Kendala Terbesar Para Master
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih
SpiritualBagian 12
- Wisnu Prakasa")
Bagi seorang Master atau Guru yang mengungkapkan Ajaran Dharma
secara terbuka kepada para mahluk, akan menghadapi beberapa tantangan. Halangan
ini timbul secara alamiah, bagaikan sebuah bunga yang baru mekar, yang akan
menarik datangnya kumbang.
- Halangan Pertama, akan timbul dari para umat awalnya.
- Halangan kedua, akan timbul dari keluarganya.
- Halangan ketiga, akan timbul dari Gambaran Pikirannya.
- Halangan keempat, akan timbul dari Keterperdayaan Kesadarannya.
- Halangan kelima, akan timbul dari Pencapaiannya.
Halangan Pertama, akan timbul dari para murid
awalnya.
Mereka yang merasa sebagai murid awal dari Guru, memiliki
kecenderungan untuk selalu dihormati oleh umat lainnya. Rasa senioritas mereka,
membuat mereka tidak dapat menerima akan pergantian kepengurusan. Mereka akan
lebih mudah melancarkan kritik yang menghancurkan, dibanding nasehat yang
membangun. Dan masih banyak lagi bentuk alamiah kekecewaan mereka, yang akan
dilampiaskan dengan berbagai cara.
Bila mereka pahami, kendala ini sebenarnya bersumber dari rasa
iri hati para murid awal, yang tidak dapat menerima alamiah pergantian. Saya
banyak menyaksikan sendiri bagaimana, para murid awal yang telah bersusah payang
membentuk perkumpulan umat, tetapi mereka sendiri yang mencoba mengadu-domba dan
menghancurkan kembali.
Kekacauan yang timbul karena ulah para murid utama, akan
berakibat fatal bagi Gurunya. Bilamana sang Guru merasa tidak sampai hati akan
murid utama yang selalu membuat keributan, maka akibatnya akan fatal. Sang Guru
akan menyaksikan sendiri, keributan dan pertentangan yang sangat lama, dan
akhirnya pembinaan Dharma mereka akan semakin lemah.
Tetapi bila sang Guru, dapat dengan bijaksana mengatasi
kendala pertama ini. Para murid utama dan para pengurus baru, akan menjadi satu
persatuan yang sangat kuat dalam pembinaan Dharma bersama.
Halangan kedua, akan timbul dari keluarganya.
Keterikatan dan Ikatan
keluarga,
dapat menjadi masalah besar bagi sang Guru.
Semakin banyak umat yang dimiliki oleh seorang Guru,
semakin banyak waktu yang harus
diluangkan bagi umat-umatnya.
Dan semakin banyak waktu bagi umat-umatnya,
maka akan semakin sedikit waktu sang
Guru untuk keluarganya.
Dan selain itu, semakin banyaknya umat yang menghormati sang
Guru, semakin tinggi popularitas sang Guru dan keluarganya. Dan secara alamiah,
popularitas akan menjadi salah satu pembatas ruang lingkup sang Guru dan
keluarga. Dengan semakin populer, maka semakin banyak orang yang ingin
mendekatinya dengan berbagai macam tujuan.
Sang Guru yang memiliki pembinaan Dharma yang lebih baik dari
mahluk lain, dapat menjalankan kehidupan yang demikian tanpa beda. Tetapi, bagi
anggota keluarga yang lain belum tentu dapat menjalankan kehidupan barunya
dengan sama.
Halangan ketiga, akan timbul dari Gambaran
Pikirannya.
Semakin banyak waktu yang terluang bagi para umat,
maka semakin berkurang waktu
pembinaan spiritualnya.
Bilamana para Guru Spiritual tidak lagi mempunyai banyak waktu
untuk terus menjalankan pembinaan spiritualnuya, sehingga kadang mereka tidak
lagi menyadari bahwa dirinya telah diperdaya oleh Gambaran Pikiran sendiri.
Akhirnya, mereka tidak lagi menyadari bahwa dirinya telah terjerat dalam
kemelekatan materi dan hawa nafsunya. Jika hal ini terjadi, mereka bukan saja
menghancurkan diri mereka sendiri kedalam Neraka penderitaan tanpa batas, tetapi
mereka telah mencoreng Ajaran Dharma Para Mahluk Suci, karena mereka telah
menjadi contoh dan panutan yang salah.
Halangan keempat, akan timbul dari Keterperdayaan
Kesadarannya
Para Guru Spiritual kadang tidak lagi menyadari telah
terperdaya oleh kemelekatan Gambaran Pikirannya, cenderung merasa dirinya adalah
sebagai Mahluk Suci yang tidak akan dapat ternoda, walau melakukan suatu
perbuatan yang buruk sekalipun.
Mereka merasa telah mencapai tingkat spiritual yang tinggi,
sehingga mereka tidak lagi merasa takut atau bersalah terhadap
perbuatan-perbuatannya.
Bila mereka dapat memahami kebenaran yang sesungguhnya, selama
Gambaran Pikiran masih timbul dan memperdayanya untuk memuaskan segala keinginan
duniawi dan hawa nafsunya. Kesadaran tidak mungkin terjernihkan. Inilah adalah
alamiah yang sebenarnya, dan bukan sebaliknya.
Dengan kata lain, Bagaimana mungkin Kesadaran dapat
terjenihkan,
selama mereka masih memiliki banyak
keinginan dan hawa nafsu.
Semakin banyak timbulnya keinginan,
maka semakin kuat kemelekatan
gambaran pikiran memperdayanya,
dan semakin gelap kejernihan kesadarannya.
Semakin sedikit timbulnya keinginan,
maka semakin lemah kemelekatkan
gambaran pikiran memperdayanya,
dan semakin
terang kejernihan kesadarannya.
Halangan kelima, akan timbul dari Pencapaiannya.
Pencapaian Pembinaan Spiritual merupakan suatu hal yang sangat
misterius bagi para mahluk. Sehingga halangan yang timbul dalam Proses
Pencapaian Spiritual, juga akan sangat misterius dan sulit dipahami.
Saya hanya dapat memberikan penjelasan singkat akan halangan
yang timbul dalam Pencapaian Spiritual.
Alamiah Pencapaian yang
sebenarnya,
bagaikan Pencapaian Raja Setan.
Janganlah terperdaya dengan
Pencapaian yang tampak KeBuddhaan.
Waspadalah, karena itu adalah
Halangan dari Pencapaian yang sebenarnya.
— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta
Thien Cun —