Saya banyak mendengar beberapa umat Buddha
yang menanyakan tentang adanya latihan meditasi yang diajarkan oleh beberapa
pastur, romo dan beberapa pemimpin dari agama lain. Walau saya sebenarnya
tidak ingin mengomentari apapun tentang hal ini, tetapi banyaknya perbincangan
yang telah saya denar dikalangan para umat yang mulai cenderung mengarah pada
pandangan yang sudah kearah negatif. Maka saya memutuskan untuk memberikan
pandang yang sebenarnya dengan permasalahan ini.
Dalam beberapa bulan ini, saya mulai banyak
mendengar dari para umat yang cenderung mengatakan, bahwa agama dan aliran
lain mulai mengambil dan mengikuti cara-cara meditasi dari ajaran agama
Buddha. Bahkan adapula umat yang dengan bangganya, mengatakan bahwa inilah
bukti hebatnya agama Buddha sehingga agama lain juga menirunya. Para umat
lainnya juga mulai membenarkan pendapat-pendapat yang demikian, sehingga
mereka secara tidak langsung telah ikut memandang rendah agama dan aliran
lain.
Walau pembinaan dan pengalaman spiritual
saya masih sangat rendah, tetapi demi Kebijaksanaan dan Cinta Kasih Mulia agar
para mahluk dapat memahami kebenaran sesungguhnya. Saya berusaha mengungkapkan
dengan singkat akan kebenaran yang sesungguhnya dalam pandangan saya secara
pribadi.
Latihan dan pembinaan meditasi adalah suatu
cara pembinaan bagi para mahluk untuk mulai memahami keadaan dirinya dengan
tenang. Didalam ketenangan meditasi, para mahluk mulai dapat lebih memahami
Zat Yang Maha Esa, memahami jati dirinya, memahami kesadaran sejatinya,
memahami keadaan dan kondisinya, memahami kembali segala ucapan dan
perbuatannya, memahami makna dan tujuan hidupnya, memahami kebenaran yang
sesungguhnya, memahami ketenangan, memahami keindahan, memahi alamiah,
memahami semesta alam, dsb.
Disini saya melihat dengan jelas bahwa
meditasi adalah sebagai alat yang membantu para mahluk untuk dapat lebih
memahami seluruh kebenaran alamiah. Dan kebenaran alamiah bukan monopoli dari
satu golongan atau aliran, karena kebenaran alamiah sudah ada pada awalnya dan
tidak diciptakan atau dibuat oleh satu golongan dan aliran manapun.
Saya dapat katakan bahwa baik agama Tao,
Buddha, Hindu, dsb, mereka tidak menciptakan meditasi. Tetapi mereka hanya
memberikan label pembinaan kebenaran tersebut sebagai MEDITASI.
Meditasi yang sebenarnya bukan hanya
dilakukan dengan duduk bersila, dan sambil membaca mantra. Menjalankan
pembinaan meditasi yang sebenarnya, dapat dijalankan dalam berdoa, zikir,
merenung, puja-bhakti, sholat, sembahyang, dsb. Meditasi yang sebenarnya juga
dapat dilakukan disaat berdiri, duduk, berbaring, bergerak, berdiam, dsb.
Hal ini bagaikan Matahari, yang telah ada
pada awalnya. Di Indonesia, kita memberikan namanya sebagai matahari. Di
Amerika, mereka memberikan namanya sebagai ‘The Sun’. Walau kita memberikan
nama ‘matahari’, tetapi matahari tetap hak dari seluruh mahluk di seluruh
bangsa. Dan tidak terbatas pada hak dan monopoli dari mereka yang memberikan
nama dan label ‘Matahari’.
Demikian pula dengan penduduk Indonesia,
yang sebagian besar memakan nasi dari beras yang dimasak. Beras ini berasal
dari tanaman yang dinamakan ‘tanaman padi’. Tetapi kita tidak bisa mengatakan
bahwa padi, yang dimasak menjadi nasi adalah milik dan monopoli orang
Indonesia. Bagaimana dengan bangsa-bangsa lainnya, yang juga memakan nasi dari
beras. Apakah mereka akan dikatakan sebagai bangsa yang meniru bangsa
Indonesia ?
Inilah kebenaran alamiah dari NASI, yang juga dimiliki dan
dimakan oleh bangsa-bangsa lainnya. Inilah kebenaran alamiah dari MATAHARI,
yang dapat dinikmati, dilihat dan dirasakan oleh bangsa-bangsa lainnya.
Demikian pula dengan kebenaran alamiah MEDITASI, yang memang sudah dikenal dan
dapat dibina oleh seluruh mahluk dari berbagai golongan dan aliran.