Gadis Cantik
(Oleh: herianto lim,
submit: 24 March 2001 )
Dikisahkan pada masa Sang Buddha
Sakyamuni sedang memutar roda dharma di gunung Gdhrakuta, hiduplah seorang
gadis cantik di kota Rajagaha dengan nama Padmani,y ang memiliki arti bunga
teratai. Sosok Padmani yang sangat cantik membuat panik pemuda-pemuda di kota
itu dan gadis-gadis lain semua iri dibuatnya. Tetapi walaupun begitu, Padmani
tidaklah seperti gadis-gadis stelan umumnya yang suka mempopulerkan atau
menyombongkan diri,malah dia lebih suka menghabiskan waktu dengan membaca
buku-buku filsafat dan memahami hukum kebenaran.
Suatu hari, hatinya semakin
paham dan mengerti akan fenomena duniawi yang tidak kekal, kemudian timbul
tekadnya untuk mencari kebenaran abadi dan memperkaya pemahaman spiritualnya
dengan menjadi biarawati. Dia pun meninggalkan rumah menuju gunung Gdhrakuta
bermaksud menemui Sang Buddha.
Ditengah perjalanan Padmani merasa haus dan berhenti di
pinggir sebuah
sungai mengambil air minum. Diatas permukaan air, Padmani terpaku memperhatikan
wajahnya sendiri yang sangat cantik dan halus. Lantas dia berpikir, wajah saya
sangat cantik, sungguh sayang jika menjadi biarawati. kalau saya kembali ke
rumah, tentu menjadi rebutan pemuda-pemuda di kota.
Dilanda obsesi demikian, Padmani pun mengurung niatnya menjadi
biarawati dan pulang kembali ke rumahnya. Dengan mata batinnya Sang Buddha
segera mengetahui keadaan itu, lalu dengan kesaktiannya Sang Buddha
menciptakan seorang gadis yang lebih cantik dari Padmani dan menunggunya di
tengah perjalanan. Tidak lama kemudian benarlah Padmani bertemu dengan seorang
gadis muda yang cantik dan mereka segera akrab bersama-sama meneruskan perjalanan.
Tidak lama berjalan, mereka mendapatkan sebatang pohon yang besar dan
beristirahat dibawahnya sambil berbincang-bincang. Sesaat kemudian gadis itu merasa
agak lelah karena letihnya
berjalan. Tak sadar akhirnya dia menyandarkan kepalanya di kaki Padmani dan
segera tertidur.
Padmani memperhatikan wajah gadis yang tertidur di kakinya
dengan rasa
kagum.
'Ck...ck..kecantikkannya melebihi saya!', guman Padmani dalam
hati. Namun tiba-tiba napas gadis itu terhenti, wajahnya pelan-pelan
berkeriput yang
diikuti seluruh tubuhnya, rambut yang tadinya hitam mengkilap tiba-tiba memutih
dan rontok begitu saja. Lambat laun dagingnya mengering dan luluh mengeluarkan
bau busuk hingga dalam waktu sekejap mata hanya tinggal kerangka.
Padmani sangat terkejut melihat gadis yang sangat cantik itu
kini hanya
berupa seonggok tulang belulang. Akhirnya kejadian itu membuatnya sadar bahwa
inilah kenyataan hidup yang akan dihadapi setiap orang. Suatu hari nanti
dia juga akan mengalami hal seperti itu. Lalu tekadnya untuk mencari kebenaran
terbangkit kembali dan segera melanjutkan perjalanan ke gunung Gdhrakuta
menemui Sang Buddha. Sesampainya disana Sang Buddha berkata kepada
Padmani, "Kenyataan
hidup manusia adalah lahir, tua,sakit dan mati. Betapa eratnya hubungan suatu
persaudaraan, suatu hari juga akan dipisahkan oleh kematian. Betapapun kayanya
seseorang, suatu hari nanti pun tidak satu sen pun yang bisa dibawanya. Dan
betapa cantik-tampannya wajah seseorang, hanyalah sebatas kulit yang suatu
hari juga akan menjadi benda yang tidak berarti.
— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta
Thien Cun —