebih banyak petunjuk dari Sang Guru sehingga pembinaan spiritual mereka dapat
lebih baik. Ingatlah bahwa kesempatan mereka untuk menerima ajaran dan bimbingan
dari sang guru semakin hari, akan semakin pendek. Jangan sia-siakan kesempatan
yang sangat berharga ini, karena mendapatkan kesempatan menjadi seorang murid
dari seorang guru pembimbing spiritual adalah suatu berkah yang sangat luar
biasa dan sangat langkah dimasa kini.
Sangat disayangkan banyak murid yang
terjerat dan terperdaya oleh kebodohan mereka. Akhirnya mereka hanya terfokus dan
penasaran hanya ingin membuktikan kata-kata dan ramalan sang guru. Lebih
parahnya lagi, mereka juga penasaran untuk membuktikan apakah
gurunya setelah meninggal akan meninggalkan tanda-tanda spiritual seperti
meninggalkan salira, salice, tubuh pelangi, tubuh mengecil, atau kejadian aneh lainnya.
Mereka tidak menyadari
bahwa adanya peninggalan-peningalan tersebut, bukan sesuatu yang
dipermasalahkan. Mereka tidak memahami bahwa setelah
guru mereka meninggal maka tidak ada lagi yang dapat membimbing mereka dalam
kehidupan spiritualnya. Akhirnya mereka cenderung hanya memperebutkan dan
menganggap sisa-sisa peninggalan guru tersebut menjadi suatu yang
berlebih-lebihan. Mereka menganggap bahwa sisa-sisa peninggalan tersebut adalah
berkah yang luar biasa dari gurunya.
Saya menjelaskan dengan
sebenarnya bahwa memang benar adanya, bahwa sisa-sisa peninggalan para mahluk
yang telah mencapai PASTI mengandung berkah yang luar biasa. Hal ini terjadi
karena sifat alamiah dari para mahluk suci yang memang selalu membantu para
mahluk lainnya dari segala penderitaan.
Tetapi saya mengingatkan
kembali kepada para mahluk, bahwa Ajaran dari para mahluk yang telah mencapai
adalah jauh lebih besar berkah dan manfaatnya dibandingkan segala macam
sisa-sisa peninggalan mereka. Ajaran-ajaran para mahluk yang telah mencapai ini
bagaikan suatu warisan mulia yang berupa peta petunjuk untuk berkumpul bersama
di dalam Pencapaian Agung tanpa batas.
Tidak terlalu
penting
untuk mengetahui waktu
meninggal.
Tetapi sangatlah penting
untuk
mengetahui bagaimana menghadapi kematian.
( Jakarta 1997)