Home
Back
Info Dharma
Galleria

Dua Anak Kecil Yang Berkelahi
(dikutip dari buku "
Kisah-Kasih Spiritual -  Wisnu Prakasa")


Dua anak kecil saling mengejek, mereka saling menjelek-jelekan yang bukan-bukan. Mereka berdua tidak ada yang mengalah, sehingga akhrinya mereka saling memukul dan menggigit. Keduanya menangis, dan masing-masing pulang kerumah untuk mengadu kepada orang tuanya.

Mengetahui anaknya menangis, sang ibu menanyakan sebabnya kepada anaknya. Sang anak memberitahu ibunya bahwa temannya si B mengatai, memukul, dan menggigitnya. Mendengar penjelasan anaknya dan melihat ada luka gigitan dilengan anaknya maka sang ibu membawa anaknya kerumah teman anaknya yang berkelahi.

Demikian pula dengan ibu dari anak yang satunya lagi. Sang ibu langsung merasa sangat marah karena merasa anaknya yang benar. Perasaan marahnya semakin menjadi-jadi ketika melihat anaknya mengalami luka pukulan dan gigitan. Ketika melihat ibu dan teman anaknya datang, dirinya langsung memaki-maki sang ibu teman anaknya. Dirinya memaki-maki sebagai ibu yang tidak tahu mengajar anak. Demikian juga dengan sang ibu yang dimaki-maki, dirinya tidak kalah memaki balik dengan perkataan yang lebih keras lagi..

Keributannya akhirnya dipisahkan oleh tetangga di sebelah rumah, yang kebetulan mendengar keributan tersebut. Setelah dipisahkan oleh para tetangga, Akhirnya sang ibu balik kerumahnya. Walaupun hatinya merasa belum puas untuk melampiaskan kemarahannya.

Seminggu kemudian, kedua anak saling berjumpa di lapangan sepak bola. Pertama-tama mereka merasa sedikit ragu-ragu. Tetapi keinginan untuk bermain bola yang demikian besar, mereka akhirnya terpaksa bermain bola bersama-sama. Selanjutnya ketika permainan dimulai, mereka tidak lagi mengingat bahwa mereka telah berkelahi seminggu yang lalu. Kegembiraan dalam permainan bola ini, menjadikan mereka bersahabat kembali.

Dua minggu kemudian, kebetulan kedua ibu dari anak tersebut bertemu dipasar. Ketika mereka saling melihat, mereka langsung membuang muka masing-masing.
Setahun kemudian, mereka bertemu disebuah pesta. Ketika bertemu, mereka langsung teringat bahwa mereka berdua adalah musuh, sehingga masing-masing langsung membalikan badan untuk berjauhan.

Dalam kisah yang umum ini, siapakah yang pantas memberikan contoh dan yang harus belajar ? Apakah kedua anak harus mengikuti perbuatan ibunya, ataukah sang ibu yang harus belajar dari anaknya ?

Sadarilah bahwa semakin kita dewasa, semakin kuat kemelekatan pikiran menguasai. Apakah kemelekatan ini akan terus kita bawa hingga kita meninggal. Tanggalkanlah segala kemelekatan pikiran, karena kemelekatan adalah sumber penderitaan dan sumber segala karma.

Janganlah kita malu untuk belajar kembali seperti anak kecil, bukankah kita sendiri pernah menjadi anak kecil. Kesadaran kita sewaktu kecil tidak terlalu kuat diperdaya oleh segala kemelekatan pikiran. Setelah dewasa tanpa kita sadari, bahkan menjadi lebih terikat dengan segala kemelekatan pikiran.

Banyak pula yang mengatakan karena para anak kecil masih bodoh. Walaupun hal ini ada benarnya dalam beberapa hal, tetapi dalam pembinaan kesadaran lebih baik menjadi bodoh dari pada dikotori oleh kemelekatan pikiran. Manusia semakin lama semakin merasa pandai memahami pengetahuan alam semesta, tetapi mereka tidak menyadari bahwa mereka juga semakin bodoh dalam memahami jati diri yang sebenarnya.

Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta Thien Cun

 


  Dharma Center 'BUNDA MULIA' 
Jakarta, INDONESIA

  Vihara 'Yauw Ce Cin-Mu'  
Hua Lien, TAIWAN.

Copyright 2001 Yayasan Dharma Mulia Persada Indonesia. All rights reserved.