Buddha Di Dalam Jiwa
(Oleh: herianto lim,
submit: 19 April 2001 )
Sastrawan sekaligus Penyair
yang amat terkenal di zaman Dinasti Song, Shu Tong Phuo bersama dengan Master
Zen, Fuo Yin dari biara Cin San, sering berdiskusi tentang
Buddha-Dharma, Sutra, Sastra
dan Ajaran Zen.
Suatu hari, ketika mereka berdua sedang bermeditasi, bertanyalah
Shu Tong Phuo kepada Fuo Yin, "Master, sikap duduk saya ini seperti
apa ?"
"Amat Wibawa dan Indah seperti Arca Buddha !" sahut Fuo Yin.
Mendengar
itu, Shu Tong Phuo amat senang dan kini Fuo Yin balik bertanya, "Lalu bagaimana
pula sikap dudukku ini"?
"Seperti sebongkah kotoran lembu !" jawab Shu
Tong Phuo.
Master Zen amat bergembira mendengarnya. Melihat Sang Master
Zen tersenyum, Shu Tong Phuo juga ikut bergembira.
Adik Perempuan Shu Tong
Phuo yang bernama Shu Siau Mei yang sangat cerdas dan tangkas, begitu melihat
kejadian di atas, ia berkata kepada abangnya : "Kak, yang malu itu kamu. Sungguh
memalukan! ".
Shu Tong Phuo tak mengerti.
"Master Zen berjiwa Buddha, maka
melihatmu indah seperti Arca Buddha. Sebaliknya Jiwamu masih gelap seperti
kotoran lembu, maka ketika melihat Master, kamu mengatakannya seperti kotoran
lembu! ", tegas Adiknya.
Shu Tong Phuo diam tak berkata dan menganggap adiknya
lebih Bijaksana.
Penjelasan:
Patriat ke enam bersabda : "Buddha-Dharma
eksis di tengah Saha-loka, untuk menginsafinya jangan meninggalkan kenyataan
dunia. Jika meninggalkan kenyataan hidup untuk menemukan Bodhi, sama halnya
seperti mencari tanduk Kelinci".
Dalam Kitab Tengah Harmonis tertulis: "Hukum Kebenaran tidak terlepas dari manusia. Manusia yang meninggalkan
manusia lainnya demi mencari Kebenaran, maka selamanya ia tidak akan menginsafi
Hukum Kebenaran".
Manusia awam terus mencari Buddha diluar dirinya. Itu
karena Mereka buta akan Buddha Sejati di dalam Jiwa. Maka menghabiskan Energi
dalam seumur hidup tetap tidak akan menemukan Kesadaran Buddha itu.
— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta
Thien Cun —