Karma Baik dan Karma Buruk
(dikutip dari buku
"Kisah-Kasih Spiritual Bagian XI : Wisnu Prakasa")
Secara umum karma dapat diartikan perbuatan, dimana secara
umum sering didengar istilah Karma Baik dan Karma Buruk. Sebagai mahluk yang
membina diri dalam kehidupan dan pembinaan spiritual dalam Ajaran Dharma Mulia,
tentunya harus memahai alamiah karma dan sebab-akibatnya.
Untuk itu harus dipahami dengan sebenarnya bahwa yang termasuk
dalam karma baik adalah perbuatan yang menghasilkan kebahagiaan, dan yang
termasuk dalam karma buruk adalah perbuatan yang menghasilkan penderitaan. Dan
kita juga harus memahami sebab-akibat dari alamiah hukum karma. Dimana, bila
kita menanam karma baik, maka kita akan memetik buah kebahagian; dan bila kita
menanam karma buruk, maka penderitaan yang akan kita dapatkan. Bilamana tidak
ada lagi perbuatan buruk, maka tidak akan timbul lagi penderitaan.
Tetapi dalam pelaksanaannya kadangkala mendapati banyak
gangguan yang membingungkan. Dimana Karma baik dan karma buruk kadangkala sangat
sulit dibedakan pada awalnya, hal ini banyak terjadi karena unsur-unsur yang
terselubung dan ketidak murnian perbuatan itu sendiri, ataupun mungkin karena
ketidak tahuan kita sendiri.
Dalam melaksanakan pemutaran Roda Dharma, maka untuk
membedakan dengan jelas apa yang membedakan karma baik dan karma buruk maka
diperlukan suatu pemahaman spiritual yang lebih dikenal dengan istilah
Kebijaksanaan Sejati. Hanya dengan pemahaman yang sebenarnya tentang
Kebijaksanaan Sejati, maka kita dapat selalu menjunjung karma baik dan
menghindari karma buruk.
Kebijaksanaan Sejati pada awalnya akan membimbing kita untuk
menjunjung tinggi karma baik dan menghindari karma buruk, sehingga karma baik
telah menjadi bagian diri kita yang sejati tanpa beda. Bilamana karma buruk
tidak lagi timbul, maka dengan demikian tidak ada lagi penderitaan yang muncul.
Bilamana penderitaan tidak lagi muncul, maka seluruh perbuatan kita akan menjadi
karma baik sehingga tidak ada lagi timbulnya suatu perbedaan antara karma baik
dan karma buruk. Seperti halnya para Bodhisatva yang tidak lagi terpengaruh
dengan karma buruk, karena segala perbuatan para Bodhisatva selalu menghasilkan
kebahagiaan, sehingga mereka pantas dikenal diengan nama Mahluk Yang Welas Asih.
— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta
Thien Cun —