Home
Back
Info Dharma
Galleria

SADHARMA PUNDARIKA SUTRA VARGA
Bagian II

Akshayamati Bodhisattva berkata kepada Buddha : " O Lokanantha ! Aku sekarang memberikan persembahan kepada Avalokiteshvara Bodhisattva. Kemudian Ia menanggalkan seuntai kalung mutiara yang bernilai ratusan ribu tail emas dan mempersembahkannya. Serta mengucapkan : Paduka Yang Berbudi. Terimalah persembahan dana suci kalung mutiara. Tetapi Avalokiteshvara Bodhisatva tidak menerimanya" Bodhisattva Akshayamati berkata lagi kepada Avalokiteshvara Bodhisattva : "O, Paduka Yang Berbudi. Kasihanilah hamba terimalah kalung mutiara ini." Pada waktu itu Buddha bersabda kepada Avalokiteshvara Bodhisatva: “Kasihanilah Bodhisattva Akshayamati dan keempat kelompok makhluk Dewa, Naga, Yaksa, Gandharva, Asura, Garuda, Kinnara, Mahoraga, manusia dan makhluk bukan manusia dan yang lainnya, terimalah kalung itu.”

Kemudian Avalokiteshvara Bodhisattva, demi maitrinya kepada keempat kelompok serta demi para Dewa, Naga, Manusia dan makhluk menerima kalung itu. Lalu dibagi dua. Yang sebagian dipersembahkan kepada Sakyamuni Buddha. Yang sebagian lagi dipersembahkan kepada Stupa Permata dari Buddha Prabhuta Ratna. "Wahai Akshayamati! Demikianlah Avalokiteshvara Bodhisattva memiliki Vikurvanabala yang begitu luhur, selalu mengelilingi Dunia Saha ini."

Kemudian Akshayamati bertanya lagi dengan syair-syair sebagai berikut :

  1. “O, Lokhanantha! Dengan tanda-tanda ajaib yang demikian sempurna. Kubertanya lagi tentang Beliau. Mengapa Putra Buddha ini dinamakan ‘ Avalokiteshvara’?”

  2. Taktala itu Buddha yang penuh tanda-tanda ajaib Sempurna, menjawab pertanyaan Akshayamati. “Dengarkanlah jasa yang dihasilkan Avalokiteshvara. Beliau dapat mensukseskan pekerjaan di pelbagai alam semesta.

  3. Prasetyanya yang demikian agung bagaikan Samudera. Berkalpa-kalpa sulit diperkirakan, Beliau pernah memuliakan ribuan koti para Buddha dengan ikrar yang maha suci.

  4. Aku mengkisahkan kepadamu secara singkat. Dan kini anda bukan mendengar namaNya saja bahkan sudah melihat diriNya. Bertekadlah untuk merenungkan Dia tanpa henti. Akan melenyapkan segala Dukkha dari Dunia.

  5. Diumpamakan seseorang dengan niat jahat, melemparkan temannya ke dalam lubang api yang menyala. Ia merenung akan daya gaib Avalokiteshvara. Lubang api akan menjadi kolam.

  6. Ataupun hanyut di sepanjang Samudera. Di ancam bahaya ikan buas, naga ganas, dan para setan. Ia merenung akan daya gaib Avalokiteshvara, gelombang tidak akan dapat menenggelamkannya.

  7. Ataupun berada di puncak Semeru, di dorong jatuh penjahat. Ia merenung akan daya gaib Avalokiteshvara. Bagaikan matahari, ia akan berdiri kokoh di angkasa.

  8. Ataupun dikejar-kejar orang jahat. Terjatuh dari atas Gunung Permata. Ia merenung akan daya gaib Avalokiteshvara tidak akan cedera seujung rambutpun.

  9. Ataupun dikepung segerombolan musuh. Masing-masing menyerang dengan pedang terhunus. Ia merenung akan daya gaib Avalokiteshvara. Rasa kasihan akan timbul seketika.

  10. Atau menderita karena hukuman Raja. Hukuman mati menimpanya, ia merenung akan daya gaib Avalokiteshvara. Pedang algojo patah berkeping-keping.

  11. Ataupun ditahan di penjara, kaki dan tangan terbelenggu. Ia merenung akan daya gaib Avalokiteshvara, maka ia akan terbebas dengan selamat.

