Kisah Dewa Kematian
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih
Spiritual Bagian 1 - oleh: Wisnu Prakasa")
Guru pembimbing utama saya, Wanita Berjubah Biru banyak menjelaskan tentang
tugas-tugas dari para malaikat, dewa-dewi dan para mahluk suci yang ditentukan
oleh Bunda Mulia. Setiap malaikat dan dewa-dewi mempunyai tugas penting yang
khusus sesuai dengan tingkatan masing-masing. Dimana perintah dari Bunda Mulia
selalu dijunjung tinggi. Salah satu tugas yang cukup menarik adalah tugas dari
malaikat pencabut nyawa yang lebih di kenal sebagai sepasang dewa kematian,
yang oleh beliau selalu di namakan si Hitam dan si Putih.
Pasangan malaikat pencabut nyawa, si Hitam dan si Putih
mempunyai tugas membawa dan mengawal roh awal dari para mahluk yang telah tiba
ajalnya. Bilamana pada masa hidupnya, orang ini telah mengumpulkan banyak
karma baik. Si Hitam dan si Putih akan menjelma menjadi mahluk yang luar biasa
indahnya, dan menarik roh orang tersebut dengan halus tetapi cepat sekali,
kedua dewa ini membantu agar orang tersebut dapat melepaskan ikatan rohnya
tanpa harus merasakan sakit yang lama. Walaupun demikian, rasa sakit yang
dirasakannya tetap tidak dapat digambarkan dengan kata-kata.
Sebaliknya bilamana pada masa hidupnya orang ini telah
melakukan banyak karma buruk, si Hitam dan si Putih menjelma sebagai mahluk
yang sangat mengerikan dan akan menarik roh orang tersebut dengan kasar dan
perlahan-lahan. Orang ini akan mengalami proses kematian yang sulit dan rasa
sakit yang luar biasa. Sungguh suatu penderitaan awal yang sulit dibayangkan.
Wanita Berjubah Biru, sejak berumur lima tahun telah
mempunyai hubungan yang baik dengan kedua malaikat pencabut nyawa. Hubungan
beliau yang sejak kecil ini sangat terkenal tidak hanya terkenal didalam dunia
manusia, tetapi hingga didunia spiritual. Kisah kedua malaikat ini banyak saya
dengar dari beliau. Untuk ini saya mempersembahkan sebuah cerita tentang
sepasang malaikat pencabut nyawa. Semoga para umat dapat memetik hikmah dari
kisah ini.
Alkisah seorang nenek tua yang tinggal seorang diri di kaki
gunung wilayah Hua Lien. Seluruh keluarga dari nenek ini telah meninggal dunia
pada suatu wabah yang menimpa desanya beberapa tahun yang lalu.
Setiap hari nenek ini bekerja mencari kayu bakar untuk
dijual dipasar. Sebelum matahari terbit, dia sudah pergi ke atas gunung untuk
mengumpulkan kayu bakar. Di pagi hari dia harus sudah tiba di pasar untuk
menjual kayunya. Lalu uang hasil penjualan kayunya dibelanjakan untuk
kehidupan sehari-harinya. Tubuh nenek ini sudah sangat bongkok sekali, karena
harus meminggul kayu bakar yang berat.
Suatu hari si nenek jatuh sakit, tetapi si nenek tetap
memaksakan untuk pergi ke gunung mencari kayu bakar. Ketika hendak turun
gunung nenek tidak kuat lagi menahan sakitnya dan berkata dalam hati:
"Diriku sudah tua dan selalu menderita sakit. Umurku tidak lama lagi.
Semoga pada saat kematian nanti, saya tidak merasakan sakit lagi.".
Si Hitam dan si Putih rupanya mendengar permohonan nenek
ini, si Hitam dan si Putih merasa kasihan akan penderitaan sang nenek karena
harus bekerja keras setiap hari tanpa hentinya walaupun telah sakit-sakitan.
Mereka kemudian memutuskan untuk membantu sang neek dengan mempercepat ajal
sang nenek agar sang nenek dapat terbebaskan dari penderitaannya setiap hari.
Mereka lalu menampakkan diri, dan menanyakan nenek itu:
"Nenek, saya dapat membantu permohonan nenek."
Nenek sangat terkejut melihat si Hitam dan si Putih
dihadapannya, dengan ketakutan berkata,"Saya… tidak ingin mati, saya….
masih mau hidup."
