Walaupun vihara Dewi Kwan-Im ini tampak sangat
memprihatinkan, tetapi ternyata setiap hari banyak umat yang datang menghadap
Sang Dewi untuk memohon petunjuk dan berkah. Banyak pula yang datang kembali
untuk mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada Sang Dewi, rupanya banyak
sekali permohonan yang telah di bantu oleh Sang Dewi sehingga terkabul. Sungguh
suatu hal yang tidak mengherankan bila vihara Sang Dewi menjadi salah satu
vihara yang sangat terkenal di kota ini.
Pada suatu hari, datang seorang lelaki yang cukup terkenal di kota tersebut. Lelaki ini terkenal bukan saja karena perusahaannya yang sangat banyak, tetapi juga akan partisipasinya dalam berbagai kegiatan sosial dan kedermawanan.
Bahkan lelaki ini banyak menjabat sebagai pengurus aktif dalam berbagai macam organisasi dan yayasan sosial. Kedatangannya kali ini bersama seorang seniman rupang yang terkenal, rupanya lelaki ini mempunyai suatu niat baik untuk memperbaiki
vihara Dewi Kwan-Im ini.
Lelaki ini langsung menghadap kepada kepala vihara
memohon izin untuk memperbaiki rupang-rupang di vihara. Kepala vihara menyetujui
niat baik lelaki ini untuk mengecat dan memperbaiki rupang-rupang di vihara,
karena memang sejak awal berdirinya vihara ini belum pernah diperbaharui.
Kemudian lelaki ini memberikan arahan agar senimannya dapat mulai bekerja
keesokan harinya.
Selanjutnya seniman yang diutus oleh lelaki
tersebut mulai bekerja setiap hari untuk melukis dan mewarnai kembali
rupang-rupang di vihara. Setiap hari pula, lelaki ini selalu datang untuk
melihat-lihat dan mengawasi hasil kerja seniman kebanggaannya. Tampaknya seniman
ini juga berusaha keras untuk memberikan suatu kebanggaan dan kepuasan kepada
lelaki ini, sehingga dirinya bekerja tanpa lelah dengan penuh keseriusan.
Seminggu sudah berlalu, dan seniman ini
san♦gat bangga akan hasil karyanya. Dia lalu menghadap lelaki yang mengutusnya
untuk melaporkan tentang hasil pekerjaannya.
"Tuan, seluruh pekerjaan saya telah selesai.
Ini merupakan karya saya terbaik selama saya menjadi seniman." kata seniman
dengan bangga.
"Karya yang luar biasa, saya sangat kagum.
Semuanya sekarang tampak lebih hidup dan indah. Memang pantas anda di sebut
seniman nomor satu." Puji lelaki itu.
Lelaki itu lalu menghadap kepala vihara untuk
menunjukan hasil karya senimannya. Lalu kepala vihara melihat rupang yang telah
diperbaharui satu persatu.
"Sekarang rupang Wen-Chu-Khong tampak lebih
gagah dan berwibawa, sungguh luar biasa jasa anda terhadap Yang Mulia
Wen-Chu-Khong. Semoga Yang Mulia Wen-Chu-Khong selalu melindung anda sekeluarga
dari segala halangan dan mara bahaya." Kata kepala vihara.
"Terima kasih, Guru."
Lalu mereka melanjutkan untuk melihat Jambala.
"Sungguh cerah dan tampak lebih hidup rupang
Jambala ini. Semoga Yang Mulia Arya Jambala selalu melimpahkan rejeki dan berkah
kepada anda sekeluarga." kata kepala vihara.
"Terima kasih, Guru." katanya kembali dengan
senang, mendengar doa permohonan itu.
Lelaki ini sangat bangga dan puas menunjukkan
satu-persatu hasil kerja senimannya. Kepala vihara tampaknya juga senang dengan
hasil karya senimannya. Setiap kali melihat rupang yang telah diperbaharui,
kepala vihara selalu memuji dan memohon berkah untuk keluarga lelaki ini.
Lalu tibalah mereka di hadapan rupang Sang
Dewi Kwan-Im, kepala vihara memperhatikan lama sekali rupang Sang Dewi.
"Sungguh luar biasa indahnya Sang Dewi,
pakaiannya tampak hidup dan senyumnya Sang Dewi sangat menawan. Silahkan seniman
anda melanjutkan karyanya memperbaiki mata Sang Dewi.." Kata kepala vihara.
"Guru mohon maaf, saya sengaja menyuruh
seniman saya untuk tidak memperbaiki mata Sang Dewi." Jelas si lelaki.
"Kenapa anda tidak memperbaiki mata Sang
Dewi." Tanya kepala vihara keheranan.
"Mohon maaf Guru, Saya tidak ingin Sang Dewi
dapat melihat saya." Kata sang lelaki.
"Mengapa anda tidak ingin dilihat Sang Dewi?
Bukankah anda telah melakukan perbuatan amal baik dengan memperbarui
rupang-rupang vihara Sang Dewi." Tanya kepala vihara lebih heran lagi.
Pengusaha ini lalu membawa kepala vihara untuk
pindah keruangan sebelahnya yang tampak lebih sepi, rupanya lelaki ini tidak
ingin ucapannya didengar oleh siapapun diruang altar Sang Dewi.
"Guru, saya ini seorang pengusaha yang tidak
selalu dijalan yang lurus dan benar. Saya kadang terpaksa harus berbohong dan
kadang berbuat sedikit menyimpang untuk mencapai apa yang saya inginkan.
Walaupun demikian, permintaan saya banyak dikabulkan oleh Sang Dewi. Saya
benar-benar merasa sangat bersyukur atas pertolongan Sang Dewi." bisik lelaki ini
dengan perlahan-lahan di telinga kepada vihara.
Kepala vihara terdiam kebingungan dan berusaha
mencoba menangkap apa sebenarnya yang dimaksud oleh lelaki ini.
"Guru, saya tahu mengapa Sang Dewi selalu
mendengar permohonan saya walaupun saya banyak melakukan kesalahan. Setelah saya
amati ternyata Sang Dewi matanya buta, sehingga Sang Dewi tidak dapat melihat
apa yang telah saya lakukan selama ini." bisik lelaki pengusaha.
Kepala vihara masih terdiam berusaha memahami
makna penjelasan sang dermawan.
"Guru, Sang Dewi yang buta hanya dapat
mendengar permohonan saya. Saya sengaja menyuruh seniman saya untuk tidak
memperbaiki bola mata Sang Dewi karena saya lebih menyukai Sang Dewi tetap buta.
Biarlah Sang Dewi hanya dapat mendengarkan permohonan-permohonan saya, tanpa
dapat melihat apa yang telah saya perbuat." Jelas lelaki ini.
"Om Mani Padme Hum, sungguh benar-benar Dewi yang welas
asih…." kepala vihara akhirnya bersuara, dan berbalik badan meninggalkan lelaki
itu.