Kerajaan Yang Tersihir
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih
Spiritual Bagian 1
- oleh: Wisnu Prakasa")
Kisah ini saya dapatkan ketika utusan Bunda Mulia,
Bodhisattva Danau Biru menurunkan ajaran khusus kepada saya di Hua Lien.
Pada suatu masa beberapa kalpa yang lampau, terdapat sebuah
kerajaan yang sangat makmur karena dibimbing oleh seorang raja yang bijaksana
dan murah hati. Seluruh rakyat sangat mencintai sang raja, bahkan ada pula
yang memujanya sebagai titisan dari dewata. Segala pujian dan penghargaan
selalu dibicarakan oleh banyak rakyat tanpa habisnya.
Mengetahui kebaikan dan kebijaksanaan raja itu, Bunda Mulia
mengutus salah satu Bodhisatva dari Sorga Danau Biru (Jade Pond Paradise)
untuk memberikan suatu Ajaran Kebijaksanaan Sejati kepada sang raja. Lalu
Bodhisatva memutuskan untuk membuat seluruh rakyat dan penghuni istana berkata
kebalikan dari apa yang dimaksud kecuali sang raja sendiri. Pada awalnya raja
ini belum menyadari sepenuhya apa yang terjadi, dia hanya merasa sedikit aneh
atas tingkah laku pengawalnya.
"Pengawalku kemari." Kata sang raja, ternyata
pengawal yang dipanggil tersebut pergi meninggalkannya, bukan datang mendekati
seperti yang dikehendakinya.
Setiap sang raja memanggil pengawalnya, pengawal yang
dipanggilnya selalu meninggalkannya. Rajapun bingung karena segala yang di
ucapkan, selalu dilakukan sebaliknya oleh para pengawalnya. Diapun memutuskan
untuk melihat keadaan diluar istana, dan ternyata seluruh rakyat berbuat sama
seperti para pengawalnya.
Sang raja merasa bahwa seluruh orang di negerinya telah
menjadi gila, bahkan keluarga dan permaisurinya juga telah berubah. Sang raja
sangat bersedih hati karena seluruh orang di negerinya terserang wabah
penyakit gila.
Sementara itu, seluruh pengawal dan menteri-menterinya
mulai merundingkan untuk mencari pengganti sang raja. Mereka menggangap raja
mereka telah menjadi gila. Dan banyak rakyat yang mulai mendukung rencana para
menteri untuk mencari pengganti sang raja. Mereka yang sebelumnya menghormati
sang raja ini, telah mulai menyingkirkan patung dan gambar sang raja. Mereka
takut tertular penyakit dan menjadi gila apabila masih menyimpan patung dan
gambar sang raja.
Hanya dalam beberapa hari seluruh rakyat tidak lagi
mengingat akan kebaikan dan kebijaksanaan sang raja selama bertahun-tahun.
Mereka sekarang hanya membicarakan tentang sang raja yang telah menjadi gila.
Sang raja menyadari bahwa seluruh penghuni istana dan rakyatnya mulai menjauh
darinya. Sang raja akhirnya hanya mengucilkan diri di dalam kamarnya, bahkan
dirinya memutuskan untuk tidak ingin bertemu dengan permaisuri dan para
pejabat istana lagi.
Pada suatu pagi, sang raja secara dam-diam menyelinap ke
taman istana untuk berjalan-jalan menikmati bunga-bunga dan embun pagi. Pada
kesempatan ini bodhisatva dari Sorga Danau Biru menjelmakan dirinya menjadi
seorang nenek tua, lalu menemui sang raja di taman istana.
"Paduka, mengapa paduka tampak sangat bersedih
hati" tanya nenek tua.
"Nenek, aku sangat bersedih karena seluruh orang
dinegeriku telah menjadi gila. Mereka yang dahulu begitu hormat padaku bahkan
hingga memujaku sebagai titisan dewata, mendadak berubah menjadi takut dan
menjauhi diriku. Mereka benar-benar telah lupa akan kebaikanku selama
ini." kata sang raja dengan sedih.
"Mereka tidak tahu budi, semuanya gila !!!"
teriak sang raja dengan keras.
"Paduka, bilamana paduka menganggap mereka semua telah
gila. Bagaimana pandangan mereka terhadap paduka sekarang ?"
"Nenek tua, seluruh orang menganggap diriku gila.