  12. Ataupun dengan guna-guna dan racun. Bermaksud hendak merusak jiwanya, ia merenung akan daya gaib Avalokiteshvara, kejahatan itu akan berbalik kepada yang berbuat.

  13. Ataupun dikepung raksasa. Naga ganas dan setan jahat lainnya, ia merenung akan daya gaib Avalokiteshvara. Maka mereka tak akan sanggup menyakiti.

  14. Andaikata dikepung oleh binatang buas. Dengan gigi dan cakar yang tajam, ia merenung akan daya gaib Avalokiteshvara, mereka akan lari tunggang langgang.

  15. Jika bertemu ular ganas dan kalajengking berbisa memancarkan nafas berbisa bagai asap api yang sedang menyala, ia merenung akan daya gaib Avalokiteshvara. Mendengar suara itu mereka akan mundur seketika.

  16. Petir menyambar dari awan dan guntur yang dashyat, hujan dengan curahan butiran es, ia merenung akan daya gaib Avalokiteshvara. Mendengar suara itu mereka akan mundur seketika.

  17. Para makhluk sedang mengalami berbagai malapetaka kesusahan dan kesedihan yang tiada tara, dengan kebijaksanaan yang sempurna dari Avalokiteshvara dapat mengatasi segala penderitaan alam semesta.

  18. Vikurvanabalanya telah sempurna, yang memiliki kebijaksanaan luhur tak terhingga. Di dalam 10 penjuru negeri, tak ada satu tempatpun Beliau tidak menempatkan diriNya.

  19. Berbagai tingkat alam rendah, alam Neraka, alam Setan dan alam Binatang, Dukkha akan kelahiran, tua, sakit, kematian, setingkat demi setingkat dapat diakhirinya.

  20. Beliau memiliki Pandangan Benar, Suci nan Sempurna. Demikian pula kebijaksanaan yang luas. Penuh Maitri Karuna. Sepantasnyalah menghormat dengan jujur dan iklas.

  21. Beliau memiliki sinar hidup tiada ternoda. Bagaikan matahari dan melenyapkan kegelapan, Dapat memusnahkan bencana api dan badai ganas. Sinarnya senantiasa memancar ke seluruh alam.

  22. Maitri dapat mencegah gelegar guntur. Karuna selembut gumpalan awan. Kepada umatnya selalu mencurahkan hujan Dhamma tanpa akhirnya (Amrta). Dapat mengakhiri segala kegelisahan dunia fana.

  23. Sengketa dengan pemerintah. Merasa kecewa dalam pertempuran. Ia merenung akan daya gaib Avalokiteshvara. Musuh-musuh dapat diatasinya.

  24. O, betapa indahnya suara Avalokiteshvara. Suara Brahma, suara deburan pasang samudra melampaui segala suara alam semesta. Oleh karena itu, renungkanlah sepenuh hati untuk selama-lamanya.

  25. Janganlah ragu di dalam hati. Avalokiteshvara, Maha Suci dan Sempurna. Bila terdapat kegelisahan –kegelisahan tentang Tumuimbal Lahir. Dengan meyakini Sutra-Nya, dapat membebaskan diri.

  26. Demikianlah pahala sempurna yang dihasilkan dengan pandangan. Karena Ia mengamati para makhluk. Amal jasa-Nya tak terbatas laksana Samudra. Muliakanlah Dia dengan sepenuh hati."

Setelah itu Bodhisattva Dharanaidhara bangkit dari tempat duduknya. Pergi menghadapi Buddha sambil berkata : "O, Lokanantha! Bila ada makhluk hidup mendengar Varga tentang hasil kerja yang demikian sempurna dari Avalokiteshvara Bodhisattva dan mengerti kekuatan mujijat penjelmaannya, maka tidaklah kecil akar kebajikan yang dimilikinya."

Pada saat Buddha menguraikan Saddhama Pundarika Varga, 84.000 makhluk dari persamuan itu bertekad mencapai 'Anuttara Samyak Sambodhi'

Sadharma Pundarika Sutra Varga, Yang Maha Sempurna Avalokiteshvara Bodhisattva.

— Namo Uci Yauw Ce Cin Mu Ta Thien Cun —

 


  Dharma Center 'BUNDA MULIA' 
Jakarta, INDONESIA

  Vihara 'Yauw Ce Cin-Mu'  
Hua Lien, TAIWAN.

Copyright © 2001 Yayasan Dharma Mulia Persada Indonesia. All rights reserved.