Dua Orang Bhiksu
(Oleh:
herianto lim,
submit: 12 May 2001 )
Dahulu di propinsi She-Chuan, kabupaten Nei Ciang ada terdapat dua orang
Bhiksu. Yang satu hidup mewah dan senang, sedangkan yang satu lagi hidup merana
dan papa.
Suatu hari, kedua Bhiksu itu kebetulan bertemu, dengan rendah hati si Bhiksu
papa berkata kepada temannya, "Saya ingin pergi ke laut selatan untuk berpuja
bhakti pada Bodhisattva Kuan-Im, sekaligus berguru kepada Mahathera disana
guna mendalami Buddha-Dharma. Bagaimana pendapatmu ?"
"Perjalanannya amat jauh, dengan apa engkau berangkat ?"
"Saya rasa cukup membawa sebuah mangkok dan sepasang kaki ini."
Bhiksu elite tersenyum lalu berkata : "Saya sudah lama merencanakannya dengan
naik perahu, karena masih banyak hal yang belum dipersiapkan hingga sampai
sekarang ini masih belum bisa berangkat. Tapi kamu begitu gampang sudah
akan
berangkat. Apakah mungkin"?
Bhiksu papa mendengarnya dengan memanggut kepala, diam membisu, dalam hati
semangat tetap tak tergoyahkan. Biarlah fakta yang akan menjadi saksi semuanya
ini.
Setelah berpisah, Bhiksu papa berangkat meninggalkan kabupaten Ciang dengan
bekal
sebuah mangkok pindapata, kedua kakinya melangkah penuh kepercayaan
diri menuju
ke Biara di Laut selatan. Sepanjang jalan dia melewati gunung dan bukit.
Menjadikan angin sebagai sarapan dan sisi jalan sebagai alas tidurnya.
Perjalanannya yang penuh bahaya, namun tekad si Bhiksu papa tidak luntur. Ia
tetap
yakin, dengan bekal ketegaran jiwa dan semangat yang membara niscaya
akan
tercapai tujuannya. Setahun kemudian, berakhirlah sebuah perjalanan yang
penuh
penderitaan itu.
Setelah selesai mendalami ilmu, kini sampailah
saatnya dia kembali ke kampung
halamannya. Di sana dia menjumpai kembali
si Bhiksu elite. Dengan penuh ketulusan
dihadiahkannya sebuah kitab suci
tersebut untuk Bhiksu elite. Hati Bhiksu
elite begitu tersentuh, tapi juga disertai rasa penyesalan.
Penjelasan :
"Yakin akan hukum kebenaran merupakan induk dari semua
jasa pahala. Dapat
memupuknya dengan mantap merupakan sumber akar kebajikan".
Demikianlah
keyakinan membentuk akar kebajikan hingga membawa kesuksesan.
Pentingnya
keyakinan itu laksana akar dari sebatang pohon.
Sama halnya pula apa
yang kita lakukan harus dilandasi dengan sebuah
keyakinan, kalau sudah
demikian apa yang akan dilakukan akan mendatangkan hasil
cemerlang.
Tanpa
keyakinan, kekuatan apapun tak akan membawa hasil.