Akar Pembinaan
(Oleh:
herianto lim, submit: 24 March 2001
)
Dikisahkan bahwa Alam merasa tidak
begitu puas melihat pribadi si
Rumput. Alam melihat beberapa bawahannya seperti Laut, mampu mengeluarkan
suara-suara riak air dan gelombang. Gunung mampu menghadirkan pemandangan yang
indah dan udara yang sejuk. Lalu Hutan mampu menumbuhkan beraneka macam pohon
dan tanaman buah-buahan yang besar dan ranum. Hanya Rumput saja yang tumbuh memakan
tempat yang luas, namun tidak ada sedikitpun kegunaan yang bisa
ditunjukannya. Oleh
sebab itu, Alam bermaksud untuk memusnahkan si Rumput.
Pertama-tama Alam mengutus seorang
pemusnah yang bernama Angin untuk
melakukan tugasnya. Saat datangnya musim gugur, Angin mulai berhembus untuk
merontokkan semua benda, terutama daun-daunan. Melihat angin bertiup semakin
kencang, Rumput
pun mulai gelisah. Lalu mereka menyatukan semua kekuatan diakarnya supaya
tetap menancap kuat didalam tanah. Angin musim gugur semakin kencang bertiup
hingga merontokkan semua daun-daunan, namun Rumput-rumput yang walaupun ikut bertiup
kesana kemari tetap tidak bisa tercabut dari dalam tanah. Penasaran
dibuatnya, Angin
mulai murka dan ingin secepatnya mencabut si Rumput sampai ke akar-akarnya. Akan
tetapi, walaupun seluruh tenaga yang dikerahkan, sampai semua pepohonan besar
dan rumah-rumah rata dengan tanah, Rumput yang kecil tetap tak terlepas dari
tempatnya. Mau
tak mau, akhirnya angin harus kembali dengan membawa kelelahan dan kegagalan.
Berikutnya alam mengutus tim
prajurit pemusnah kedua yaitu jenderal
Shuang beserta pasukan embunnya. Penyerangan besar-besaran di mulai lagi dengan
diawali gemuruh suara yang menakutkan. Semua binatang di daerah sekitarnya
lari menyembunyikan diri di sarang masing-masing. Di pagi buta itu, Matahari belum
terbit, saat itu juga tentara jenderal Shuang terjun dari langit hingga
mengenai
tubuh si Rumput. Semua Rumput menyatukan tubuhnya sampai mengeluarkan hawa
panas dan Shuang yang jatuh ketubuhnya berubah menjadi air embun. Tetapi
lama-kelaman, tenaga
yang dikeluarkan Rumput telah banyak dan akhirnya ia juga tak kuat lagi
bertahan. Tubuhnya sangat lemah dan menguning. Akan tetapi, meskipun tenaganya
telah habis, Rumput masih berusaha untuk tidak akan melepaskan cengkramannya
di dalam tanah. Dan untuk kesekian kalinya Rumput berhasil memaksa jenderal
Shuang beserta pasukannya mundur.
Alam bertambah marah, terakhir
diutuslah tim pembunuh nomor wahid
yang paling ditakuti semua makhluk yaitu "Salju" untuk memusnahkan Rumput
. Yang mendapat berita ini pertama kali adalah Burung beserta sejumlah besar
teman2nya, mereka memutuskan untuk menghindari penyerangan ini, terbang migrasi
ke arah selatan. Ikan-ikan pun membuat pembatas kaca di permukaan laut, lalu
semuanya
berenang terus ke lautan yang lebih dalam. Lalu salah seekor binatang berkaki
empat berlari ke seluruh penjuru menyebarkan berita ini. Dan semua jenis
binatang kemudian menutupi sarangnya, hanya menyisakan satu lubang kecil
untuk keluar masuknya udara. Sementara pepohonan di hutan juga memutuskan
untuk sementara waktu menyembunyikan daun-daunnya yang hijau dan segar, dan hanya
menyisakan dahan pohon tanpa daun.
Tiba pada suatu malam yang
sunyi dan dingin, diawali oleh desiran
angin lalu ribuan kepingan salju berjatuhan dari langit langsung menimpa
rumput yang tak memiliki tempat berteduh. Dibawah jatuhan kepingan salju
yang dingin menggigit, Rumput masih tetap berusaha menyatukan tenaga dengan
napas yang semakin lemah. Dan akhirnya dia bahkan tak mampu lagi mengangkat
kepalanya hingga rumput-rumput membeku. Yang terlihat sekarang tinggallah salju putih
yang menutupi rumput.
Rumput telah musnah, binatang-binatang
di sekitarnya turut sedih melihat
akibat peperangan yang menyedihkan itu. Dilain pihak, Alam merasa puas dan
gembira menyambut kemenangan perang. Diatas daratan, hanya terlihat pohon
cemara yang tetap berdiri kokoh ditengah salju dengan daunnya yang hijau
memberikan penghormatan terakhir kepada Rumput. Bunga melati pun
mempersembahkan
karangan bunga putih kepadanya sebagai tanda turut bersedih.
Tidak lama setelah kejadian
itu, Matahari perlahan-lahan terbit memancarkan
sinarnya yang perkasa ke seluruh penjuru. Salju jadi terkejut, melihat tubuhnya
perlahan-lahan meleleh menjadi air. Semua ini pertanda musim semi telah tiba. Rumput
rupanya tidak mati, walaupun tubuhnya telah layu, namun akarnya masih tetap
hidup di bawah tanah. Tibanya musim semi, mereka menumbuhkan kembali
tunas-tunas
baru dan menghijaukan seluruh bukit. Mereka bergembira menari-nari seperti
gelombang
ombak di daratan. Walaupun tubuh mereka kecil, tetapi mereka adalah sekelompok
pahlawan yang pantang menyerah.