Kepingan Uang Yen
(Oleh:
herianto lim,
submit: 4 jUNE 2001 )
Sebuah
kisah yang amat menggugah hati orang terjadi di propinsi Ciang Si
kota Nan Chang. Pada tahun 1938 bertepatan masa peperangan dimana Presiden
Ciang Kai Sek yang saat itu masih menjabat sebagai komandan laskar yang
bertempat di Nan chang.
Saat waktu luang,banyak tentara pergi berbelanja
keperluan sehari-hari. Saat itu mata uang yang digunakan adalah Yen. Kaum
wanita yang sudah berusia lanjut dan lemah tampak berjajaran di sepanjang
jalan menjual handuk dan kaos kaki bagi keperluan tentara.
Suatu hari, seorang
nenek tua menangis terisak-isak di sebuah jalan. Orang yang lewat menanyai
sebabnya, rupanya seseorang telah membeli banyak sekali dagangannya dengan
uang Yen palsu. Ketika sadar uang itu palsu, si pembeli sudah lenyap entah
kemana.
Kebetulan lewat seorang Tentara yang baru mendapat gajian dan
berbelanja di sekitar jalan itu. Melihat sang nenek sangat sedih, maka dia
menghiburnya, "Tak usah sedih Nek,gaji saya cukup. Tukarkan uang palsumu kepada
saya sebagai kenang-kenangan. Nah,ini ambillah. Semoga dapat menjadi modal
usahamu kelak".
"Mana boleh ? Mana mungkin saya menerima sementara anda
yang mengorbankan uangmu". Si Nenek terus bersikeras tidak mau menerima
tawaran si Tentara tapi karena tak tega menolak ketulusannya, akhirnya menerima
juga dengan ucapan terima kasih yang mendalam.
Selang beberapa bulan si
Tentara berdinas kembali ke kota Nan Chang dan mencari Nenek yang malang
itu. Dia berkata bahwa kepingan Yen palsu itu telah menyelamatkan nyawanya.
Ceritanya ketika Dia berada di barisan depan dalam medan pertempuran, tiba-tiba
sebuah peluru menghantam ke dadanya. Tamat sudah kali ini, pikirnya hingga
pingsan karena ketakutan. Tapi begitu mata di buka, sakitnya tidak terasa.
Dirabanya bagian dada tapi tak ada darah sedikitpun. Waktu menyentuh kepingan
logam yang berada di kantong kirinya ternyata uang Yen palsu itu sudah cekung
karena peluru itu. Rekan seperjuangannya menjadi tak habis berpikir, bagaimana
mungkin peristiwa tersebut dapat terjadi. Berita itu meluas keseluruh kota
Nan Chang.
Penjelasan :
Siapa bilang perbuatan baik dan jahat tiada balasannya ?
Cuma karena waktu yang belum matang,hingga pembalasan Karma belum tampak.
Inilah salah satu kesaksian betapa pentingnya memupuk Jasa Pahala dan
Kebajikan.
"Rejeki bersumber dari anugerah Tuhan. Berbuat Jasa Kebajikan tanpa menuntut
pamrih. Manusia bekerja keras, Tuhan yang menentukan segalanya". Karena
itu, menegakkan
Jasa Kebajikan secara samar ( tanpa diketahui orang ) akan mendatangkan
anugerah yang tak di sangka. Demikianlah Hukum Karma itu.