Masih Sebagai Manusia
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih Spiritual Bagian 1
- oleh: Wisnu Prakasa")
Saya masih sebagai manusia,
Wajar kalau saya masih.....
Saya masih sebagai manusia,
Tentu masih membutuhkan.....
Saya masih sebagai manusia,
Tentu harus....
Saya masih sebagai manusia, ……….
Wajar saja ....
Saya masih ........
Saya bertemu dengan berbagai macam umat dari aliran yang
besar dan hingga yang tanpa aliran, dan ungkapan ini banyak sekali saya
dengar setiap saat. Kiranya "masih sebagai manusia" merupakan alasan
yang tepat untuk membenarkan sesuatu perbuatan yang salah. Alasan ini selalu
di ungkapkan untuk memaksakan agar perasaan bersalah yang timbul tidak
membayanginya lagi.
Bilamana hal ini menjadi kebiasaan, maka semakin kecil hati
nurani yang timbul untuk memperingatkan kesalahan yang diperbuat. Sehingga
selanjutnya akan mengakibatkan dirinya dengan mudah untuk melakukan kesalahan
yang semakin besar di kemudian hari.
Bilamana saya menanyakan kepada sekawanan setan, mereka
juga akan berkata:
"Saya masih sebagai setan, maka wajarlah kalau masih mengganggu
manusia."
Atau bilamana saya menanyakan kepada mahluk asura, merekapun akan
berkata:
"Saya masih sebagai mahluk asura, maka wajarlah kalau masih mempermainkan
manusia."
dan bilamana saya menanyakan kepada para dewa-dewi merekapun akan
berkata:
"Saya masih sebagai dewa, maka wajarlah kalau masih ingin dihormati oleh
manusia."
Saya menyadari bahwa sebagai mahluk di alam samsara selalu
tidak luput dari kesalahan, tetapi hal ini bukan sebagai suatu penghalang
untuk terus berlatih Dharma dan membina diri dalam mencapai Kesempurnaan
Agung. Terlebih-lebih bilamana kita telah menyadari terlebih dahulu sebelum
melakukan perbuatan salah. Dimana segala macam gambaran pikiran mulai timbul
sebagai alasan untuk menghibur diri, sehingga akhirnya kita akan lebih berani
untuk melakukan segala perbuatan salah tersebut. Alasan-alasan yang timbul
sebagai penghibur diri, sebenarnya merupakan permainan dari pikiran kita yang
memang sifatnya selalu memperdaya kesadaran sejati..
Bilamana telah mengetahui dan menyadari bahwa pikiran
selalu memperdaya tanpa henti-hentinya, maka seharusnya kita harus berusaha
untuk membatasi ruang lingkup pikiran. Janganlah mudah terperdaya oleh tipu
muslihat dari penjelmaan gambaran pikiran yang selalu mencari segala macam
cara dan alasan untuk memenuhi keinginan yang tidak pernah dapat terpuaskan.
Bila kita tidak dapat menyadari gambaran pikiran yang mulai
timbul, berusahalah untuk merubah gambaran dan kemauan yang negatif menjadi
suatu hal yang positif. Sehingga kita dapat memetik hasil yang lebih baik,
sebagai contoh: Kita dapat menggunakan alasan "Saya masih sebagai
manusia." sebagai alasan yang positif. Rubahlah alasan negatif tersebut
menjadi motivasi kearah yang positif, seperti" Saya masih sebagai
manusia, maka saya harus selalu berlatih Dharma Mulia agar terbebaskan dari
segala penderitaan dan lingkaran kelahiran samsara."
Bunda Mulia pernah mengajarkan saya dengan mengumpamakan
keadaan ini dengan istilah "Setan memukul setan". Secara umumnya
diartikan: menggunakan setan untuk untuk mengalahkan setan. Demikian pula pada
awalnya, para pembina dapat mengunakan pikiran untuk mengalahkan pikiran.
Merubah gambaran pikiran negatif, menjadi gambaran pikiran yang lebih positif.
Cara melawan pikiran dengan pikiran telah dilakukan oleh
penduduk Jawa (di Indonesia) sejak berabad-abad yang lampau, dimana mereka
selalu akan diingatkan untuk menyebut (Nama Sang Hyang Widhi) bilamana mereka
mengalami atau berniat melakukan suatu hal yang kurang baik.
Cara lain dapat pula dilakukan dengan pembacaan kitab-kitab suci dan
mantra-mantra, mereka yang rajin membaca kitab suci dan mantra sebenarnya
telah membina pikiran kearah yang positif sehingga gambaran pikiran yang
kurang baik tidak lagi dapat menguasainya.