Argumen 3 Profesor
(Oleh:
herianto lim,
submit: 13 May 2001 )
Benarkah di dunia ini terdapat malaikat dan Setan ? Demikianlah sebuah
pertanyaan
yang telah menjadi materi pembahasan bagi para ahli.
Diatas mimbar, untuk
yang pertama kali, berbicara seorang Profesor di bidang Astronomi. Dia tidak
mempercayai adanya Malaikat, suaranya terdengar lantang, "Saya telah menggunakan
teleskop untuk menyelidiki kehidupan di jagat raya ini selama 20 tahun
lebih, namun
tak pernah sekalipun saya menyaksikan adanya Malaikat. Kesimpulan saya, Malaikat
itu tidak ada sama sekali".
Para hadirin tampak begitu terpukau hingga mereka
bertepuk tangan.
Profesor kedua, seorang ahli kedokteran di bidang pembedahan, memberikan
penjelasan tentang tidak adanya Roh pada diri manusia. Dengan penuh kepercayaan
diri, dia berkata : "Saya telah membedah ratusan manusia dan meneliti setiap
organ tubuh manusia , namun saya tidak menemukan Roh, baik di jantung, otak
ataupun pembuluh darah. Kesimpulan saya, Roh itu tidak ada sama sekali".
Kembali
Para hadirin memberikan tepuk tangan yang meriah.
Lalu Profesor ketiga,seorang
ahli hukum moralitas mengafirmasikan bahwa kematian itu tak ubahnya seperti
padamnya sebuah api. Sekali padam, maka segalanya berakhir. Omong kosong
keberadaan
Surga dan Neraka. Lebih-lebih tidak ada apa yang dinamakan Hidup Abadi
itu. Dalam
karangan ilmiah yang di tulis sejak dulu hingga sekarang tidak mencantumkan
pernyataan tersebut.
Profesor ini juga mendapat sambutan dari para hadirin.
Ketiga Profesor tersebut telah memberikan argumen dan pernyataan ilmiah
mereka yang dapat diterima secara logika tanpa ada kekurangan dan tanpa
ada yang memberikan sanggahan.
Setelah menunggu sejenak tiba-tiba seorang
nenek tua naik ke atas mimbar lalu bertanya kepada Profesor pertama, "Anda
telah menggunakan teleskop lebih 20 tahun, pernahkah terlihat oleh anda
keberadaan
angin ? Bagaimana wujudnya ?".
"Bagaimana mungkin angin dapat terlihat melalui
teleskop", tangkis Profesor pertama.
"Dapat atau tidaknya angin di tangkap
oleh teleskop, keberadaannya tidak dapat kita bantah. Demikian pula halnya
dengan Malaikat yang tidak tampak oleh mata".
Si Profesor pun terdiam, lalu
si nenek tua mengalihkan perhatiannya kepada Profesor ke dua, "Apakah anda
mencintai isteri anda ?"
"Tentu saya mencintainya".
"Kalau demikian pinjamkan
saya pisau untuk membedah dadamu sekedar untuk menemukan dimana letak "CINTA"
itu. Di hati, lambung atau di usus anda ?"
Seusai nenek tua itu menyanggah
pernyataan ketiga Profesor, para hadirin tampak bergembira hingga keraguan
mereka terhadap Malaikat dan Setan pupus seketika.
Penjelasan :
Melihat
namun tak melihat, Mendengar namun tak terdengar, Meraba namun tak meraba, itulah
namanya kegaiban.
Sesungguhnya keberadaan Tuhan dan Para Buddha tidak dapat
terlihat oleh mata, demikian pula dengan Malaikat dan Setan serta Roh sendiri
juga. Segala peralatan jaman modern yang diciptakan, tidak dapat
membuktikannya
secara nyata. Penglihatan dan pendengaran manusia ada batasnya, lebih-lebih
tidak dapat mengetahui prihal "sesudah kematian".
Dalam sebuah kitab berbunyi
:
"Katak di sumur tidak mengenal luasnya air di samudera, suara serangga
di musim panas tidaklah sebanding dengan suara di musim dingin. Demikian
pula seorang penyanyi manalah dapat disamakan dengan seorang pembabar
kebenaran. Semuanya
memiliki keahlian masing-masing".