Karma Guru Jatuh Pada KeluargaNya ?
(dikutip dari buku "Kisah-Kasih
SpiritualBagian 12
- Wisnu Prakasa")
Bagi Guru atau
Master yang berkeluarga,
Masalah keluarga sama seperti lainnya.
Bedanya, Bagaimana cara menghadapinya.
Saya banyak sekali mendengar perkataan para
umat yang mengatakan, bahwa Karma seorang Guru, akan jatuh pada keluargaNya.
Bahkan di bulan desember tahun Naga, ada seorang umat yang cukup berumur, dan
sudah lama menjalankan pembinaan spiritual dari berbagai Guru Spiritual,
mengatakan langsung kepada saya bahwa: "Bagi seorang Guru atau Master, walau
Beliau dapat menghindar dari karma, tetapi akhirnya karmanya akan jatuh kepada
isteri dan anaknya. Terbukti banyaknya Guru Spiritual, dimana para umatnya
sangat respek kepadaNya, tetapi anaknya sendiri sangat kurang ajar kepadaNya.
Dan keluarga mereka, juga tidak lagi harmonis."
Mendengar perkataan umat ini, saya mencoba
mengingat satu-persatu para Guru Spiritual yang saya kenal. Perkataan umat ini
memang tampak ada benarnya juga. Saya banyak memahami kehidupan keluarga dari
beberapa Guru Spiritual yang mengalami masalah besar dengan isteri dan anaknya,
tetapi saya juga mengenal beberapa Guru Spiritual, yang kehidupan keluarganya
tidak demikian besar. Walau, bila dibandingkan, mereka yang memiliki masalah
keluarga dengan isteri dan anak jauh lebih banyak dibandingkan dengan mereka
yang tidak memiliki masalah demikian.
Ada beberapa Guru Spiritual yang saya kenal,
dan tampak Beliau tidak banyak menghadapi masalah besar dalam keluarganya. Dan
yang luar biasanya, saya melihat bahwa Guru Spiritual yang termasuk dalam
kategori yang tidak mengalamai masalah besar dalam keluarga, semuanya berumur
diatas 65 tahun.
Setelah saya pahami lebih dalam, ternyata pada
zaman kehidupan Guru tersebut memang keadaan alamiah lingkungan dan tradisinya
juga menunjang. Dimana tradisi pada zaman itu, bagi isteri dan anak dari seorang
Guru Spiritual, justru mempunyai kewajiban yang jauh lebih berat untuk mengurus
keperluan Guru tersebut. Bila terjadi apa-apa dengan Guru tersebut, maka yang
disalahkan adalah isteri dan anaknya terlebih dahulu, karena tidak dapat merawat
dengan benar. Isteri dan anaknya tampak benar-benar menghormati Beliau, dan
kadang cenderung menjadi rasa takut yang berlebihan.
Jika dipandang dari masa sekarang, mungkin
kehidupan Guru ini dapat dikatakan sangat diktator. Dimana apa yang dikatakan
Guru, merupakan suatu perintah yang tidak dapat dibantah oleh isteri dan anaknya
sekalipun. Isteri dan anaknya, secara tidak langsung dituntut oleh para umat
untuk mengabdi sebagai yang melayani kebutuhan sang Guru. Dan memang pada zaman
tersebut, hanya seorang Guru Spiritual yang memiliki dasar pengetahuan dan
pembinaan yang jauh lebih tinggi dibanding umat dan keluarganya.
Keadaan zaman semakin berubah, dimana hak dan
kewajiban seorang isteri, semakin sederajat dengan suaminya. Berkeluarga tidak
lagi berarti, pengabdian sepihak dari seorang isteri kepada suaminya, tetapi
lebih bertumpu pada membentuk bersama suatu kehidupan yang harmonis.
Disegi lain, pendidikan semakin tinggi,
sehingga anak-anak semakin kreatif dan bebas mengemukakan pendapatnya. Anak-anak
tidak lagi takut terhadap orang tuanya, tetapi mereka harus menghormati orang
tuanya. Orang tua dapat menjadi temannya, dalam bertukar pikiran. Sebaliknya,
anak-anak dapat lebih terbuka terhadap orang tua. Berbagai cara pendekatan
dilakukan, untuk membina hubungan yang harmonis. Dan, Untuk di zaman sekarang
ini, seorang anak yang memiliki pengetahuan dan pendidikan yang lebih tinggi
dari orang tuanya, adalah hal yang biasa.
