Keserakahan Dalam Spiritual
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih
SpiritualBagian 14
- Wisnu Prakasa")
Banyak umat dan para pembina
spiritual yang secara tidak sadar terjerat dalam keserahkan untuk mendapatkan
berkah sebanyak-banyaknya dan mencapai tingkat spiritual secepat-cepatnya,
tanpa harus menjalankan pembinaan spiritual yang sesuai dengan Ajaran Dharma
Mulia.
Banyak para umat yang terjerat
dalam keserakahan untuk mendapatkan berkah sebanyak-banyaknya. Sehingga mereka
kadang terjerat untuk berpikir bahwa pembinaan spiritual, hanya sebatas untuk
mendapatkan Berkah dari para mahluk suci sebanyak-banyaknya. Hanya dengan
menghadiri upacara-upacara dan menerima blessing dari para guru besar, mereka
sudah menganggap telah menjalankan pembinaan spiritual. Tanpa harus membinanya.
Banyak para umat yang terjerat
dalam keserakahan untuk mendapatkan berkah sebanyak-banyaknya. Sehingga mereka
kadang terjerat untuk berpikir bahwa pembinaan spiritual, hanya sebatas sutra
dan mantra. Hanya dengan membaca sutra dan melafalkan mantra, mereka sudah
menganggap telah menjalankan pembinaan spiritual. Tanpa harus membinanya.
Demikian pula banyak para pembina
spiritual yang terjerat dalam keserakahan dalam pencapaian Spiritualnya.
Sehingga mereka kadang terjerat untuk berpikir bahwa dengan memiliki banyak
rupang-rupang mahluk suci sebanyak-banyaknya, mereka merasa telah mencapai
tingkat spiritual seperti mahluk suci tersebut. Tanpa harus membinanya lebih
lanjut lagi.
Demikian pula banyak para pembina
spiritual yang terjerat dalam keserakahan dalam pencapaian Spiritualnya.
Sehingga mereka kadang terjerat untuk berpikir bahwa dengan memiliki banyak
mantra dan ajaran dari berbagai Guru Spiritual, mereka merasa telah mencapai
tingkat spiritual seperti Guru-Guru spiritualnya. Tanpa harus membinanya lebih
lanjut lagi.
Demikian pula banyak para pembina
spiritual yang terjerat dalam keserakahan dalam pencapaian Spiritualnya.
Sehingga mereka kadang terjerat untuk berpikir bahwa dengan mendapatkan ajaran
meditasi dari Guru Spiritualnya, mereka merasa telah mencapai tingkat meditasi
seperti Guru-Guru spiritualnya. Tanpa harus membinanya lebih lanjut lagi.
Demikian pula banyak para pembina
spiritual yang terjerat dalam keserakahan dalam pencapaian Spiritualnya.
Sehingga mereka kadang terjerat untuk berpikir bahwa dengan berjiarah keberbagai
tempat-tempat suci para Mahluk Suci, mereka merasa telah mencapai tingkat
spiritual seperti Mahluk Suci. Tanpa harus membinanya.
Demikian pula banyak para pembina
spiritual yang terjerat dalam keserakahan dalam pencapaian Spiritualnya.
Sehingga mereka kadang terjerat untuk berpikir bahwa hanya dengan dapat
merasakan ketenangan dalam meditasinya, mereka merasa telah memahami Kekosongan.
Tanpa harus membinanya lebih lanjut lagi.
Demikian pula banyak para pembina
spiritual yang terjerat dalam keserakahan dalam pencapaian Spiritualnya.
Sehingga mereka kadang terjerat untuk berpikir bahwa hanya dengan dapat
merasakan Kekosongan beberapa menit, mereka merasa telah memahami Kesadaran
Sejatinya. Tanpa harus membinanya.
Demikian pula banyak para pembina
spiritual yang terjerat dalam keserakahan dalam pencapaian Spiritualnya.
Sehingga mereka kadang terjerat untuk berpikir bahwa hanya dengan dapat mencapai
kejernihan Kesadaran, mereka merasa telah mencapai KeBuddhaan. Tanpa harus
membinanya lebih lanjut lagi.
— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta
Thien Cun —