Padahal, mereka yang gila semuanya. Dasar gila !!!" kata sang raja dengan
emosi yang meluap.
"Mohon maaf paduka, apakah mungkin seluruh rakyat
mempunyai pandangan salah dan hanya paduka sendiri yang benar ?"
"Ha…ha…ha….. Nenek tua. Bagaimana dengan dirimu
sendiri. Tampaknya hanya engkau yang tidak gila seperti lainnya. Hanya engkau
yang mengerti perkataanku sekarang." Kata sang raja sambil tertawa.
"Maaf paduka, hamba ini hanyalah seorang nenek tua
yang gila."
"Engkau mengaku sebagai nenek tua yang gila ?"
tanya sang raja dengan kebingungan.
"Benar paduka. Hamba hanyalah seorang nenek tua yang
benar-benar gila."
"Kalau begitu, diriku………" kata sang raja
dengan bingung.
"Maaf paduka, Apakah paduka sebagai raja yang normal
dari negeri yang gila, ataukah paduka sebagai raja yang gila dari negeri yang
normal ?"
Sang raja masih diam bingung memikirkan ucapan nenek tua.
"Paduka, Apakah paduka juga mempertimbangkan untuk
untuk menjadi raja gila di negeri yang gila ?" Tanya sang nenek sambil
menghilang dari pandangan bersama suara hembusan angin yang bertiup.
Sang raja lalu tersadar, tetapi dia tidak melihat nenek tua
lagi. Diapun bingung apakah sang nenek ini benar-benar muncul dihadapannya
tadi ataukah hanya dirinya yang sedang melamun.
Pertentangan yang kuat muncul didalam dirinya, antara
kehadiran sang nenek sebagai hal yang nyata ataupun tidak nyata, antara sadar
dan lamunan, dan antara gila dan tidak gila, dan juga pertentangan siapakah
sesungguhnya yang gila.
Tiba-tiba angin bertiup sedikit kencang sehingga sebuah
apel kecil yang belum matang terjatuh menimpa kepala yang raja. Sang raja
terhenti seketika dari kebingungan dan lamunannya. Tampak sebuah apel merah
yang telah masak dihadapannya. Sang raja memungut buah apel merah yang menimpa
kepalanya tadi, lalu dibersihkannya apel tersebut dari kotoran yang melekat.
Kemudian digigitnya apel tersebut. Tiba-tiba sang raja
menghentikan gigitan pertamanya, tampak mendadak wajah sang raja menjadi
tersenyum cerah dengan penuh keyakinan. Tidak lagi tampak kecemasanan dan ke
bingungan di wajahnya seperti sebelumnya. Tampak ada suatu hal misterius
sehingga sang raja mendadak menjadi percaya diri dan yakin akan kebenarannya
keputusannya selanjutnya.
Keputusan sang raja tidak dapat saya lanjutkan dengan dasar
untuk mencegah salah pengertian dalam membina ajaran Dharma Bhodisatva Danau
Biru. Kelanjutan kisah ini hanya dapat dimengerti oleh mereka yang telah
membina dan memahami Ajaran Dharma Sang Bhodisatva Danau Biru.
Bilamana saya terus melanjutkan dan menjelaskan dengan
keterbatasan kata-kata tulisan saja, semua ini tidak dapat menggambarkan apa
yang dimaksud dengan intisari ajaran Dharma Bodhisatva Danau Biru yang diutus
oleh Bunda Mulia. Intisari ajaran yang sebenarnya jauh melampaui konsep
pikiran, perkataan dan bahasa yang ada.
Selanjutnya, saya mengajak para pembaca untuk mamahami dan
merenungkan lebih jauh kisah ini. Dimana kisah ini sebenarnya masih terus
berlanjut dan dialami sendiri oleh para mahluk di dalam kehidupan setiap saat.
Pada kehidupakan sehari-hari, kadangkala para mahluk
bertindak sebagai sang raja dan kadangkala juga bertindak sebagai rakyat
seperti dalam cerita tersebut. Bukankah kehidupan yang kita jalani secara
tidak langsung sama seperti cerita tersebut.
Sesungguhnya setiap pembaca dapat melanjutkan cerita sesuai
dengan kehidupannya masing-masing.
Saya hanya dapat mendoakan, Semoga Intisari Ajaran Dharma Bodhisatva Danau
Biru dapat terungkap kembali dari salah satu pembaca dikemudian hari.