Saya tidak mengartikan bahwa kehidupan
sekarang lebih baik, dibanding di masa lampau. Tetapi saya lebih melihat, setiap
zaman memiliki alamiah tersendiri yang masing-masing memiliki kelebihan dan
kekurangan yang alamiah.
Demikian pula, alamiah keadaan kehidupan para
Guru Spiritual di zaman sekarang, yang cenderung mendapat masalah lebih besar
dari isteri dan anaknya. Sehingga banyak umat yang berpandangan, bahwa karma
Gurunya jatuh ke isteri dan anaknya, sehingga anaknya berani kurang ajar, bahkan
menjalani kehidupan yang bertentangan dengan orang tuanya.
Kendala yang timbul ini, merupakan keadaan
alamiah yang banyak dialami oleh Guru Spiritual di zaman sekarang. Dan, kendala
ini juga dapat dijelaskan dengan logika di zaman sekarang.
Di zaman sekarang ini,
dimana informasi dapat tersebar dengan cepatnya.
Demikian pula, Ajaran Dharma seorang Guru,
yang akan tersebar dengan cepatnya.
Semakin cepat dan luas Ajaran DharmaNya,
semakin banyak yang mendengarnya.
Semakin banyak yang mendengar,
semakin banyak yang menjadi umatnya.
Semakin banyak umatnya,
semakin banyak waktu bagi umatnya.
Semakin banyak waktu bagi umatnya,
semakin sedikit waktu bagi keluarganya.
Semakin sedikit wakltu bagi keluarganya,
semakin renggang ikatan keluarganya.
Dan seterusnya……
Anak-anak yang kurang perhatian dan kasih
sayang dari orang tuanya, akan cenderung memiliki karakter yang lebih mudah
memberontak. Sehingga bagi masyarakat umum, anak-anak yang demikian tampak
berkelakuan agak kurang hormat kepada orang tuanya.
Inilah alamiah yang sebenarnya, yang banyak
dialami oleh para Guru Spiritual dalam kehidupan keluarganya.
Kembali membahas pernyataan umat diatas, "Bagi
seorang Guru atau Master, walau Beliau dapat menghindar dari karma, tetapi
akhirnya karmanya akan jatuh kepada anak dan istirinya".
Saya harus mengetahui lebih lanjut lagi,
"Karma apa yang dimaksud ? sehingga seorang Guru Spiritual dapat terhindar,
tetapi membiarkan karmanya jatuh pada istri dan anaknya".
Saya dapat mengatakan, jangankan seorang Guru
Spiritual. Bila seorang kepala keluarga yang normal saja, mengetahui adanya
suatu musibah akan menimpa dirinya. Dan bila dirinya menghindar, maka musibah
itu akan menimpa istri atau anaknya. Apakah kepala keluarga ini, akan membiarkan
dirinya menanggung sendiri musibahnya, atau menghindar sehingga jatuh kepada
isteri dan anaknya ?
Jika karma yang dimaksud demikian, saya akan
pastikan bahwa pernyataan tersebut adalah Omong Kosong belaka. Bahkan seekor
rusa, tidak akan menyerahkan anaknya kepada seekor macan, sebagai pengganti
dirinya. Yang ada adalah sebaliknya, orang tua akan mengorbankan apapun buat
anaknya, bukan sebaliknya.
Tetapi bila karma yang dimaksud, untuk
menjelaskan karena welas asih sang Guru yang demikian besar untuk lebih banyak
mahluk, sehingga berdampak kurangnya perhatian dan waktu bagi isteri dan
anaknya. Dan Beliau benar-benar memahami, akan pengorbanan kehidupan
keluarganya, dan menanggung akan sepenuhnya segala sebab dan akibatnya, dimasa
sekarang dan dikemudian hari. Dengan demikian, apapun yang terjadi dan dilakukan
oleh isteri dan anaknya, Beliau dengan sepenuhnya memahami mengapa keluarganya
berbuat demikian. Beliau tidak akan menyalahkan isteri dan anaknya sedikitpun,
tetapi Beliau justru memahami bahwa isteri dan anak Beliau yang sebenarnya turut
berkorban lebih banyak bagi seluruh umatnya.
Jika yang dimaksud adalah Karma yang demikian,
saya akan balik bertanya kepada umat ini. Apakah pantas sebagai umat yang
mengetahui keadaan alamiah dari Guru dan keluarganya, hingga sampai hati
berkata yang tidak baik kepada sang Guru, isteri dan anakNya, yang telah
berkorban demikian besarnya bagi seluruh umat ?
— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta
Thien Cun —