Kemana Mau Menyeret
( Oleh:
herianto lim
)
Keyakinan
adalah Tuntutan hidup yang penting. Tanpa Keyakinan, Putuslah gairah
hidup. Hidup tak ada
tempat bersandar.
Pada tahun 1895, diadakan perjanjian Shimonoseki antara pemerintahan Jepang
dan RRC. Saat itu, Jepang
diwakili oleh Seorang Perdana Menteri yang punya
keyakinan diri tinggi. Saat akan pergi mengemban
tugas, mendadak putri tercintanya
jatuh sakit. Sebelumnya Perdana Menteri ini pernah berpesan pada
keluarganya
jika tak ada hal penting maka jangan menyuratinya. Tepat di hari
penandatanganan, mendadak
datang sepucuk surat dari rumah yang menyatakan kondisi kesehatan putrinya
amat buruk dan berharap
dapat bersua dengan Sang Ayah untuk yang terakhir
kalinya.
Saat itu menteri Luar Negeri datang menghampirinya, "Pulanglah, Biarlah semua
urusan ini saya yang
mewakili".
Kemudian Perdana Menteri tersebut pun
bergegas pulang ke rumah untuk menemui puterinya
yang udah sakit sekarat.
Melihat Sang Ayah yang di nanti-nantikan sudah hadir disampingnya, berkatalah
si anak, "Ayah, saya akan
berpisah denganmu untuk selamanya. Ada satu pertanyaan
terasa menyesak di hati saya, sambil menanti
jawaban darimu".
"pertanyaan apa itu"?
"Yah,
Kemanakah saya pergi setelah saya setelah meninggal nanti ?"
Sang Perdana Menteri merupakan Seorang Jenderal gagah berwibawa penuh
kepercayaan
diri, tapi begitu
menghadapi kenyataan dari sebuah pertanyaan yang diajukan
oleh putrinya sendiri, kemudian sang Ayah
terbenam dalam kebingungan dan
tak jelas harus bagaimana menjawab.
"Ke mana kita akan pergi bila maut datang? Saya sendiri tidak tahu. Tapi
saya sering melihat Ibumu
membaca Paritta Suci, Papa yakin Buddha pasti
akan membawamu ke suatu tempat yang indah".
Setelah mendengar jawaban sang Ayah, Si Anak pergi meninggalkan dunia ini
untuk selama-lamanya.
Dari mana kita datang dan ke mana maut menyeret? Masih merupakan pertanyaan
yang kabur bagi sang
Jenderal. Semenjak itu, Perdana Menteri mulai tekun
mendalami Buddha-Dharma dan akhirnya memilih
hidup sebagai Bhiksu.
Penjelasan :
Dalam Enam jalur Roda Punarbhava, peristiwa samsara merupakan perkara besar
dalam hidup manusia.
Para Pembina di zaman silam telah menyadari kenyataan peristiwa samsara
yang tragis ini hingga mereka
rela meninggalkan segala-galanya demi berjuang
mencapai kesucian guna terbebas dari kurungan samsara.
Sebaliknya, manusia awam menganggap penderitaan sebagai kebahagiaan, Palsu
sebagai Sejati, hingga
terlena dalam mimpi yang melenakan, hingga menanam
benih-benih Karma.