Lalu sang nenek mengangkat kayu bakarnya yang berat , dan
berlari cepat meninggal si Hitam dan si Putih. Rupanya nenek ini berlari
dengan cepatnya tanpa memperdulikan rasa sakitnya lagi karena ketakutannya akan kehadiran kedua malaikat
pencabut nyawa.
Si Hitam dan si Putih merasa sangat heran, bukankah tadi
sang nenek memohon agar dapat meninggal tanpa harus merasakan sakit. Setelah
permohonannya akan dikabulkan, ternyata sang nenek malah menolaknya dan ingin
tetap hidup walaupun mengalami penderitaan dan kesakitan setiap harinya.
Kisah ini mempunyai banyak makna yang tersembunyi, kiranya
salah satu makna yang akan saya jelaskan adalah tentang masalah menjelang
kematian.
Datangnya kematian yang menjemput setiap mahluk, melalui
berbagai macam cara dan proses yang beraneka ragam. Ada yang melalui usia tua,
sakit, tidak sadar diri, musibah kecelakaan, terbunuh, dan bahkan di saat
meditasi, dsb.
Semua manusia akan meninggal, hanya cara dan prosesnya yang
berbeda-beda. Proses kematian tergantung daripada banyak hal, seperti: unsur
alam, waktu, keadaan lingkungan, karma atau perbuatan, kondisi tubuh, dsb.
Apapun proses yang akan dihadapi saat menjelang kematian bukanlah hal yang
harus ditolak atau dipaksakan, karena proses ketidak abadian ini tidak dapat
dihindari.
Walaupun telah mengetahui akan kematian yang pasti akan
tiba, manusia selalu mengangap bahwa kematian tidak akan datang secepatnya
pada dirinya. Bila kita membaca koran, kita dapat melihat setiap hari adanya
berita kematian yang datang setiap saat tanpa memperdulikan berapa lama usia
manusia.
Banyak manusia dengan sombong berkata bahwa dirinya tidak
takut menghadapi kematian. Bila saja mereka dapat melihat apa yang akan
terjadi setelah kematiannya, tentu mereka tidak berani dengan sombongnya
berkata demikian.
Lihatlah, Sang nenek walaupun sepanjang hidupnya penuh dengan
penderitaan yang luar biasa. Nenek ini juga tidak mempunyai anak-anak yang
harus di urusnya, dan juga tidak ada harta maupun hutang yang menjadi beban.
Boleh dikatakan tidak ada lagi kecemasan dan beban dunia yang memberatkan diri
sang nenek ini dalam menghadapi kematian.
Tetapi ketika Dewa Kematian benar-benar hadir menjemputnya,
sang nenek menjadi takut dalam menghadapi kematiannya. Walaupun dirinya telah
diberitahukan bahwa kematiannya tidak akan sakit sedikitpun, nenek ini tetapi
menolak kematiannya. Penderitaan sang nenek tidak dapat mengalahkan ketakutan
akan datangnya saat kematian.
Bagaimana kita dapat berkata tidak takut menghadapi
kematian, bilamana keterikatan akan duniawi masih melekat. Lagipula proses
kematian kita belum di janjikan tanpa rasa sakit oleh Dewa Kematian.
Ketakutan sang nenek akan Kematian tidak lagi bersumber
dari unsur luar maupun dari ikatan duniawi lagi. Ketakutan sang nenek
disebabkan karena sang nenek ini tidak pernah siap dalam menerima kematiannya.
Dirinya masih belum mempunyai kepercayaan dan keyakinan akan apa yang akan
terjadi dan bagaimana nanti setelah kematiannya.
Kiranya pesan dalam kisah nenek ini dapat terungkap. Saya
mengingatkan kembali kepada para umat bahwa:
Menemui sang kematian adalah sangat mudah, karena kematian
pasti akan datang. Dan menghadapi proses kematian juga merupakan hal yang
mudah karena semua mahluk pasti akan menjalani dan mengalaminya. Tetapi
menerima kelanjutan dari kematian adalah hal yang sangat sulit karena
dibutuhkan suatu pembinaan, kepercayaan dan keyakinan akan Dharma yang kuat.
Tetapi sesungguhnya yang lebih sulit adalah melampau proses
kematian tersebut, karena hanya sedikit sekali para mahluk yang dapat melampau
proses kematiannya dengan kesadaran yang selalu jernih.