Kisah Raja Wuti
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih
Spiritual Bagian 1
- oleh: Wisnu Prakasa")
Sorga Danau Biru dari Bunda Maha Mulia Semesta Barat secara
spiritual letak paralel di bumi berada di atas puncak gunung Kun-Lun (daerah
tibet dan china). Gunung Kun-Lun telah lama menjadi salah satu gunung yang
sangat terkenal namanya bagi para pembina kehidupan spiritual karena merupakan
salah satu gunung yang memiliki sakralitas yang tinggi karena letak paralelnya
sebagai pilar dari alam semesta.
Di sorga Danau Biru terdapat pohon semesta yang menunjang
alam semesta. Pohon ini bagaikan pohon Peach yang sangat besar, dimana buahnya
di dambakan oleh seluruh mahluk suci, dewa-dewi dan para mahluk lainnya. Pohon
Peach ini hanya berbuah setiap 3 ribu tahun sekali. Dan tidak satu mahluk
diperbolehkan memetiknya tanpa izin dari Bunda Mulia. Pohon semesta terletak
di tengah taman sorga yang sangat indah sekali, dan semuanya di bawah
pengawasan langsung dari Bunda Mulia Ratu Besar, Dewi Yauw Ce Cin Mu Ta Thien
Cun.
Alkisah di zaman dinasti Han beberapa masa yang lampau,
seorang pendeta bernama Tung Fang So (di sutra jepang di namakan Tobosaku, dan
dalam kesenian jepang dikenal sebagai Jolly Old Man, yang memegang sebuah
peach di dadanya dan melakukan tarian persembahan. Juga kadang digambarkan
sebagai pertapa tua (dreamy sage) yang membawa 2 atau 3 buah peach yang
ditemani oleh manjangan emas sebagai symbol umur panjang).
Pendeta Tung Fang So adalah penasehat dari raja Wu Ti, raja
ke empat dinasti Han yang berkuasa lebih dari setengah abad. Kisah-kisah raja
Wu Ti juga sangat populer dan dikenal di jepang dengan Kan no Buti.
Raja Wu Ti selalu ingin mendapatkan "Air
Kehidupan" atau "Buah Kehidupan". Dibangunnya banyak pagoda,
dengan dekorasi gambar para Budha, Bodhisatva dan para immortal yang memegang
Vase emas di tangannya. Semua ini dengan maksud untuk mengumpulkan embun suci
yang di percaya turun dari langit dan alam semesta. Raja Wu Ti selalu minum
dari air embun ini dengan keyakinan akan membuatnya muda kembali.
Suatu hari, saat raja Wu Ti berjalan di tamannya dan
melihat-lihat pagodanya. Raja Wu Ti melihat seekor burung walet hijau. Burung
walet merupakan lambang keanggunan di jepang dan china, dan warnanya yang
tidak umum merupakan petunjuk akan sesuatu hal yang luar biasa akan terjadi.
Raja Wu Ti mempercayai bahwa burung walet hijau sebagai pembawa berita dari
sorga.
Raja sangat heran akan kehadiran burung walet hijau ini,
lalu mengundang penasehatnya Pendeta Tung Fang So untuk mengungkapkan artinya.
Pendeta Tung Fang So lalu mendapatkan wangsi (pandangan spiritual) bahwa Bunda
Mulia akan berkunjung ke istana Raja.
Salah satu sinar penjelmaan Bunda Mulia ternyata
benar-benar datang berkunjung ke istana Raja Wu Ti, dimana tampak Bunda Mulia
duduk diatas Naga Emas Langit yang bercahaya putih dan keemasan. Seluruh tubuh
Bunda Ratu Besar memancarkan sinar emas berkilauan, sehingga alam bercahaya
emas yang luar biasa terangnya.
Bunda Mulia diiringi oleh para malaikat sorga dan bidadari
yang memegang nampan emas berisi 7 buah peach. Pendeta Tung Fang So secara
diam-diam menerima 3 buah peach dari Bunda Mulia . Lalu Bunda Mulia memberi
test kepada Raja Wuti dengan memberitahukan bahwa Pendeta Tung Fang So telah
mengambil 3 buah peach yang jatuh dari nampan emas yang di pegang oleh
bidadari pendamping Bunda Mulia.
Raja Wu Ti hanya bersujud di hadapan Bunda Mulia. Walaupun
sebagai raja, Raja Wu Ti dapat memerintahkan pendeta Tung Fang So untuk
memberikan buah peach kepadanya, tetapi Raja Wu Ti tidak melakukannya. Hal ini
membuktikan bahwa Raja Wu Ti tidak lagi di kuasai oleh emosi dan keinginannya
untuk menjadi muda kembali.
Bunda Mulia senang mengetahui bahwa Kesadaran Sejati Raja
Wu Ti benar-benar telah terbebaskan dari racun-racun didalam tubuh dan
kekotoran pikiran. Lalu Beliau tersenyum dan memberikan sebuah peach kepada
Raja Wu Ti untuk dimakannya. Raja Wu Ti lalu memakannya, seketika itu juga
dirinya menjadi immortal. Tubuh Raja Wu Ti menjadi moksa kembali ke Sorga
Danau Biru bersama Bunda Mulia .